• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MEMAAFKAN DAN BERPALING DARI PERILAKU KEBODOHAN (75)

MEMAAFKAN DAN BERPALING DARI PERILAKU KEBODOHAN (75)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada bab ke 75, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Memaafkan dan Berpaling dari orang Bodoh”, lalu saya ubah judulnya menjadi “Memaafkan dan berpaling dari perilaku kebodohan” yaitu suatu bab yang memberikan pemahaman kepada umat Islam tentang pentingnya sikap dan perilaku memaafkan dan agar kita menghindari orang yang berperilaku bodoh dalam kehidupannya. Mungkin ada sebuah pertanyaan, bagaimana kita harus menghindari orang yang bodoh, padahal sebagai sesama manusia tentu kita tidak boleh saling merendahkan dan saling menyepelekan.

Yang dimaksud dengan perilaku  bodoh adalah bodoh dalam keyakinan dan pengamalan keagamaannya. Orang yang sudah jelas mendapatkan keterangan tentang agama Islam, sudah mendapatkan penjelasan yang memadai tentang Islam,  tetapi masih tetap saja di dalam perilakunya yang tidak sesuai dengan amalan-amalan keislaman. Sebagai contoh yang disebutkan di dalam Alqur’an adalah Abu Lahab. Lalu juga ada orang yang sudah mendapatkan penjelasan tentang Islam tetapi tetap menentang adalah Abu Jahal. Jadi bodoh tidak dimaksudkan sebagai orang yang memiliki IQ rendah, akan tetapi orang yang bodoh dalam memahami ajaran agama Islam.

Manusia memiliki akal yang dengan kemampuannya itu dapat memilih mana yang benar dan mana yang salah. Yang haq itu benar dan yang bathil itu salah. Jangan karena factor kekuasaan yang diperolehnya atau akan dicapainya kemudian kita menggunakan kebodohan untuk memilih yang salah dan mengabaikan yang benar. Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW, orang tua Sayyidina Ali adalah orang yang pintar dan memiliki kekuasaan. Akan tetapi karena takut dicela oleh orang lain yang dikuasainya, maka Abu Thalib mengabaikan ajakan Nabi Muhammad SAW. Bahkan sampai wafatnya, dia enggan dan tidak mau untuk membaca kalimat tauhid dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini yang membuat Nabi Muhammad SAW sedih sebab orang yang sangat mencintai dan melindunginya itu wafat dalam keadaan belum bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan dan menguasai seluruh jagad raya.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan berdasarkan ayat Alqur’an di dalam Surat Al A’raf: 199, yang artinya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”. Di dalam Surat Al Hijr: 85 dinyatakan: “Maka maafkanlah (mereka)  dengan cara yang baik”. Di ayat lain, Surat Asy Syura: 43 dinyatakan: “tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, maka yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia”.

Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, menyatakan: “Rasulullah SAW tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, baik istri maupun pembantunya, kecuali di dalam berjihad di jalan Allah, dan Nabi SAW  sama sekali tidak pernah membalas orang yang mengganggunya, kecuali apabila apa yang telah diharamkan Allah itu dilanggar, maka Nabi SAW  semata-mata membalasnya karena Allah”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Lalu juga ada hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Mas’ud RA, berkata: “sepertinya aku melihat Rasulullah SAW saat menceritakan perihal salah seorang Nabi shalawatullah wa salamuhu alaihim yang dipukul oleh kaumnya sampai berlumuran darah, sambil mengusap darah dari wajahnya dan dia berkata: ‘Allahummaghfir li qaumi fa innahum la ya’lamun’ (Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui)”. Juga terdapat Hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “orang yang kuat itu bukan orang yang memiliki kekuatan kecepatan, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu untuk menahan dirinya sewaktu marah”. Hadits Riwayat Shahihain.

Dari uraian di atas, kiranya dapat dipahami tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah itu maha pemaaf dan pengampun. Representasi manusia pemaaf dan pengampun adalah Rasulullah Muhammad SAW. Beliaulah yang dijadikan sebagai teladan dan seluruh kebaikan yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Sebagai manusia maka memerlukan contoh mana perilaku yang baik dan benar dan mana perilaku yang jelek dan salah. Semua sifat kebaikan Allah SWT itu direpresentasikan oleh kehadiran Nabi Muhammad  SAW untuk hambanya. Jika orang bertanya tentang kebaikan Allah SWT kepada hambanya, maka hal itu terwakili oleh kehadiran Nabi Muhammad SAW. Beliau orang yang tidak pernah marah kepada istri dan orang lain. Beliau memaafkan kesalahan orang lain, dan bahkan  di kala Malaikat Jibril akan menjepit orang Thaif dengan dua gunung  karena melukai Nabi Muhammad SAW,  maka Nabi SAW melarangnya sebab tugas kenabian bukan untuk menghukum tetapi menyadarkannya kepada agama Islam.

Kedua, di dunia ini ada dua penggolongan atas manusia yang menerima kehadiran Nabi Muhammad SAW dengan ajaran Islamnya. Ada sebagian yang pintar atau cerdas dengan menerima ajaran Islam dan ada yang bodoh karena tidak menerima ajaran Islam. Orang yang pintar itu adalah as sabiqunal awwalun atau 40 orang pertama yang beriman kepada Allah dan kerasulan Muhammad SAW.   Di antaranya adalah Sayyidina Abu Bakar as Shiddiq. Abu Bakar RA adalah orang yang tidak ada sedikitpun keraguan untuk menerima kebenaran yang datangnya dari Nabi Muhammad SAW. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang tidak masuk akal bagi sebagian orang langsung dibenarkannya tanpa keraguan. Sedangkan orang yang bodoh adalah mereka yang menentang Nabi Muhammad SAW sampai ajalnya. Abu Jahal dan Abu Lahab adalah representasi orang yang bodoh dalam menerima kebenaran Tuhan. Hingga hari ini masih sangat banyak orang yang pintar tetapi bodoh karena tidak mengimani Allah SWT dan mengakui Kenabian Muhammad SAW.

Ketiga, sabar dan maaf adalah dua kata yang sedemikian indah. Orang yang hebat dan kuat adalah orang yang mampu menahan nafsu amarahnya. Janganlah sedikit-sedikit marah dan janganlah apa saja yang kurang dijadikan sebagai sebab kemarahan. Nabi Muhammad SAW tidak pernah marah karena kekurangan yang dilakukan oleh pembantunya. Bukan bertanya kenapa tidak begini dan begitu dalam urusan keduniawian. Akan tetapi Nabi Muhammad SAW sangat tegas dalam menegakkan kalimat Allah dalam kebaikan.

Oleh karena itu ada trilogy penting, yaitu “Sabar, Pemaaf dan Kebaikan”. Secara proposisional dapat saya nyatakan bahwa “ perilaku kebaikan itu sangat tergantung kepada kesabaran dan kepemaafan. Jika umat Islam bisa melakukannya, maka harmoni kehidupan pasti akan menjelang.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..