JANGAN MENCELA MAKANAN (101)
JANGAN MENCELA MAKANAN (101)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Makanan dan minuman adalah asupan untuk fisik. Artinya, bahwa makanan sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk menjaga kekuatan tubuh yang memang membutuhkan asupan makanan, baik karbohidrat maupun protein dan mineral. Secara fisikal, manusia memiliki kebutuhan biologis yang perlu dipenuhi dengan makanan dan minuman.
Pemenuhan kebutuhan makanan dan minuman akan dapat menjadi persyaratan agar tubuh menjadi sehat. Tubuh butuh energi untuk kekuatan fisik, dan kekuatan fisik akan menjadi syarat bagi kesehatan jiwa. Jiwa yang sehat terletak pada badan yang sehat. Jiwa yang berkait dengan hati atau qalbun akan menjadi sehat jika badan atau fisiknya sehat.
Kebutuhan gizi atau nutrisi manusia cukup banyak. Sebanyak 2000 kalori untuk perempuan dan 2500 kalori untuk lelaki. Dari sebanyak itu, maka kebutuhan gizi makro meliputi karbohidrat, protein, dan lemak. Sedangkan untuk gizi mikro meliputi vitamin dan mineral. Sebagaimana porsinya, maka kebutuhan sayur dan buah sebaiknya 50 persen, sedangkan untuk karbohidrat dan protein sebaiknya 50 persen. Untuk mineral kebutuhannya adalah delapan gelas atau dua liter air.
Seseorang yang bisa memenuhi takaran makanan dan minuman ini, maka secara fisikal dinyatakan sehat. Tentu saja sehat fisik, sebab ada juga kesehatan jiwa atau kesehatan mental, yang terkait dengan bagaimana seseorang bisa memenej kesehatan jiwanya. Orang yang secara fisikal sehat belum tentu secara kejiwaan sehat. Dan sebaliknya. Makanya, Islam mengajarkan agar terdapat keseimbangan antara kesehatan fisik dan kejiwaan. Keduanya harus memenuhi kriteria sehat.
Islam mengajarkan agar seseorang menjadi sehat karena makanannya dan minumannya dalam keseimbangan. Sebagaimana Nabi SAW melakukannya, maka Nabi SAW sangat perhatian atas makanan dan minuman. Apa yang masuk di dalam tubuhnya, berupa makanan dan minuman adalah apa yang disukainya. Dan yang tidak kalah penting adalah kehalalannya. Bahkan juga thayyiban atau menyehatkan. Islam mengajarkan makanan dan minuman yang halalan thayyiban.
Ada makanan yang halal tetapi kurang thayyiban. Misalnya, daging kambing, daging sapi, es kopyor dengan gula, es krim manis, dan sebagainya yang secara hakiki merupakan makanan yang halal, tetapi kurang thayyiban bagi orang yang secara kesehatan tidak tepat memakannya. Di dalam bahasa sehari-hari disebut: “enak di mulut tidak enak di perut”. Atau “tidak enak di mulut, tetapi enak di perut”. Pernyataan ini terkait dengan ada makanan dan minuman yang halal tetapi tidak cocok untuk kesehatan.
Syekh Imam An Nawawi menjelaskan pada bab ke 101 tentang larangan mencela makanan dan memuji makanan yang sesuai dengan selera kita. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan. Jika Beliau menyukainya, Beliau memakannya. Dan jika Beliau tidak menyukainya, maka meninggalkannya”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘Alaih.
Hadits yang diriwayatkan Jabir RA., bahwa Nabi SAW meminta lauk pauk kepada keluarganya. Maka mereka menjawab: ‘kami hanya memiliki cuka’. Maka Beliaupun memintanya, lalu memakannya sambil bersabda: “sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka”. Hadits Riwayat Muslim.
