SUNNAH MENDAHULUKAN YANG KANAN (99)
SUNNAH MENDAHULUKAN YANG KANAN (99)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Islam melambangkan kebaikan itu dengan kanan. Kanan merupakan sebuah gambaran tentang perilaku yang berada di dalam konteks keagamaan dan juga dimensi sosial. Islam memberikan penggambaran bahwa orang yang dianggap memenuhi kriteria sebagai hamba Tuhan yang patuh dan taat kepada ajaran Islam itu dengan simbol kanan. Jadi kanan merupakan lambang manusia yang meyakini keberadaan Allah dan mengamalkan ajaran Allah sebagaimana yang diajarkan oleh semua nabi dan rasul yang diturunkan ke dunia.
Sedangkan kiri adalah simbol yang digunakan untuk menggambarkan orang yang tidak mematuhi ajaran agama atau orang yang tidak meyakini keberadaan Allah SWT dan tidak beramal kebaikan sebagaimana diajarkan oleh para nabi dan rasul Allah. Kiri merupakan lambang ketidakpatuhan dan ketidakberimanan kepada Allah.
Di dalam teks Alqur’an dijelaskan bahwa orang yang menerima catatan amalnya dari arah kanan, maka dia dilambangkan sebagai orang yang akan memperoleh kebahagiaan di akherat atau akan memasuki surga. Dan yang menerima catatan amalnya dari sisi kiri maka sebagai pertanda akan memasuki kesengsaraan atau akan memasuki neraka.
Namun demikian dapat menjadi pertanyaan, kiri itu fakta kejelekan secara empiris atau kiri itu hanyalah lambang, sebagaimana kanan juga fakta kebaikan secara empiris atau hanya lambang saja. Kiri atau kanan adalah simbol. Simbol kejelekan dan simbol kebaikan. Tetapi di sisi lain, kanan atau kiri juga menjadi kenyataan empiris di dalam perilaku sehari-hari, misalnya penggunaan tangan kanan atau kiri di dalam perilaku keseharian. Jadi, kanan atau kiri dapat menjadi fakta empiris dan fakta simbolis.
Di dalam dunia pewayangan, maka Bala tengen atau golongan kanan merupakan para kesatria kebaikan, pujangga, dewa dan semua yang terkait dengan kebaikan, kesopanan, keberanian, pembela negara dan prilaku kebenaran, sedangkan bala kiwo atau golongan kiri adalah bala tentara raksasa, kesatrian yang berjuang untuk kejelekan dan semua atribusi atas kejelekan atau keburukan dan seluruh prilaku kejahatan. Wayang adalah perlambang dan begitulah manusia mengekspresikan lambang-lambang tersebut.
Ada seorang penulis Muslim, Hassan Hanafi, yang menulis tentang “Kiri Islam”, jika yang kanan itu stagnan di dalam prilaku yang disebut “kebaikan”, maka yang kiri itu malambangkan pemerdekaan, kebebasan dan kemauan untuk melakukan perubahan. Baginya, kiri tidaklah mesti harus diterjemahkan sebagai ruang “kejelekan”. Tetapi ruang “peluang” untuk berubah. Akan tetapi, sebagaimana yang dapat dipahami dari hadits-hadits Nabi SAW, bahwa untuk melakukan tindakan yang penting dan utama maka seharusnya dimulai dengan kanan.
Alqur’an Surat Al Haqqah: 19, menjelaskan: “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “ambillah, bacalah kitabku (ini). Lalu juga di dalam Surat Al Waqi’ah: 8-9: “Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu”.
Hadits yang diriwayatkan oleh “Aisyah RA, berkata: “Rasulullah SAW sangat menyenangi mendahulukan yang kanan dalam setiap urusannya. Dalam bersuci, menyisir rambut dan mengenakan sandal”. Hadits Riwayat Mutafaq ‘alaih. Hadits diriwayatkan oleh “Aisyah RA berkata: “tangan kanan Rasulullah SAW untuk bersuci dan makan beliau dan tangan kirinya untuk ke kamar mandi dan hal-hal yang kotor”. Hadits Riwayat Imam Abu Daud. Hadits dari Hafshah RA, bahwa: “Rasulullah SAW menjadikan tangan kanannya untuk makan, minum dan mengenakan pakaiannya. Dan menjadikan tangan kirinya untuk mnelakukan selain itu semua”. Hadits Riwayat Imam Abu Daud dan Imam At Tirmidzi.
Dari penjelasan Alqur’an dan Hadits dan juga sedikit analisis sosiologis di atas, kiranya dapat dijelaskan lebih lanjut dalam tiga hal, yaitu:
Pertama, berdasarkan ayat Alqur’an, dapat dipahami bahwa kata kiri merupakan lambang perbuatan jelek yang berakibat pada kesengsaraan. Yaitu orang yang nanti di akherat akan masuk ke neraka. Untuk menjadi golongan kiri, maka yang bersangkutan adalah orang musyrik, orang kafir atau munafik dan yang berperilaku kejahatan. Di dalam teks dinyatakan sebagai orang yang nanti di akherat akan menjadi Ashabus Syimal, yaitu orang yang akan mendapatkan siksaan angin yang panas dan air yang mendidih, dalam naungan awan yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan, padahal sebelumnya merasakan kehidupan dalam kemewahan dan terus mengerjakan dosa besar. (QS: Al Waqiah: 41-46).
Kedua, kanan merupakan lambang orang yang melakukan kebaikan. Mereka orang yang beriman dan mengamalkan amalan-amalan shaleh. Mereka kelak akan menjadi penghuni surga. Di teks disebutkan dengan ungkapan Ashabul Yamin atau golongan kanan. Yaitu mereka yang mendapatkan keberuntungan karena mereka telah melakukan amalan-amalan kebaikan. Di dalam teks Alqur’an dinyatakan: “mereka berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang-pisang yang buahnya bersusun-susun, naungan yang terbentang luas, air yang terus menerus mengalir dan buah-buahan yang banyak yang tidak berhenti berbuah, tempat tidur yang empuk, ada banyak bidadari yang terdiri dari kaum perempuan yang masih perawan yang penuh cinta dan kasih sayang”. (QS Al Waqiah: 28-37).
Ketiga, Nabi Muhammad SAW adalah teladan kehidupan, sebab Beliau adalah representasi dari sifat-sifat kebaikan Tuhan. Di dalam hadits Nabi SAW dijelaskan tentang bagaimana Nabi SAW itu melakukan kegiatan-kegiatan, misalnya makan, minum, memakai pakaian dan berjalan untuk kebaikan selalu dilakukan oleh Beliau dengan tangan kanan atau kaki kanan. Hal ini menunjukkan bahwa kanan itu utama.
Oleh karena itu, marilah kita pahami bahwa kanan bukan hanya fakta simbolik tetapi juga hal-hal yang berupa fakta empiris. Memulai sesuatu tindakan dengan yang kanan secara empiris adalah prilaku Nabi SAW, sehingga umat Islam juga harus melakukan tindakan sesuai dengan tindakan Rasulullah SAW. Dan yang kiri juga memiliki makna simbolik dan juga perilaku empiris yang nyata. Nabi SAW menggunakan secara fungsional atas bagian anggota badan yang kiri untuk kepentingan yang memang sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW. Dan kita tentu harus melakukan amalan-amalan yang sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Wallahu a’lam bi al shawab.
