Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMULIAKAN TAMU (94)

MEMULIAKAN TAMU (94)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Islam itu agama yang menjunjung tinggi persaudaraan. Tidak hanya persaudaraan sesama umat Islam atau ukhuwah Islamiyah, akan tetapi juga ukhuwah insaniyah atau persaudaraan sesama manusia atau disebut juga sebagai ukhuwah basyariyah atau persaudaraan sesama umat manusia. Inilah salah satu kekuatan Islam yang memberikan ajaran agar sesama manusia saling mengasihi dan menyayangi, sebagai konsekuensi agama yang memberi rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil alamin.

Islam sungguh agama yang memberikan peluang umatnya untuk memberikan kasih sayang secara tulus. Tidak hanya sesama umat Islam tetapi juga bagi nonmuslim. Persaudaraan insaniyah. Bahkan tidak hanya ini, akan tetapi juga menyayangi alam seluruhnya. Bahkan dinyatakan dalam hadits riwayat Imam Muslim: “man la yarham la yurham”. Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi”. Agar kita disayangi  oleh yang lain, maka persyaratannya adalah menyayangi yang lain. Begitu jelasnya pesan Islam ini. Tidak ada keraguan seharusnya untuk saling menyayangi.

Salah satu wujud dari kasih sayang tersebut adalah silaturrahmi atau menyambung tali persaudaraan. Bisa saling kunjung rumah atau bisa juga dalam wujud lain dalam menyambung tali persahabatan dimaksud. Intinya, bahwa menyambung tali silaturrahmi dengan sahabat atau orang yang dikenal atau sesama kerabat merupakan salah satu ajaran Islam yang sangat mulia. Dan sebagai konsekuensi kemuliaannya, maka yang bersangkutan dapat saling bertamu.

Syekh Imam Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin Bab 94 bercerita berbasis pada ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Allah SWT di dalam Surat Adz Dzariyat: 24, berfirman: “Adakah sudah datang padamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim  (yaitu Malaikat-Malaikat) yang dimuliakan? (ingatlah) Ketika mereka  masuk ke tempatnya  lalu  mengucapkan ‘salamun’, Ibrahim menjawab, “salamun” (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk, lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “silahkan Anda makan”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, sesuai dengan riwayat Abu Hurairah, RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung silaturahmi. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau hendaklah ia diam”. Hadits riwayat Mutafaq alaih.

Kemudian juga terdapat riwayat hadits yang diceritakan oleh Abu Syuraih Khuwailid bin Amr Al Khusa’i RA., berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya, dengan pemberian”. Mereka berkata: “Bagaimana pemberiannya itu wahai Rasulullah?”. Beliau berkata: “pemberian itu selama satu hari satu malam dan (keharusan) menjamu itu selama tiga hari. Adapun yang lebih dari itu adalah sedekah untuknya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dari ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, dapat dijelaskan dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam mengajarkan agar kita menghargai tamu. Baik tamu yang dikenal atau tamu yang tidak dikenal. Islam tidak membedakan tamu itu seorang kawan atau tidak. Yang jelas jika terdapat tamu yang datang ke rumah, maka menjadi kebaikan jika kita hargai sebagaimana orang yang kita kenal atau yang  tidak kita kenal. Hal itu sebagaimana di dalam wahyu Allah tentang sejarah Nabi Ibrahim AS, yang mendapatkan tamu yang tidak dikenal. Maka, Nabi Ibrahim AS tetap menjamunya sebagaimana orang yang sangat dikenalnya. Dihormati tamu tersebut dengan hidangan terbaik yang dapat dilakukan. Nabi Ibrahim AS menjamunya dengan daging sapi muda yang gemuk dan mempersilahkan tamunya untuk memakannya sampai habis.

Kedua, Nabi Muhammad SAW bahkan secara teknis mengajarkan agar kita menjamu tamu yang menginap di rumah selama sehari semalam bahkan sampai tiga hari. Jika seandainya lebih dari tiga hari, maka kelebihan jamuan tersebut  sebagai sedekah. Hal ini memberikan pemahaman kepada kita agar kita memuliakan tamu dengan sebenarnya. Islam sungguh konsern dalam membangun persahabatan tersebut, yaitu dengan cara memuliakannya. Jika seandainya di rumah terdapat tamu yang menginap beberapa hari, maka kewajiban kita menjamunya adalah tiga hari dan selebihnya adalah sedekah yang tentu akan mendapatkan pahala sebagaimana sedekah lain yang dilakukannya.

Islam mengajarkan atas tiga hal, yaitu orang yang percaya kepada Allah dan hari akhir, maka harus memuliakan tamu, menyambung tali silaturrami dan berkata yang baik. Mari kita perhatikan, bahwa Allah SAW memberikan kedudukan tinggi dalam menjamu tamu, menyambung tali persaudaraan dan berkata baik dengan secara simbolik mengakui keberadaan Allah dan kepastian terjadinya hari akhir.  Artinya, orang yang melakukannya memiliki derajad yang tinggi dalam keimanan atas Allah dan hari akhir.

Ketiga, sekarang kita berada di era media sosial. Era meeting virtual atau pertemuan dengan menggunakan media sosial. Orang bisa melakukan komunikasi tanpa terkendala jarak. Dunia bisa dilipat oleh media sosial. Kita bisa berkomunikasi dengan kawan kita di seluruh dunia. Di Amerika, Eropa, Australia dan juga di Afrika. Mobilitas sosial terjadi dengan sangat mudah, kapan dan di mana saja. Oleh karena itu, sesungguhnya melalui media sosial kita akan dapat melakukan silaturrahmi dengan sangat mudah. Silaturrahmi virtual. Melalui media sosial, kita dapat melakukan dua hal, yaitu menyambung tali sliaturrahmi dan berkata yang baik.

Sesungguhnya media sosial dapat menjadi kawan yang baik, selama media sosial digunakan untuk kebaikan. Tetapi media sosial juga akan menjadikan kejelekan,  jika kita tidak menggunakan untuk kebaikan. Mari kita gunakan media sosial untuk saling menyapa, menanyakan kabar atau say hello agar kita bisa memperoleh manfaatnya.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..