Dari penjelasan sosiologis dan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW., maka dapat dipahami atas tiga hal, yaitu:
Pertama, Nabi Muhammad SAW adalah manusia teladan, artinya jika kita ingin menjadi manusia yang baik, maka contohnya adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah teladan bagi manusia di seluruh dunia. Alqur’an menjelaskan tentang gambaran Nabi Muhammad SAW sebagai teladan, yaitu sebagai manusia yang dapat menjadi percontohan bagi kehidupan yang utuh. Jika ingin mendapatkan teladan dalam sikap dan prilaku dalam relasi manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam, maka contohnya adalah Nabi Muhammad SAW. Benarlah Alqur’an yang menjelaskan bahwa pada diri Rasul terdapat teladan yang baik.
Allah selalu menurunkan rasul dan nabi-nabi agar manusia mendapatkan contoh yang baik di dalam kehidupan. Semua rasul dan nabi adalah teladan bagi manusia. Rasul dan nabi adalah role model kehidupan. Di dalam kehidupanya terdapat pattern for behaviour, yang dapat ditedani oleh manusia. Jika orang mampu meneladani separuh saja kehidupannya, maka tentu dapat menjadi orang yang bahagia fiddini wad dunya wal akhirah. Apalagi bisa meneladani sepertiga kehidupannya, maka akan luar biasa. Kita bisa mendapatkan orang yang luar biasa ilmunya, seperti Imam Ghazali, Dzinnun Al Mishri, Rabiah Al Adawiyah, dan sejumlah ahli tasawuf yang sungguh luar biasa. Mereka adalah teladan kehidupan pasca Rasulullah SAW.
Kedua, Islam itu agama yang menjelaskan secara mendalam tentang prilaku relasi diri dengan benda-benda dan juga relasi dengan manusia dan relasi Tuhan dan alam. Bahkan Islam mengajarkan bagaimana seharusnya kita bersikap dan berperilaku atas makanan yang ada di sekitar kita, rumah kita atau di rumah makan lainnya. Islam sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW menyatakan janganlah kita mencela makanan. Makanan itu rezekinya Allah SWT. Jika kita mencela makanan sama halnya dengan mencela rezeki yang diberikan Allah kepada kita. Jika kita suka makanlah dan jika tidak suka hindarilah. Begitulah ajaran Nabi Muhammad SAW. Manusia memang terkadang kurang bersyukur kepada Allah, dan salah satunya adalah dengan mencela makanan, baik yang sudah dimakan atau belum dimakan. Terkadang menyatakan tidak enak, tidak selera, tidak menggairahkan dan sebagainya. Oleh karena itu, lebih baik kita diam dari pada harus mencela makanan yang ada di dekat kita.
Ketiga, dewasa ini, seirama dengan kemajuan zaman, maka jumlah dan variasi makanan itu sangatlah banyak. Ada makanan yang berasal dari Eropa, dan Asia. Yang dari Asia misalnya makanan yang berasal dari Jepang, Korea Selatan dan China. Yang dari Amerika juga banyak. Bagi orang tua yang termasuk generasi baby boomer atau generasi X mungkin saja menjadi makanan yang asing. Tetapi bagi generasi Z tentu bisa menjadi makanan favorit. Kalau kita pergi ke mall dan masuk di kawasn foodcourt, maka betapa banyaknya jenis makanan yang disediakan. Sebagai orang Islam, maka yang penting adalah apakah makanan tersebut halal. Adakah simbol kehalalannya yang dikeluarkan oleh Badan Jaminan Produk Halal dan apakah rasanya sesuai dengan lidah kita.
Yang terpenting, jika makanan tersebut enak dan bisa memenuhi selera, maka kita bersyukur dengan mengucap alhamdulillah. Jika tidak memenuhi standart lidah dan perut kita, maka kewajiban kita adalah memakannya tanpa mencelanya, dan sambil mengingat bahwa makanan tersebut tidak cocok, sehingga kita tidak perlu kembali lagi untuk memakannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
