Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TAAT  KEPADA PEMIMPIN DALAM KEBAIKAN BUKAN KEJELEKAN (80)

TAAT  KEPADA PEMIMPIN DALAM KEBAIKAN BUKAN KEJELEKAN (80)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Di dalam dunia Islam, ungkapan menaati pemimpin sudah menjadi kelaziman. Setelah menaati Allah dan Rasulnya, maka lainnya adalah menaati pemimpin. Hal ini sudah umum diketahui oleh masyarakat,  khususnya mereka yang memahami  pembicaraan tentang ulil amri atau pemimpin. Makanya, kebanyakan ulama atau jumhur ulama menyepakati bahwa ketaatan kepada pemimpin merupakan ajaran Islam.

Tetapi Islam tidak mengajarkan ketaatan yang membabi buta. Artinya bahwa taat yang tidak terbatas. Bukan apapun yang dilakukan oleh pemimpin mesti kita patuhi. Jika seorang pemimpin mengajak kepada jalan yang salah atau disebut sebagai jalan thaghut atau jalan yang menuju kepada kemaksiatan dan kejelekan, maka mestilah harus dipikirkan bagaimana ketaatan tersebut dipikirkan dan dilakukan. Jadi bukanlah ketaatan tanpa reserve atau ketaatan yang memandang semua tindakan pemimpin adalah benar.

Sebuah komunitas, masyarakat dan negara bangsa tentu harus memiliki pemimpin. Kehadiran pemimpin tersebut untuk menjaga kemaslahatan umat. Artinya, bahwa tujuan menjadi pemimpin tersebut adalah untuk membawa masyarakat kepada kesejahteraan yang lebih realistis. Seorang pemimpin tidak hanya untuk kelompoknya, untuk golongannya saja akan tetapi untuk seluruh masyarakat yang dipimpinnya. Itulah sebabnya di kala seseorang menjadi pemimpin,  maka stop diri sebagai bagian kelompoknya, sebab yang harus dilakukannya adalah untuk menjadi bagian dari masyarakat secara umum.

Manusia itu selalu berada di dalam benturan kepentingan. Antara kepentingan diri, kelompok dan masyarakat. Di kala menjadi pemimpin,  maka yang diperlukan adalah menjadi pemimpin bagi semuanya. Jangan hanya mementingkan diri, keluarga dan kelompoknya saja tetapi pikirkan seluruh rakyatnya. Jangan ada kolusi dan nepotisme. Ini merupakan awal bencana bagi seorang pemimpin. Jadilah pemimpin untuk rakyat, bukan hanya pemimpin untuk golongannya.

Di dalam Bab ke 80, Syekh Imam An Nawawi menukil ayat Alqur’an di dalam Surat An Nisa’: 59 yang menyatakan: “Hai orang-orang yang beriman, taatlah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu”.

Juga menukil Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Nabi SAW bersabda: “Wajib bagi seorang muslim untuk mendengarkan dan manaati setiap perkara yang ia sukai dan  ia benci. Kecuali, ia diperintahkan untuk maksiat. Apabila ia diperintahkan untuk maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengarkan dan menaati”. Hadits diriwayatkan Bukhari dan Imam Muslim.

Di dalam riwayat lain juga dijelaskan oleh Ibnu Umar RA., bahwa “apabila kami berbaiat kepada Rasulullah untuk mendengarkan dan taat, Beliau bersabda kepada kami: “pada perkara yang kalian mampu”. Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Ada juga Hadits yang diceritakan oleh Ibnu Umar RA., berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan, ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Dan barang siapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diceritakan oleh Anas RA., Rasulullah SAW bersabda: “dengarkan dan taatilah oleh kalian, walaupun orang yang dipercayakan untuk memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya Habsyi (negro), yang kepalanya seperti kismis”. Hadits riwayat Imam Bukhari.

Dari uraian atas pemikiran sosiologis, Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat digaris bawahi atas tiga hal, yaitu:

Pertama, seorang pemimpin menempati hirarkhi sangat tinggi di hadapan Allah dan Rasulnya. Ketaatan  terhadap pemimpin berada di dalam point ke tiga dalam jajaran kepatuhan manusia. Ini mengindikasikan bahwa seorang pemimpin memiliki jenjang kemuliaan setelah Rasulullah SAW. Jika seorang pemimpin dapat mengimplementasikan nilai sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi SAW: shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah, maka derajatnya akan sangat tinggi. Tetapi jika jarak antara nilai kepemimpinan sebagaimana  dicontohkan Nabi SAW, maka akan berat  juga pertanggungjawabannya di masa yaumul ba’ats. Mesti harus dipahami bahwa seorang pemimpin pada level apapun akan ditanya tanggungjawabnya. Oleh karena diperlukan kearifan di kala menjadi pemimpin.

Kedua, Islam tidak mengajarkan ketaatan kepada pemimpin itu ketaatan mutlak. Ada garis demarkasi yang membatasinya. Tidak semua yang datang dari pemimpin itu benar. Jika ada yang salah dan mengajak kepada kemungkaran, maka tidak boleh diikuti. Ketaatan itu berbasis pada analisis atas tujuan dan kemanfaatan atas kebijakan dan implementasinya. Jika kebijakan itu baik dan diimplementasikan dengan baik, maka patut didukung. Akan tetapi jika kebijakannya baik tetapi implementasinya jelek, maka harus dilakukan upaya untuk tidak mengikutinya. Ketaatan kepada seorang pemimpin itu harus ditempatkan pada aspek kemanfaatan dan kemaslahatan untuk umat, yaitu kemanfaatan yang berupa  kesejahteraan yang lebih baik untuk semuanya.

Ketiga, menjadi seorang pemimpin itu harus bertelinga lebar dan tebal. Artinya dengan telinga lebar itu maka suara selirih apapun dapat didengar. Suara yang sangat keras juga pasti didengar. Jeritan rakyat harus didengar dan kebahagiaan rakyat juga didengar. Rakyat yang protes dan yang memuji juga harus didengar, lalu kemudian dapat melakukan analisis yang kuat agar dapat menempatkan keseimbangan antara suara keras, lirih, sedih dan gembira dari rakyatnya. Pemimpin juga harus bertelinga tebal. Telinga tebal bukan berarti bebal, tetapi seseorang yang tidak mudah marah, yang menerima kritik dengan pikiran terbuka dan dapat mengambil pelajaran dari apa yang didengarnya. Janganlah sedikit-sedikit marah. Jika ada yang tidak setuju lalu dimatikan pikirannya. Sekecil dan sebesar apapun kritik harus didengarkan untuk kebaikan dan kemaslahatan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..