PUASA DAN ELIMINASI NAFSU DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS (28) Setiap tindakan terror pastilah akan meninggalkan trauma, yang di dalam konsepsi sosiologis disebut sebagai trauma social, yaitu perasaan umum yang dirasakan oleh sebuah komunitas berdasar atas pengalaman yang tidak mengenakkan. Misalnya terjadinya pengeboman yang tentu meninggalkan bekas trauma di kalangan masyarakat yang terkena dampak langsung. Trauma bukan […]
PUASA DAN ELIMINASI NAFSU DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS (27) Kita sungguh tidak bisa memahami bagaimana di bulan puasa, 1437 Hijriyah, yang disucikan oleh seluruh umat Islam di dunia ini justru terjadi banyak pengeboman yang dilakukan oleh sekelompok orang yang “mengaku” sebagai penegak agama. Pengeboman dilakukan di dekat Masjidil Haram di Madinah, di Malaysia dan juga di […]
PUASA DAN TAWAKAL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS (26) Puasa sebagaimana kita pahami bukan hanya sebagai sarana untuk mencegah hawa nafsu badaniyah saja, akan tetapi juga untuk mencegah seluruh nafsu jahat yang berada di dalam diri manusia. Puasa yang benar tentu mengandung harapan agar ibadah yang dilakukannya tersebut bermakna untuk memperoleh keridloan Allah. Bukan sekedar ingin memperoleh […]
PUASA DAN TAWAKKAL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS (25) Kata tawakkal berasal dari akar kata wakala, yang artinya menyerahkan, mempercayai, atau mewakilkan atau bersandar. Kata tawakal berasal dari Bahasa Arab yang kemudian telah diindonesiakan dengan pengertian menyerahkan atau memasrahkan hanya kepada Allah atas semua urusan yang kita miliki. Kata tawakkal merupakan kata yang sering dibicarakan dalam kaitanya […]
PUASA DAN TAQWA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGIS (24) Di dalam penjelasan sosiologis bahwa takwa atau kepatuhan dan kepasrahan adalah ujung akhir dari dari serangkaian kesadaran diri akan betapa ada Zat yang sangat Maha Kuasa, yang menjadi pemilik dan Tuhan seru sekalian alam. Sosiologi transcendental menggambarkan bahwa keyakinan, kepercayaan, kepatuhan dan kepasrahan kepada Dzat yang Maha Kuasa […]