SIFAT KEWIBAWAAN DAN KETENANGAN
SIFAT KEWIBAWAAN DAN KETENANGAN
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Allah menegaskan agar kita menjadi orang yang tidak sombong, tinggi hati dan merasa serba segalanya. Allah menegaskan bahwa orang yang baik itu indikatornya adalah rendah hati di dalam mengarungi kehidupannya. Berjalan di dalam ayat Alqur’an: “janganlah berjalan di muka bumi dengan kesombongan” tidak hanya berjalan dengan kaki ke suatu tempat, akan tetapi berjalan di dalam kehidupan. Janganlah kita mengarungi kehidupan dengan sombong dan tinggi hati. Sering kita dengar di atas langit ada langit. artinya, andaikan kita naik ke langit agar menjadi lebih tinggi, maka ingatlah di atasnya masih ada langit. sampai yang tertinggi di Mustawa, Sidatil Muntaha bahkan Arasy Allah SWT.
Kewibawaan tidak dibangun di atas prinsip instant, akan tetapi kewibawaan adalah proses yang bisa panjang untuk sampai kepada kondisi memiliki kewibawaan. Seseorang yang memiliki kewibawaan tidak akan melakukannya secara pencitraan. Kewibawaan yang diperoleh melalui pencitraan hanya akan menghasilkan kebohongan. Prilaku sementara yang kemudian akan kembali kepada realitas apa adanya. Kewibawaan itu datang dai pribadi yang ikhlas melakukan tindakan sesuai dengan kata hatinya.
Kewibawaan akan lahir dari hati dan bukan datang dari akal. Akal itu bersifat untung rugi. Jadi kalau melakukan sesuatu maka ini keuntungannya dan jika tidak melakukan maka ini kerugiannya. Sedangkan prilaku yang datang dari hati lalu diterjemahkan oleh anggota tubuh kita maka akan didapatkan perilaku yang alami, apa adanya, dan tidak dibuat-buat. Prilaku yang dibuat-buat akan kelihatan di wajahnya. Hal ini disebabkan oleh ktidakseimbangan antara hati dan rasio, hati dan pertimbangan akal. Kewibawaan bisa dihasilkan dari proses melakukan tindakan yang mengedepankan kata hati. Jangan hanya menggunakan pertimbangan rasio semata.
Kewibawaan yang dibuat-buat akan menghasilkan perilaku yang tidak produktif. Harus disadari bahwa prilaku imitasi atas kewibawaan itu suatu ketika akan berubah menjadi malapetaka. Hal itu terjadi di kala terjadi kemarahan. Orang yang baik dalam ucapan dan tindakannya itu akan bisa dilihat di kala sedang menghadapi masalah dari orang lain yang membulinya atau merusak nama baiknya. Ada orang yang bisa memenej dirinya di dalam kemarahannya dan ada yang tidak mampu memenejnya. Orang yang ucapan dan tindakannya mengandung kebaikan, akan dapat mengembalikan ucapan dan tindakannya sebagai bagian dari takdir Allah SWT. ada rencana Allah yang akan berlaku bagi dirinya. Jadi tidak merahi atas orang yang melakukannya. Jika perlu justru orang itu akan dinasehatinya. Di dalam buku saya, Friendly Leadership (2018), saya nyatakan jangan marah di depan banyak orang. Jika marah lakukan secara tersendiri. Di ujung akhir kemarahan itu nyatakan mohon maaf.
Tertawa adalah ekspresi rasa senang atau bahagia. Orang tertawa, apalagi tertawa lepas, dipastikan ada sesuatu, bisa cerita lelucon, bisa cerita tentang keberhasilan atau kesuksesan dan cerita yang membuat bahagia, sehingga membuat seseorang tertawa. Baik dengan suara keras atau hanya tersenyum. Yang jelas bahwa tertawa merupakan indikasi akan hati kita yang senang dan berbunga-bunga.
Alqur’an dalam Surat Al Furqan: 63 bahwa: “Adapun hamba-hamba Ar Rahman itu adalah orang-orang yang berjalan dimuka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina) mereka mengucapkan salam”.
Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Aiisyan RA., berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW tertawa terbahak-bahak sampai terlihat langit-langit mulutnya. Beliau hanya tersenyum”. Hadits riwayat Mutafaq alaih.
Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW, kiranya dapat dijelaskan atas tiga hal, yaitu:
Pertama, kesombongan adalah perilaku setan. Makhluk Tuhan yang berlabel setan adalah ciptaan Allah SWT yang sangat sombong. Saat diminta untuk patuh kepada Tuhan melalui instrumen bersujud kepada Nabi Adam AS., maka setan menolaknya. Setan salah di dalam mengunterpretasikan atas kata sujud yang dikiranya sebagai bentuk penyembahan, sehingga tidak dilakukannya. Dia membangkang atas perintah Allah SWT, sehingga kemudian dikutuknya karena kesombongannya itu. Di dalam penafsiran setan, seharusnya Adam AS yang bersujud kepadanya, karena setan diciptakan dari api murni, sedangkan Adam AS diciptakan dari tanah. Asal-usul lalu menjadi faktor penyebab keengganan setan untuk tunduk kepada Nabi Adam. Kesombongan terbesar dan kekafiran terbesar di dalam peristiwa ini adalah di kala hamba Allah diperintah lalu mengingkarinya. Inilah yang bisa dinyatakan sebagai kafir hakiki. Kafir yang disadari. Sementara itu juga ada kafir yang tidak disadari. Kafir yang tidak disengaja.
Kedua, Allah SWT menghendaki agar manusia harus berada di dalam realitas rendah hati. Seseorang yang memiliki kemampuan untuk menundukkan egonya atau memenej nafsunya menuju kepada nafsul muthmainnah. Banyak orang yang lebih mengedepankan egonya. Ingin berkuasa, ingin kaya, ingin jabatan dan ingin kemewahan dan melalaikan bahwa ada proses hidup yang harus dilalui untuk berkuasa, berharta dan berkemewahan. Proses itulah yang akan menentukan apakah seseorang bisa mencapai apa yang diinginkannya atau tidak. Di dalam proses itulah ada syarat yang tidak ditinggalkan adalah perilaku apa adanya yang sesuai dengan perintah Allah SWT. di antaranya adalah ketenangan jiwa dan tawadlu’ atau rendah hati di dalam kehidupan.
Ketiga, Rasulullah SAW juga meminta kepada kita agar tidak mengekspresikan kesenangan secara berlebihan, misalnya tertawa yang berlebihan. Jika mengikuti Rasulullah, maka Beliau hanya tersenyum saja dalam menghadapi sesuatu yang menyenangkan hati. Tidak berlebihan di dalam melakukannya. Tentu saja bukan larangan yang mengandung makna dilaknat akan tetapi merupakan penghargaan atas etika. Ada etika senang dan ada etika sedih. Janganlah berlebihan dalam ekspresi kesenangan dan jangan berlebihan dalam kesusahan. Sewajarnya saja. Islam memang ajaran agama yang memberikan peluang menjaga keseimbangan, termasuk dalam senang dan susah. Sesuatu yang berlebihan itu akan menyebabkan kelalaian bersyukur kepada Allah.
Wallahu a’lam bi al shawab.
