Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMBERI KABAR KEGEMBIRAAN DAN UCAPAN SELAMAT ATAS  KEBAIKAN

MEMBERI KABAR KEGEMBIRAAN DAN UCAPAN SELAMAT ATAS  KEBAIKAN

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillah al rahman al rahim

Di dalam Islam dikenal dua hal penting, yaitu basyiran dan nadziran. basyiran atau kabar kegembiraan dan nasdziran adalah kabar peringatan tentang kesulitan dan kesengsaraan. Alqur’an di dalamnya banyak hal yang terkait dengan keduanya. Ada kabar kegembiraan, yaitu pahala bagi orang yang beriman dan beramal shaleh dan kabar kesedihan, yaitu siksa bagi orang yang tidak mengindahkan ajaran Allah. Surga atau tempat yang dijanjikan kepada manusia yang penuh dengan perbuatan kebaikan dan neraka bagi mereka yang melakukan perbuatan kejelekan.

Sesungguhnya manusia sangat menyukai terhadap kabar kegembiraan dan tidak suka atas kabar yang menyedihkan. Di dalam diri manusia terdapat dua dimensi yang tidak bisa dihindarkan yaitu senang dan susah, gembira dan sedih, dan keduanya bisa terjadi silih berganti tergantung pada apa yang diketahuinya, dipahaminya dan dialaminya. Adakalanya senang dan ada kalanya susah. Tidak selamanya senang dan juga tidak selamanya susah.

Syekh Imam Nawawi pada bab 95, menukil ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW. Di dalam surat Az Zumar 17-18, Allah SWT berfirman: “sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya”. Allah juga berfirman di dalam Surat At Taubah: 21, bahwa: “Tuhan mereka memberikan  mereka kabar gembira berupa rahmat, keridlaan, dan surga, mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya”. Juga pada Surat Fusshilat: 30, “dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.

Di dalam hadits Nabi SAW dijelaskan Abu Ibrahim (disebut juga Abu Muhammad, disebut juga Abu Muawiyah), Abdullah bin Abu Aufa, bahwa Rasulullah SAW memberi kabar gembira kepada Khadijah RA berupa sebuah rumah di dalam surga dari permata, tidak ada suara gaduh dan kelelahan di dalamnya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih. Di dalam hadits lain dinyatakan Ibnu Syumaiyah berkata, kami hadir di sisi Amr bin Ash RA., menjelang wafatnya. Dia menangis sangat lama dan membalikkan mukanya ke dinding. Putranya berkata, “wahai ayah. Bukankah Rasulullah telah memberimu kabar gembira begini. Bukankah Rasulullah telah memberi kabar gembira begini”? Kemudian dia membalikkan muka dan berkata: “sungguh, sebaik-baik yang kita persiapkan adalah syahadat lailaha illallah dan Muhammad Rasulullah. Aku telah melewati tiga fase. Aku masih ingat betul, tidak ada seorangpun yang lebih benci kepada Rasulullah SAW daripada diriku dan tidak ada yang lebih aku inginkan saat itu kecuali memiliki suatu kesempatan lalu membunuh beliau. Seandainya aku  mati di atas keadaan itu, pastilah aku termasuk penghuni neraka”. “Kemudian ketika Allah memberikan hidayah Islam ke dalam hatiku, aku datang menemui Nabi SAW dan berkata: ulurkanlah tangan kananmu, sungguh aku akan berbaiat kepadamu. Kemudian beliau mengulurkan tangannya, tetapi aku menahan tanganku”. Beliau berkata: “ada apa denganmu wahai Amr”? Aku menjawab:  “aku ingin membuat syarat”. Beliau bertanya: “membuat syarat apa”. Aku menjawab: “agar aku diampuni”. Beliau bersabda: “tidakkah engkau tahu bahwa Islam menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya”? Bahwa:  “hijrah menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya. Dan haji menggugurkan dosa sebelumnya”. “Saat itu tidak seorangpun yang lebih aku cintai melebihi cintaku kepada Rasulullah SAW dan tidak ada pula orang yang lebih terhormat di mataku dari beliau”.  “Aku tidak mampu menatap beliau karena memuliakan Beliau. Andaikan aku diminta menggambarkan  kepribadian beliau aku tidak akan mampu, karena aku tidak pernah menatap lekat Beliau. Seandainya aku mati, janganlah aku diiringi perempuan yang meratap dan api. Bila engkau menguburku, maka tuangkanlah tanah kepadaku sedikit demi sedikit. Kemudian berdirilah di sekitar kuburku seukuran waktu untuk menyembelih unta dan membagikan dagingnya, agar aku merasa nyaman dengan keberadaan kalian dan aku melihat jawaban apa yang aku berikan kepada utusan-utusan Tuhanku”. Hadits Riwayat Muslim.

