• August 2026
    M T W T F S S
    « Jul    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENGUCAPKAN BASMALAH DI AWAL  DAN ALHAMDULILLAH DI AKHIR (100)

MENGUCAPKAN BASMALAH DI AWAL  DAN ALHAMDULILLAH DI AKHIR (100)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Setiap tindakan yang baik apapun, seharusnya menyebut nama Allah SWT. Ucapan itu adalah Bismillahir rahmanir rahim, yang artinya secara harfiyah adalah “dengan menyebut asma Allah yang rahman dan rahim”. Semua tindakan dan prilaku yang diawali dengan menyebut asma Allah SWT, maka akan menjadi amalan shalihan. Yaitu amalan yang sesuai dengan ajaran agama Islam.

Jika kita mau bekerja kantoran, akan bekerja dalam sektor negeri atau swasta, atau pekerjaan lainnya yang terkait dengan keinginan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan perbuatan tersebut dimulai dengan ungkapan basmalah, maka pekerjaan tersebut akan menjadi ladang ibadah. Jika kita makan, minum dan memasukkan yang halal ke dalam tubuh  dengan ucapan basmalah, maka yang kita lakukan itu hakikatnya adalah ibadah. Jika kita mengajar, ceramah umum atau agama dan mendidik individu, komunitas atau masyarakat dan memulainya dengan ucapan basmalah, maka yang kita lakukan juga ibadah.

Jika kita jihad fi sabilillah dalam keadaan perang atau damai, maka asalkan  jihad tersebut dimulai dengan basmalah, maka jihad tersebut menjadi amalan ibadah kepada Allah. Tentu jihad dalam makna yang sesuai dengan keyakinan ahlu sunnah wal jamaah, yaitu jihad dengan perang dalam negeri sedang berperang atau harakah jihadiyah, dan jihad dalam damai yaitu bersungguh-sungguh dalam melakukan perubahan sosial akseleratif yang momot nilai agama. Semuanya  termasuk dalam konteks beribadah kepada Allah SWT.

Menyebut Allah itu memiliki dua dimensi, yaitu asma dan makna. Bagi penganut tasawuf jika menyebut Allah hanya dengan menyebut namanya atau asmanya saja, maka disebut kafirun. Yang diharapkan adalah menyebut asma dan maknanya sekaligus. Jika hanya menyebut nama-nama Allah sesuai dengan 99 nama itu, maka dianggap belum menjadi mukmin hakiki. Bisa dinyatakan sebagai mukmin hakiki jika tidak hanya menyebut asma Allah tetapi juga hakikat nama tersebut bagi Allah. Man abdal asma fahuwa kafirun. Man abadal asma wal ma’na fahuwa mu’minun haqiqiyun.

Sama dengan menyebut basmalah. Maka yang diharapkan adalah menyebut makna basmalah dan bukan hanya ucapan basmalah. Menyebut nama Allah yang hanya di bibir atau pernyataan saja bisa dianggap kurang oleh ahli tasawuf. Bagi mereka menyebut nama Allah itu dengan dhahir atau ucapan dan dengan batin atau hati. Keduanya saling menyatu atau dalam satu kesatuan. Lahir dan batin, sama-sama menyebut asma Allah. Lahirnya dengan ucapan dan batinnya dengan rasa-rinasa atau dengan kedalaman perasaan. Jika menyebut asma Allah di dalam memulai segala sesuatunya, maka kahadiran yang dhahir dan bathin itu sangat penting.

Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Amr bin Abi Salamah RA., berkata: “Rasulullah SAW bersabda kepadaku: “ucapkanlah bismilah dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah dari makanan yang ada di dekatmu”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih. Hadits dari Aisyah RA: “apabila seseorang dari engkau semua makan, maka hendaklah menyebutkan nama Allah ta’ala –yakni mengucapkan bismillah. Jikalau ia lupa menyebut nama Allah ta’ala pada permulaan makannya itu, maka hendaklah mengucapkan Bismillahi awwalahu wa akhirahu, artinya Dengan nama Allah pada permulaan makan dan pada penghabisannya”. Hadits riwayat Imam Abu Dawud.

