Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENDENGAR DENGAN BAIK ATAS UCAPAN YANG BAIK

MENDENGAR DENGAN BAIK ATAS UCAPAN YANG BAIK

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Mendengar adalah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Mendengar adalah aktivitas pasif yang terkadang membuat orang bosan dan enggan. Apalagi yang didengarkan itu adalah hal yang biasa saja, dan tidak merupakan hal baru yang penting untuk dipahami. Makanya, terkadang ada orang yang bicara dan orang lain  sibuk sendiri dengan apa yang dibicarakan.

Mendengar memang melibatkan organ telinga. Yang di dalam banyak hal terkadang tidak bisa mendengar sebab suasana yang riuh di sekitarnya. Makanya, di dalam hadits Nabi Muhammad SAW dinyatakan di kala Beliau akan berbicara pada jamaah, maka dimintanya untuk mendengarkannya dengan cara diam. Meskipun tidak selalu diam itu melambangkan seseorang mendengar, akan tetapi inilah ukuran minimal keterlibatan seseorang di dalam suatu aktivitas mendengarkan. Bisa saja terjadi orangnya ada di dalam suatu momen kebersamaan,  mendengarkan orang berbicara, akan tetapi pikiran dan hatinya tidak berada di tempat itu.

Menjadi pendengar itu lebih sulit dibandingkan yang berbicara. Mendengar itu membutuhkan organ telinga, dan kemudian mengirimnya ke otak dan kemudian otak akan mengirimkannya ke sensory storage atau gudang inderawi, sehingga apa yang didengarnya itu akan disimpan atau tidak. Informasi yang penting akan disimpan di memory otak dan yang tidak penting akan dibuang. Ada peristiwa yang memasuki architype atau peristiwa yang sangat berkesan dan akan disimpan sangat mendalam, sehingga tanpa diminta terkadang terukir kembali peristiwa tersebut. Tetapi juga ada yang hanya numpang lewat. Di dalam bahasa sehari-hari dinyatakan: “masuk telinga kanan keluar telinga kiri”.

Mendengar ternyata ada adabnya atau ada etikanya. Mendengar merupakan salah bagian dari relasi antar manusia, yang terkait dengan etika pergaulan. Di dalam pergaulan, maka seseorang akan dinilai baik atau tidak tergantung pada etika mendengar dan etika berbicara. Ada orang yang suka mendengar dan ada orang yang suka acuh atas pembicaraan seseorang. Bahkan ada orang yang lebih dominan di dalam bicara tetapi lemah dalam upaya untuk mendengar. Dialah sumber pembicaraan dan tidak memberikan ruang bagi orang lain untuk terlibat dalam relasi timbal balik. Orang yang seperti ini terkadang dijauhi oleh orang lain. Perhatikan kapan ada waktu berbicara dan kapan ada waktu untuk mendengar. Jaga keseimbangan.

Syekh Imam An Nawawi menukil hadits, sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah, agar mendengarkan. Hadits yang diceritakan oleh Jarir bin Abdullah, RA., berkata:  Rasulullah berpesan kepadaku ketika Haji Wada’, mintalah supaya orang-orang diam. Kemudian Beliau bersabda: “janganlah kalian  kembali kepada kekafiran sepeninggalku, lalu kalian saling bunuh di antara kalian”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Syekh Imam An Nawawi memberikan judul yang panjang di dalam Kitab Riyadhus Shalihin pada Bab 90 dengan judul “Mendengarkan Ucapan Teman Duduk Yang Tidak Haram Dan Supaya Seorang Alim Atau Pemberi Nasehat Meminta Orang Yang Hadir Di Majelisnya Untuk Mendengarkan Dengan Baik”. Dari judul yang panjang tersebut kemudian saya persingkat tanpa bertujuan mereduksi maknanya, yaitu “Mendengar Dengan Baik Atas Ucapan Yang Baik”.

Dari penjelasan sosiologis dan Sabda Nabi Muhammad SAW, kiranya dapat digarisbawahi atas tiga hal, yaitu:

Pertama, sebagai pembicara di dalam suatu majelis, maka pembicara tersebut diberikan peluang oleh ajaran Islam untuk mengingatkan agar para jamaah di majelisnya mendengarkan atas yang diungkapkannya. Misalnya seorang da’i atau dosen atau guru, tentu boleh untuk mengingatkan atas para jamaah, mahasiswa atau siswa agar menyimak pada yang disampaikannya. Tidak diperkenankan di kala seorang da’i, dosen atau guru atau pimpinan rapat berbicara lalu ada yang mengabaikannya. Hal tersebut memasuki kawasan tidak etis atau tidak sopan. Jadi ada etika berbicara dan ada etika untuk mendengar. Jangan semua menjadi pembicara. Lebih baik seseorang usul jika ada sesuatu yang dianggapnya penting untuk dibicarakan. Diam kita menunjukkan atensi kita.

Kedua, di dalam persahabatan, maka upaya untuk saling mendengarkan merupakan keutamaan. Hal tersebut dilakukan agar tidak terdapat perasaan  dilecehkan atau diremehkan. Apapun yang dibicarakan, suka atau tidak suka, maka dengarkanlah. Jika kita bosan dengan yang diceritakan, maka kita dapat  memberikan respon dengan cara yang sangat bijaksana. Tidak meledek atau melecehkannya. Tetapi mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dengan cara yang menarik. Jika kita berhadapan dengan kawan, maka tentu kita tahu bagaimana dan apa yang menjadi kesukaannya. Dari situlah kita saling membicarakan. Jadi ada yang menjadi pendengar dan ada yang jadi pembicara.

Yang paling susah sebenarnya untuk mengingatkan orang yang memiliki status sosial dan otoritas kekuasaan lebih luas. Terkadang mereka tidak mendengarkannya. Yang bisa mengingatkan adalah orang yang sejajar. Inilah problem manusia yang paling banyak. Seseorang hanya mau mendengarkan apa yang datang dari orang dekatnya. Yang lain minggir. Inilah kebanyakan kesalahan seseorang yang sedang berkuasa. Tidak ada orang lain yang lebih hebat, lebih pintar dan lebih berkuasa, sehingga banyak mengabaikan atas usulan yang baik yang diusulkan kepadanya. Sense untuk mendengarnya sangat kecil bahkan tidak ada. Hanya pikirannya sendiri yang benar. Inilah awal kesalahan yang menyesakkan.

Ketiga, Allah SWT mengingatkan agar kita mendengar dan memahami. Janganlah menjadi orang yang memiliki telinga tetapi tidak mendengar kebaikan. Memiliki mata tetapi tidak dipakai untuk melihat kebaikan. Memiliki hati tetapi tidak mendengarkan kata hatinya. Jadilah orang yang selalu menggunakan pancaindra untuk kepentingan diri dan juga kepentingan lainnya. Jika kita menjadi pemimpin, maka kata kunci mendasarnya adalah gunakan mata, telinga dan hati untuk memahami dunia di luar kita, sehingga kita akan dapat merumuskan kebijakan yang memihak kepada kepentingan mereka.

Wallahu a’lam bi al shawb.

Categories: Opini
Comment form currently closed..