Dari penjelasan hadits tersebut dapat dikaji atas tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam menganjurkan agar kita memberikan kabar kegembiraan kepada seseorang dan bukan kabar yang menyusahkan. Andaikan kabar itu membuat sedih tentu harus diiformasikan agar informasi tersebut tidak membuat seseorang menjadi semakin down. Memberikan  kabar yang memberi manfaat jauh lebih utama dibandingkan kabar yang membuat seseorang merasa tidak nyaman.

Islam mengajarkan kepada kita untuk memberikan informasi yang memberikan jalan kepada kebaikan dan kemudahan. Alqur’an menjelaskan: “inna ma’al ‘usri yusra” sesungguhnya setiap ada kesulitan maka ada kemudahan. Di ayat lain, Allah menyatakan: “la yukallifullahu nafsan illa wus’aha”, yang artinya Allah tidak akan membebami seseorang kecuali atas kemampuannya”. Artinya, bahwa Allah akan memberikan kegembiraan pada umat-Nya bahwa Allah itu akan memberikan ujian tanpa melampaui kemampuannnya untuk menganggungnya.

Kedua, Allah dan rasulnya memberikan berita tentang ha-hal yang menggembirakan selama hambanya itu selalu berada di dalam jalan kebanaran. Tetapi Allah dan rasulnya juga memberikan peringatan yang tegas jika ada hambanya yang mengingkari ajaran-Nya. Oleh karena Islam mengajarkan keseimbangan tidak hanya kebahagiaan yang ditawarkan, akan tetapi juga kesengsaraan yang ditawarkan. Pedoman sudah diberikan dan kita dapat memilih mana yang baik dan benar serta mana yang jelek dan salah. Gambaran tentang Amru bin Ash, sebagaimana diceritakan di dalam hadits Nabi SAW tersebut sungguh dapat menjadi pedoman bagi umat manusia, selama manusia mencintai rasul SAW dan patuh atas ajaran-ajarannya, maka dipastikan bahwa Allah akan menggembirakannya.

Ketiga, kita hidup di era zaman yang serba terbuka. Tidak ada sesuatu yang disembunyikan. Semua bisa diunggah, baik yang positif maupun negatif. Islam mengajarkan agar kita memberikan informasi atas hal-hal yang baik dan bukan hal-hal yang jelek. Kita dapat menginformasikan yang bermanfaat dan menjauhi yang tidak bermanfaat. Makanya, hendaklah kita memberikan informasi yang menyenangkan tentang ajaran Islam dan bukan yang membuat orang menjadi benci dan marah.

Islam itu agama yang penuh senyum, dan bahkan senyuman itu sedekah. Jika kita sering membuat orang tersenyum, maka berarti ibadah sedekah itu banyak. Seseorang tidak akan tersenyum jika informasi atau percakapan tersebut menyengsarakan. Makanya, jika kita bersama komunitas dan lainnya, upayakan agar bisa  tersenyum gembira. Hepi.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..