Dari hadits Nabi Muhammmad SAW dan juga sedikit penjelasan sosiologis tersebut, kiranya dapat digambarkan di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama,  kiri dan kanan, adalah lambang kejelekan dan kebaikan. Keduanya merupakan sifat yang melekat pada manusia atau atribut perilaku atau tindakan manusia. Setiap manusia memiliki sifat-sifat yang melekat, yaitu sifat kebaikan dan keburukan. Dua sisi sifat manusia yang “rasanya” azali. Setiap manusia memilikinya dan tidak akan dapat menolaknya, jika sudah menjadi takdirnya atau ketentuannya. Namun demikian, Allah maha Rahman dan Rahim, sehingga Allah menurunkan rasul dengan kitab-kitabnya untuk menjadi panduan di dalam kehidupannya. Rasul memiliki dua tugas untuk mengemban amanah Allah yaitu memberikan kabar kegembiraan atau tabsyir dan memberikan peringatan atas manusia atau tandzir. Keduanya berjalan seiring.

Sebagai representasi atas rahman dan rahim Tuhan, maka rasul diturunkan kepada umat manusia dengan risalah kenabian, baik yang berupa ketauhidan maupun amal peribadahan, baik untuk Tuhan atau untuk sesama manusia. Rasul tidak hidup secara fisikal selamanya, akan tetapi rasul hidup di dalam kehidupan manusia yang mendengarkan dan mengamalkan ajarannya. Untuk hal tersebut, maka Allah menurunkan orang-orang yang disebut sebagai ulama atau orang yang memahami makna kitab suci sebagai pedoman. Mereka disebut sebagai “pewaris para Nabi” atau “al ulama waratsatul anbiya”. Mereka adalah orang yang menjadi representasi para Nabi. Oleh karena itu, seharusnya para ulama adalah orang yang menjadi teladan di dalam kehidupan. Memiliki sifat-sifat yang terkait dengan sifat Nabi, yaitu shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah.

Kedua, kita bersyukur karena memiliki ulama-ulama teladan dalam berbagai cabang keilmuan. Misalnya Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, dan para ahli hadits yang wira’i yang dapat menjadi contoh atas ucapan dan tindakan Nabi dan penafsiran-penafsiran atas sunnah Nabi SAW, sehingga kita dapat melakukan tindakan yang bersesuaian dengan apa yang menjadi sunnah Nabi SAW. kehadiran para ahli hadits dan kemudian berlanjut dengan kehadiran para ahli fiqih seperti Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hambali dan Imam Hanafi dan seluruh jajaran ahli fiqih yang wira’i, maka amalan ibadah kita terukur sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Nabi SAW sesuai dengan penafsiran para ahlinya.  Tanpa kehadiran mereka semua, maka kita tidak bisa memastikan apakah yang kita lakukan itu benar atau salah. Pengamalan beragama menjadi terukur sesuai dengan penafsiran para ahlinya.

Ketiga, kita sedang hidup di era semakin kuatnya cengkeraman budaya barat atas kehidupan. Jika di masa lalu tidak terdapat mall dengan berbagai varian produk di dalamnya, maka kita sekarang sedang hidup di dunia serba ada dan serba disajikan. Jika makanan dan minuman, maka ada yang halal dan ada yang nonhalal. Di antara budaya barat adalah makan dengan tangan kiri. Biasanya ada dua atau tiga alat makan. Sendok, garpu dan pisau, jika diperlukan. Tradisi barat itu, untuk memotong daging memakai tangan kanan dan tangan kiri untuk makan. Yang melakukan seperti itu dianggap modern. Tangan kiri menjadi instrumen untuk makan. Inilah yang banyak diadaptasi generasi milenial atas nama kemodernan atau efektivitas makan.

Tradisi seperti ini bertentangan dengan tradisi makan di dalam Islam yang memang menggunakan tata cara makan Nabi SAW. Oleh karena itu, mengajarkan tradisi menggunakan tangan kanan dan kaki kanan untuk memulai aktivitas merupakan kebutuhan di era moderen sekarang ini. Anak-anak kita harus tetap meneladani ajaran agama sebagaimana diajarkan oleh Nabi SAW. Kita berkeyakinan bahwa dengan meneladani Nabi SAW,  maka kita akan dapat menjadi bagian dari keluarga ideologis Nabi Muhammad SAW.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..