• July 2026
    M T W T F S S
    « Jun    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEUTAMAAN RASA MALU (84)

KEUTAMAAN RASA MALU (84)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Malu merupakan salah satu sifat  manusia yang asasi. Semua manusia memiliki sifat dasar ini. Malu dapat  ditimbulkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Dari faktor internal merupakan sifat yang berasal dari dalam diri manusia, yang terkait dengan perasaan yang hadir dari dalam diri manusia, misalnya malu untuk melakukan tindakan yang tidak relevan dengan etika sosial, etika religius atau etika kemanusiaan. Biasanya  etika itu  berasal dari nilai di dalam ajaran agama.  Misalnya rasa malu karena melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai ajaran agama, malu tidak menghormati orang tua, malu tidak menghormati orang yang lebih tua, malu karena melakukan kekerasan terhadap perempuan atau orang  tua dan sebagainya.

Tetapi juga ada malu yang disebabkan oleh faktor eksternal. Faktor dari luar diri manusia. Malu yang datang dari luar biasanya disebabkan oleh tindakan yang memiliki kesan negatif dari orang lain. Malu seperti ini tidak berdiri sendiri akan tetapi terkait dengan apa yang diketahui orang tentang apa yang dilakukan oleh seseorang. Tindakan yang diketahui oleh orang lain, dan tindakan tersebut bertentangan dengan nilai yang disepakati bersama.

Malu memiliki keterkaitan dengan akhlak. Tidak hanya etika. Akhlak merupakan satu kesatuan dinamis antara akhlak kepada Allah yang dikonsepsikan sebagai hablum minallah, akhlak kepada sesama manusia atau hablum minan nas, dan akhlak kepada alam atau hablum minal alam. Manusia di dalam dirinya atau secara internal memiliki ketiganya. Akan tetapi karena faktor eksternal terkadang satu atau bahkan ketiga di antaranya lalu menjadi kabur dan bahkan hilang di dalam diri seseorang. Faktor pergaulan, misalnya dapat menjadi penyebab menyusut atau hilangnya akhlak tersebut. Juga karena faktor kebutuhan atau kepentingan yang juga menyebabkan hilangnya ketiga akhlak itu. Orang yang melakukan illegal logging adalah seseorang yang kehilangan akhlaknya dalam berhubungan dengan alam. Orang yang melakukan korupsi juga kehilangan akhlaknya kepada Allah dan kepada sesama manusia.

Orang dipastikan memiliki rasa malu. Rasa malu kepada Allah, kepada Rasulullah, kepada para ulama dan juga kepada manusia lainnya. Rasa malu karena tidak menjalankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, malu kepada Rasulullah karena tidak menjalankan sunnah-sunnahnya, malu kepada para ulama karena tidak mematuhi arahannya, dan malu kepada manusia karena tidak mengasihinya. Ajaran malu sesungguhnya menjadi faktor yang sangat mendasar dalam relasi hablum minallah, hablum  minan nas dan hablum minal alam.

Syekh Imam An Nawawi di dalam kitabnya Riyadhus Shalihin menjelaskan tentang rasa malu berdasarkan atas hadits-hadits sebagaimana diriwayatkan oleh ahli hadits. Hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA., bahwa: “Rasulullah SAW berjalan melewati seorang lelaki dari kalangan Anshar yang sedang menasehati saudaranya karena sifat malunya. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Biarkanlah ia, karena sesungguhnya malu itu sebagian dari iman”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih”. Hadits lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Imran bin Husain RA, berkata Rasulullah SAW bersabda: “Malu itu hanya akan mendatangkan kebaikan”. Hadits Mutafaq alaih. Hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Iman itu memiliki tujuh puluh atau enam puluh cabang. Maka cabang yang paling utama adalah ucapan la ilaha illallah (tidak ada illah yang berhak disembah kecuali Allah),  sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan yang mengganggu di jalan, dan malu itu adalah salah satu cabang iman”. Hadits Mutafaq alaih.

Dari penjelasan hadits dan penjelasan sosiologis di atas, maka dapat digarisbawahi atas tiga hal, yaitu:

Pertama, rasa malu merupakan rasa paling asasi di dalam kehidupan manusia. Rasa malu itulah yang membedakan antara manusia dengan hewan. Jika hewan tidak memiliki rasa malu sehingga yang dilakukan tidaklah berdasar atas perasaan mendasar tersebut. Hewan bisa telanjang bulat, bisa melakukan apa saja tanpa pertimbangan apapun. Bisa melakukan kekerasan apapun. Tetapi manusia karena dikaruniai rasa malu, maka akan mempertimbangkan segala sesuatunya untuk melakukan tindakan yang tidak patut bagi kemanusiaan.

Manusia yang memiliki rasa malu tidak akan telanjang bulat di depan umum, tidak akan melakukan relasi sosial yang menyimpang, khususnya lelaki dan perempuan, tidak melakukan kekerasan di muka umum dan sebagainya. Rasa malu yang sesungguhnya bisa menghindarkan manusia dari tindakan yang tidak patut bagi kemanusiaan. Akan tetapi terkadang manusia lebih mengedepankan rasa kebinatangannya dibanding rasa kemanusiaannya. Misalnya di Barat terdapat tempat nudis. Di pantai ada orang yang berpakaian serba minimal, di mana saja ada orang yang mempertontonkan ketidaksenonohan, dan sebagainya.

Kedua, Islam mengajarkan tentang rasa malu, dan dinyatakan bahwa malu adalah sebagian dari iman. Jika seseorang memiliki rasa malu, maka dia telah menggenggam sebagian iman kepada Allah. Hal ini menunjukkan betapa besarnya makna rasa malu itu bagi manusia. Jika memiliki rasa malu, maka dia bisa kal malaikat, dan sebaliknya jika tidak memiliki rasa malu, maka menjadi kal hayawan.

Islam sangat konsern dengan ajaran rasa malu, karena inilah yang hakikatnya membedakan antara manusia dengan hewan. Saya yakin dari dari hati seseorang  yang paling mendalam, semua manusia memiliki rasa malu. Hanya karena faktor-faktor tertentu saja sehingga melakukan tindakan yang tanpa rasa malu tersebut.

Ketiga, rasa malu dipastikan akan mendatangkan kebaikan dan tanpa rasa malu akan mendatangkan kejelekan. Orang yang tidak memiliki rasa malu dipastikan akan menjadi pergunjingan. Filsafat hidup orang Indonesia berbeda dengan orang Barat. Orang barat apa saja bisa dilakukan asal tidak mengganggu secara fisik pada orang lain. Hal ini sesuai dengan filsafat materialisme yang hanya melihat manusia dengan jasadnya saja. Tetapi orang Indonesia melihat manusia dengan jasad, jiwa dan rohnya. Makanya, melakukan apa saja yang tidak sesuai dengan prinsip ajaran agama maka hal itu akan dianggap dapat mengganggu orang lain.

Beriman kepada Allah  memiliki banyak cabang, yang utama adalah berdzikir dengan la ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan benda di jalan yang dapat mencelakakan orang lain. Malu merupakan cabang iman. Jika kita beriman kepada Allah, maka jangan lupa kita suka untuk berdzikir dan juga menyelamatkan manusia lainnya. Dan di antara tanda iman kita itu baik adalah dengan mengedepankan rasa malu untuk tidak mengamalkan apa yang diminta oleh Allah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..