• October 2026
    M T W T F S S
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

ETIKA MINUM (111)

ETIKA MINUM (111)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir rahim.

Sebagai agama yang sempurna, Islam juga mengajarkan tentang tata cara untuk minum. Ternyata ada etikanya. Ada aturan berbasis pada tindakan Nabi SAW dalam minum. Jadi tidak hanya makan yang diatur, akan tetapi juga minum. Sungguh tata cara minum yang sebenarnya adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Mungkin di antara kita ada yang menyatakan: “minum saja diatur, biarkanlah seseorang minum sesuai dengan tradisinya sendiri”.

Di dalam tradisi Barat, makan dan minum biasa menggunakan tangan kiri. Itulah tradisinya. Tangan kanan memegang pisau makan atau garpu, sementara itu tangan kirinya memegang sendok. Maka makannya dengan menggunakan tangan kiri. Itulah tradisinya. Di China, Jepang, Korea Selatan dan sebagainya juga terdapat tata cara makan yang berbeda. Termasuk jenis-jenis makanannya. Bahkan di China terdapat jenis makanan ekstrim, misalnya makanan yang terbuat dari daging ular kobra, kala jengking, kelelawar, bahkan tikus hutan. Disajikan dengan berbagai jenis makanan dan menjadi makanan yang istimewa. Islam memberikan panduan atas mana makanan-makanan yang diperbolehkan dan mana yang dilarang, mana minuman yang bisa diminum dan mana minuman yang dilarang.

Pada Bab 111, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang adab minum dalam judul yang sangat panjang, yaitu: “Adab Minum, Dianjurkan Bernafas Tiga Kali Di Luar Bejana, Larangan Nafas Di Dalam Bejana, Dan Anjuran Mengedarkan Bejana Kepada Orang Di Sebelah Kanan Lalu Yang Kanan Berikutnya Setelah Orang Yang Memulai”. Oleh karena itu di dalam tulisan ini, maka saya ringkas menjadi “Etika Minum”.

Hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Anas RA., bahwa Rasulullah SAW biasa bernafas tiga kali ketika minum”. Hadits Riwayat Bukhari Muslim. Dari Ibnu Abbas RA., ia berkata Rasulullah SAW bersabda: “janganlah kalian minum sekali teguk seperti minumnya unta. Tetapi minumlah dua atau tiga kali (bernafas). Sebutlah nama Allah ketika kalian hendak minum, dan pujian kepada Allah ketika selesai”. Hadits Riwayat Imam At Tirmidzi.

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah RA., bahwa Nabi SAW melarang bernafas di dalam bejana (ketika minum).” Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim. Hadits diriwayatkan oleh Anas RA., bahwa Rasulullah SAW didatangkan susu yang telah dicampur dengan air, dan di sebelah kanannya ada seorang Arab Badui, dan sebelah kirinya ada Abu Bakar RA., maka Beliaupun minum, kemudian memberikan (sisanya) kepada orang Badui itu, dan bersabda “(Kenapa) yang di kanan, lalu yang di kanan berikutnya”. Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim. Hadits dari Sahl bin Sa’ad RA., bahwa Rasulullah SAW didatangkan minuman, lalu beliau meminumnya. Di sebelah kanannya ada seorang anak laki-laki, dan di sebelah kirinya ada beberapa orang tua. Maka beliau berkata kepada anak itu: “apakah engkau mengizinkan aku untuk memberikannya kepada mereka (yang di sebelah kiri), anak itu menjawab: “tidak, demi Allah tidak akan mengutamakan siapapun atas bagianku darimu”. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

Dari berbagai penjelasan di atas, kiranya dapat dianalisis atas tiga hal, yaitu:

Pertama, persoalan minum  ternyata bukan persoalan yang sederhana. Makan dan minum  tidak hanya melulu persoalan badaniyah tetapi juga jiwaniyah. Ada urusan raga dan jiwa. Urusan raga atau jasad adalah untuk kesehatan fisik, sedangkan urusan jiwa adalah makanan akan dapat menghasilkan kesehatan jiwa. Kesehatan fisik ditandai dengan tubuh yang sehat terlepas dari gangguan penyakit, sedangkan kesehatan jiwa ditandai dengan berfungsinya nafsul muthmainnah, dengan indikator beriman dan beramal shalih. Di dalam jiwanya terdapat iman yang menghunjam ke dalamnya, di dalamnya tubuhnya terdapat sarat-saraf yang mendukung untuk berbuat baik atau beramal shaleh. Harus dipahami bahwa manusia memiliki tiga unsur, yaitu:  unsur jasmani, unsur rohani dan unsur jiwa.

Kedua, dalam hal makan dan minum, Nabi SAW memberikan contoh yang kongkrit. Misalnya harus mengambil nafas di luar bejana atau wadah minum. Minum dengan tiga tegukan atau tidak sekaligus agar berbeda dengan unta. Memberikan makanan yang masih ada ke sebelah kanannya dan seterusnya. Jangan berikan makanan atau minuman ke sebelah kiri. Nabi SAW juga meminta kepada umatnya untuk  bersikap fairness. Tidak membedakan apakah itu pembesar atau bukan. Di dalam peristiwa Nabi SAW mendapatkan makanan dan minuman, sementara di sebelah kananya ada rakyat jelata (Badui) dan sebelah kirinya ada pembesar (Abu Bakar) maka makanan tetap diberikan ke sebelah kirinya. Bahkan di kala ada minuman, yang Nabi SAW menginginkan diberikan kepada orang tua di sebelah kirinya, dan anak itu menolak memberikan kepadanya, maka Nabi SAW tetap memberikan kepada Si Anak kecil dan bukan kepada orang tua.

Ketiga,  akhlak Rasululllah SAW merupakan akhlak yang sangat mulia. Diturunkannya seorang Nabi untuk membangun makarimal akhlak. Akhlak yang sempurna. Akhlak sempurna tidak akan hadir tanpa contoh bagaimana makarimal akhlak tersebut dilakukan. Dan Nabi SAW adalah contoh orang dengan akhlak tertinggi kemuliannya. Nabi SAW merupakan teladan bagi orang lain. Rasul SAW adalah uswah hasanah. Jika kita ingin merasakan dan menghayati sifat rahman dan rahim Allah SWT, maka lihatlah representasinya melalui keteladanan Rasulullah SAW.

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Michell Hart, bahwa dari sebanyak 100 orang, maka Nabi Muhammad SAW ditempatkan pada level tertinggi, nomor satu. Hal ini menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki pengaruh yang sangat besar di dalam kehidupan manusia. Tidak hanya contoh kepemimpinan, contoh wirausahawan, contoh prilaku terpuji, contoh prilaku kasih sayang dan prilaku kenegarawanan akan tetapi juga contoh dalam hidup sehari-hari, termasuk contoh dalam makan dan minum.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..