• July 2026
    M T W T F S S
    « Jun    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMELIHARA KEBIASAAN BAIK (87)

MEMELIHARA KEBIASAAN BAIK (87)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Setiap manusia memiliki kebiasaan, bahkan  masyarakat juga memiliki kebiasaan. Di dalam kehidupan, maka kebiasaan individu disebut habit atau lebih lengkap disebut sebagai habitual action. Sedangkan di dalam masyarakat disebut sebagai tradisi atau sesuatu yang dilakukan secara terus menerus dan tindakan tersebut dilakukan berdasarkan atas nilai yang dipahami secara bersama-sama.

Tindakan individu sesungguhnya juga merupakan representasi dari tradisi suatu masyarakat. Apa yang dilakukan oleh individu-individu hakikatnya merupakan representasi dari suatu tradisi di dalam masyarakatnya. Jadi untuk memahami suatu tradisi di dalam masyarakat tidak perlu mengkaji semua tindakan masyarakat, akan tetapi cukup dengan melihat apa yang dilakukan oleh anggota masyarakat dimaksud.

Agama adalah pola bagi tindakan atau pattern for behaviour. Agama itu momot dengan nilai kebaikan. Tidak ada satu agamapun yang mengajarkan perbuatan jelek atau jabat. Setiap agama mengajarkan amar ma’ruf nahi mungkar. Mengajarkan agar seseorang melakukan perintah untuk berbuat baik dan melarang perbuatan jahat atau buruk. Setiap agama mengajarkan agar mencintai dan memberi kasih sayang kepada sesama manusia. Di dalam Islam terdapat ajaran hablum minan nas atau menjaga hubungan baik dengan sesama manusia da prinsipnya adalah mengasihi yang ada dibumi agar memperoleh kasih sayang dri yang di langit. Di dalam Agama Buddha terdapat ajaran Metta atau cinta dan kasih sayang. Semua makhluk bahagia.

Setiap agama mengajarkan agar seseorang memelihara kebaikan. Sebuah kebaikan memiliki tiga dimensi sekaligus, yaitu kebaikan untuk diri sendiri, kebaikan untuk keluarga dan kebaikan untuk masyarakat. Seseorang tidak boleh hanya mementingkan kebaikan diri sendiri, akan tetapi juga kebaikan untuk masyarakat. Jadi kebaikan itu bersifat seimbang dan sistemik. Seimbang artinya dimensi-dimensi kebaikan itu harus dijaga agar jangan berat sebelah, sedangkan sistemik artinya tidak bisa dipisahkan satu kebaikan dengan kebaikan lainnya.

Kebaikan diri adalah cerminan dari kebaikan keluarga dan masyarakat dan sebaliknya. Nilai-nilai agama merupakan substansi dari nilai kebaikan. Jadi, orang yang menjalankan ajaran agama dengan benar, agama yang memberi rahmat, maka hakikatnya yang bersangkutan sudah menjalankan kehidupan dengan baik dan benar. Oleh karena itu, seseorang harus menjaga agar kebaikan itu terus berlangsung di dalam kehidupannya, kapan dan di mana saja. Islam menegaskan agar manusia melanggengkan kebaikan di dalam kehidupannya sebagai pengejawantahan kebaikan Tuhan atas seluruh makhuknya.

Syekh Imam An Nawawi menukil ayat Alqur’an dan hadits untuk menjelaskan tentang pentingnya memelihara kebaikan. Allah berfirman di dalam Kitab Suci Alqur’an pada Surat Ar Ra’du: 11,  bahwa: “sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum, hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Lalu di dalam Surat Al Hadid: 16, bahwa: “…dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras…”. juga terdapat di dalam Surat Al Hadid: 57 bahwa: “… lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya…”.

Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin Amr bin Al Ash RA, bahwa Nabi SAW bersabda kepadaku: “Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si Fulan. Ia selalu melakukan shalat malam lalu meninggalkannya”. Hadits riwayat Mutafaq alaih.

Dari uraian di atas, kiranya dapat dijelaskan penegasannya di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, menjaga keberlangsungan kebaikan adalah kewajiban individual. Tidak boleh diwakilkan. Artinya melestarikan prilaku kebaikan adalah tanggungjawab setiap manusia yang menjadikan nilai agama sebagai pedoman kehidupan. Konsistensi dalam kebaikan itulah yang dikehendaki oleh Allah dan Rasulnya. manusia yang beriman dan berlaku kebaikan, maka sudah selayaknya jika menjaga keberlangsungan iman dan amal shalehnya. Jangan sampai terputus atau putus nyambung. Makanya, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amalan yang minimalis tetapi konsisten itu lebih baik dibandingkan dengan amalan yang banyak tetapi tidak konsisten.

Kedua, amalan kebaikan itu akan menjadi kebiasaan atau tradisi jika terus menerus dilakukan. Untuk menjaga konsistensi, maka diperlukan kesadaran secara terus menerus dan akhirnya menjadi kebutuhan. Shalat yang dibiasakan, lama-lama akan masuk ke dalam kawasan kebutuhan. Makanya, bahwa shalat itu akan dapat menjadi kebutuhan dan bukan lagi kewajiban. Jika sudah masuk di sini, maka  amalan shalih itu sudah menjadi kebiasaan atau tradisi.

Ketiga, Islam itu mengajarkan beriman dan beramal shaleh. Iman kepada Allah harus berimplikasi pada amal shalih atau amal kebaikan yang ditujukan untuk sesama umat manusia. Beriman kepada Allah dalam bentuk shalat dan dzikir kepada Allah akan kembali kepada diri sendiri, akan tetapi beramal shalih dalam bentuk relasi sosial akan berguna untuk diri, sesama manusia dan Allah SWT. Jika kita bisa memadukan keduanya, maka inilah yang disebut sebagai manusia yang sempurna.

Oleh Allah SWT kita diminta agar menjaga iman dan amal shaleh, dan jangan mencontoh atas umat yang melalaikan konsistensi iman dan amal shalehnya. Umat terdahulu pernah mengalaminya dan kita tentunya tidak boleh mencontoh atas pengalaman buruk yang dilakukannya. Kita semua bersyukur bahwa hingga hari ini kita masih konsisten untuk beriman kepada Allah dan juga melakukan amal kebaikan, seperti sedekah atau pilantropi lainnya. Semoga hal ini bisa menjadi tiket bagi kita untuk meraih ridha dan rahmatnya Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..