Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SUNNAH MENDATANGI SHALAT DAN MAJELIS ILMU (93)

SUNNAH MENDATANGI SHALAT DAN MAJELIS ILMU (93)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Islam merupakan agama yang memberikan peluang seseorang untuk mendapatkan pahala lebih. Pahala tersebut disebut pahala sunnah. Yaitu suatu perbuatan yang didasarkan atas perkataan, ketetapan dan perilaku Rasulullah SAW. perbuatan tersebut juga disebut sebagai sunnah Nabi SAW. Ada sangat banyak perbuatan yang digolongkan sebagai sunnah Nabi Muhammad SAW. Jika dikaitkan dengan amalan-amalan utama di dalam Islam yang tergolong sunnah adalah menyebarkan salam, memberi makan orang yang memerlukan dan menyambung tali silaturrahmi. Sedangkan yang lain adalah shalat tepat waktu sampai memungut barang yang membahayakan di jalan. Semuanya adalah amalan shalihan yang diajarkan di dalam Islam. Islam merupakan agama yang tidak hanya mementingkan ketauhidan, akan tetapi juga mementingkan amalan shaleh. Iman yang tidak diikuti oleh amal shaleh menjadi kurang pas. Keduanya harus dilakukan secara berkeseimbangan. Tidak ada amal shaleh tanpa iman dan tidak ada iman kecuali ada juga amal shaleh.

Islam merupakan agama yang mengedepankan berjamaah. Di dalam shalat misalnya jika shalat sendirian,  maka pahalanya dihitung hanya tiga derajad,  akan tetapi jika dilakukan dengan berjamaah,  maka pahalanya menjadi 27 derajad. Inilah kekuatan berjamaah atau the power of jamaah. Sesungguhnya bukan hanya shalat yang dianjurkan secara berjamaah, akan tetapi juga aktivitas sosial juga akan menjadi utama dengan berjamaah. Bahkan ada hadits yang secara umum bermakna, bahwa kebaikan yang tidak dikoordinasikan secara berjamaah akan kalah dengan kejelekan yang dilakukan secara berjamaah. Oleh karena itu hendaknya kita mengedepankan jamaah dalam makna yang lebih luas untuk kepentingan kebaikan umat.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin menukil hadits Nabi SAW dalam menjelaskan mengenai pentingnya berjamaah dan bagaimana harus melakukannya. Hadits dari Abu Hurairah, RA berkata: Aku mendengar dari Rasulullah SAW bersabda: “apabila shalat telah ditegakkan (iqamah telah dikumandangkan), maka janganlah kalian mendatanginya dengan tergesa-gesa, tapi datangilah sambil berjalan dan hendaknya dengan cara yang tenang. Maka apa yang kalian dapati (dari imam) shalatlah. Dan apa yang terlewat oleh kalian, sempurnakanlah”. Hadits Mutafaq alaih.

Hadits dari Ibnu Abbas RA., barangkat  bersama Nabi SAW pada hari Arafah. Lalu Nabi mendengar dari arah belakangnya ada suara bentakan, pukulan, dan suara halauan terhadap unta. Maka Beliau berisyarat dengan cemetinya kepada mereka sambil bersabda: “wahai manusia, hendaklah kalian bersikap tenang, karena kebaikan itu bukan dengan cara bercepat-cepat (tergesa-gesa). Hadits Mutafaq alaih.

Berdasarkan atas penjelasan Syekh Imam Nawawi dari dalil naqli tersebut, maka dapat dijelaskan lebih luas di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama,  sebagai umat Islam yang melakukan amalan shalat lima waktu, maka dianjurkan oleh Rasulullah untuk mendatangi shalat berjamaah, misalnya di masjid atau mushalla. Sunnah mendatangi shalat berjamaah tersebut tidak hanya untuk kepentingan ibadah dengan pahala yang berlipat-lipat, akan tetapi juga untuk memakmurkan masjid. Jika masjidnya ramai dengan shalat berjamaah dan kegiatan lainnya, maka akan menjadi kekuatan bahwa umat Islam mencintai atas tempat ibadahnya. Umat Islam harus menjadikan tempat ibadah sebagai pusat pembinaan umat. Bisa dalam bentuk pendidikan dan ceramah keagamaan dan bisa juga dalam bentuk kegiatan sosial bahkan ekonomi. Masjid selayaknya menjadi tempat ibadah dan kegiatan sosial budaya Islam lainnya.

Kedua, kita tentu bersyukur sebab kegiatan keagamaan dan sosial lainnya nyaris bisa didapati di masjid-masjid di Indonesia. Ada kegiatan ceramah keagamaan, baik tematik atau membahas teks kitab turats atau kitab kuning.  Ada  kegiatan tahsinan membaca Alqur’an. Ada kegiatan membaca Surat Al Waqiah dan ada juga membaca Surat Al Kahfi. Serta kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) yang dilakukan secara periodik. Selain itu juga ada acara silaturrahmi dalam paket kegiatan halal bi halal, tadarrus Alqur’an, dan kegiatan Nuzulul Qur’an, Maulid Nabi Muhammad SAW dan juga hari besar Islam lainnya.

Ketiga, secara teknis, Nabi Muhammad SAW menjelaskan tentang bagaimana kita berjalan ke masjid, khususnya di kala akan melakukan shalat berjamaah. Nabi SAW meminta agar di dalam. Perjalanan menuju masjid ersebut tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Berjalan yang pasti menuju masjid dengan kepastian, dan berkeyakinan tidak ketinggalan shalatnya. Pastikan bahwa kita akan sampai di masjid pada saat shalat masih berlangsung. Dan perintah Nabi SAW agar kita mengikuti imam dan jika ada yang kurang dari rakaat kita, hendaknya kita menyempurnakannya.  Ketenangan di dalam menghadapi segala sesuatu itu sangat penting. Usahakan agar di dalam menghadapi apapun dengan ketenangan jiwa. Jangan serba tergesa-gesa, sebab ketergesaan adalah prilaku setan. Oleh karena itu, perhitungkan waktu dengan tepat, ukur peluang berapa lama sampainya, sehingga kita dapat sampai dengan tepat. Shalat pada waktunya adakah keutamaan dalam beribadah dan datang tepat waktu juga bagian dari upaya kita untuk memenuhi ibadah.

Wallahu a’lam bis shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..