DOA DAN AMALAN ORANG MAKAN TETAPI TIDAK KENYANG (106)
DOA DAN AMALAN ORANG MAKAN TETAPI TIDAK KENYANG (106)
Prof. Dr. Nur Syam, MSI
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Makan tetapi tidak kenyang. Ada dua penyebab yaitu memang bersengaja makan tetapi tidak ingin kenyang. Nabi Muhammad SAW pernah menjelaskan agar kalau makan jangan kekenyangan. Berhentilah jika perut terasa sudah penuh. Lalu, memang bahan makanannya memang kurang, sehingga menjadi kurang atau bahkan tidak kenyang. Penyebab pertama bisa jadi karena sedang diet, sehingga mengurangi porsi makanan, atau sengaja memilih makanan yang diperbolehkan bagi orang yang diet. Misalnya No karbohidrat dan hanya protein. Ada sebuah pola diet yang mengharuskan makan protein saja, misalnya telur, daging dan ikan. Segala yang berkabohidrat dilarang. Semua yang diproduksi oleh bumi dianggap tidak tepat bagi diet model ini.
Bagi yang memang kurang kenyang atau tidak kenyang, bisa jadi memang orang yang kapasitas makannya banyak, sehingga di kala makan bareng-bareng akan terasa kurang makanannya. Bagi yang seperti ini, maka makan banyak memang telah menjadi tradisi yang selama ini dilakukannya. Karena kebiasaan tersebut, maka dia akan merasa kurang di dalam makan yang melibatkan banyak orang. Ada seseorang diundang oleh sahabat, tetangga atau pimpinan kemudian memang bersengaja untuk mengosongkan perutnya agar bisa makan dalam jumlah banyak. Akan tetapi ada juga orang yang sebelum datang ke jamuan makan justru sudah makan apa adanya dulu, sehingga ketika di ruang jamuan makan sudah bisa mengukur seberapa makanan yang akan dimasukkan di dalam perutnya. Saya lebih memilih pola yang kedua. Jadi jika berada di ruang jamuan makan, maka tidak mengharuskan makan sebanyak-banyaknya.
Bagi saya ada etika makan di dalam jamuan makan, yaitu agar tidak makan dengan sekenyang-kenyangnya. Ukurlah batas etika yang berlaku di dalam jamuan makan bersama.
Etika makan itu tidak hanya dengan tangan kanan dan membaca basmalah, tetapi juga kuantitas makan yang dapat dilakukan. Terkadang rasanya malu, jika ada orang yang makan di dalam jamuan makan yang nyaris piringnya tertutup oleh bahan makanan. Akan tetapi juga kuantitas makan dan memakan makanan yang terdekat dengan tempat duduk. Semua ini adalah ajaran Nabi Muhammad SAW dan sudah dicontohkan oleh-Nya.
Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama di dalam kehidupan. Jika Nabi SAW memerintahkan agar makan dengan cara tertentu hendaklah bisa dilakukan. Mungkin yang perlu dipahami adalah makan dengan tiga jari. Bagi Nabi SAW itu makan dengan tiga jari, sebab yang dimakan adalah kurma atau roti dari gandum. Dipastikan bisa dilakukan. Akan tetapi bagi orang Indonesia yang makan beras yang memerlukan sendok dan garpu atau lima jari sekaligus tentu bisa menjadi perkecualian. Perbedaan antara teks di dalam hadits Nabi SAW dengan konteks masyarakat tentu bisa dipahami. Tetapi andaikan melakukan seperti teks Hadits juga tentu lebih utama.
Syekh Imam An Nawawi menukil hadits yang diriwayatkan oleh Wahsyiy bin Harb RA bahwa sahabat-sahabat Rasulullah SAW berkata, “Wahai Rasulullah, kami makan tetapi tidak merasa kenyang”. Beliau bersabda: “Mungkin kalian berpisah-pisah ketika makan”. Mereka menjawab, “ya”. Beliau bersabda: “berkumpullah pada makanan kalian dan sebutlah nama Allah, pasti Allah akan memberkahi kalian pada makanan tersebut”. Hadits Riwayat Abu Daud.
Dari penjelasan sosiologis dan hadits Nabi Muhammad SAW tersebut, maka dipahami di dalam tiga hal, yaitu:
Pertama, Islam sebagai agama rahmatan lil alamin memastikan ada konsep berkah yang bisa menjadi kenyataan. Di dalam peristiwa Perang Khandak, di kala umat Islam menggali parit, maka Nabi SAW memastikan bahwa makanan yang disediakan hanya untuk empat atau lima orang, ternyata cukup untuk jamaah umat Islam yang menggali parit pada jumlahnya yang mencapai ratusan orang. Bahkan ada riwayat yang menyatakan 1000 orang. Subhanallah. Ini memberikan bukti bahwa ada keberkahan di dalam makanan. Ada tentu yang menyatakan: “wajar Nabi SAW yang memiliki mu’jizat”, lalu bagaimana dengan manusia biasa dan bukan Nabi”. Jawabannya berkah itu ada pada semua orang yang mencontoh prilaku Nabi SAW dalam aktivitas makan.
Kedua, Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud memberikan gambaran bahwa makan bersama dalam kelompok yang sama dan bukan terpisah-pisah dan dilakukan dengan membaca Basmalah, maka potensi untuk kenyang bersama menjadi sangat mungkin. Artinya bahwa ketercukupan makanan tersebut bisa terjadi karena keberkahan makanan atas izin Allah SWT. Doa yang bisa dibaca adalah “Allahumma bariklana fi ma razaqtana”. Yang artinya: “Ya Allah berkahi apa yang Engkau Rejekikan kepada kami”. Sebagaimana doa yang sering saya baca: “Allahumma bariklana fi rizkina, Allahumma bariklana fi ‘ilmina, Allahumma bariklana fi umrina dan Allahumma bariklana di hayatina”. Yang artinya: “Ya Allah berkahi rejeki kami, berkahi ilmu kami, berkahi umur kami dan berkahi hidup kami”.
Ketiga, Nabi Muhammad SAW menganjurkan agar makan secara bersama dan berkumpul bersama di dalam acara jamuan makan. Dengan kebersamaan dalam makan, dan doa bersama di dalam makan, maka memungkinkan peluang turunnya berkah. Ketercukupan makan. Kita harus yakin bahwa berkah atau berlipat gandanya kebaikan, dipastikan ada. Kita harus meyakininya. Upayakan jangan ada keraguan di dalam batin. Pastikan hati kita khusnud dhan bahwa Allah SWT sebagai Dzat yang Maha Rahman dan Rahim akan menolong kita.
Sungguh Islam telah memberikan pedoman di dalam kehidupan sampai hal-hal yang terkecil. Urusan makan dan minum. Ini merupakan bukti kecintaan Rasulullah kepada umatnya, agar setiap tindakan yang dilakukan umatnya mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
Wallahu a’lam bi al shawab.
