• June 2026
    M T W T F S S
    « May    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

BERBUDI PEKERTI YANG BAIK (73)

BERBUDI PEKERTI YANG BAIK (73)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pernah pemerintah Indonesia, 2009-2014, memiliki tujuan Pendidikan adalah untuk mencetak anak Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Tujuan Pendidikan bagi anak Indonesia adalah menghasilkan manusia yang cerdas, terutama cerdas otaknya atau cerdas pikirannya, dan memiliki kemampuan untuk berkompetisi di era perubahan social yang semakin mengedepan.

Coba kita cermati dua frasa “cerdas dan kompetitif”. Dua konsep ini tentu sangat luar biasa. Manusia yang memenuhi kriteria hebat. Cerdas otaknya dan kompetitif dalam dunia global. Cerdas  dan kompetitif itu penting dan bahkan urgen. Pemimpin negara dan masyarakat mana yang tidak terkesima membaca hal ini.  Karena dua kata ini yang dapat menaklukkan dunia materi yang memang membutuhkan keduanya.

Akan tetapi ada satu hal yang dilupakan di dalam penetapan rumusan tujuan pendidikan, yaitu mencetak manusia berakhlak mulia. Padahal inilah sebenarnya kata kuci penting untuk mencetak manusia Indonesia. Cerdas, kompetitif dan berakhlak mulia. Orang cerdas dan kompetitif tetapi tidak berakhlak mulia bisa membahayakan di masa depan. Ada banyak orang cerdas dan kompetitif, akan tetapi bermasalah dalam kehidupannya, sebab tidak didasari oleh budi pekerti yang baik. Kiranya dapat digambarkan bahwa ada banyak korupsi yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia disebabkan oleh rendahnya akhlak masyarakat. Bisa jadi mereka memahami agama tetapi tidak mewujud di dalam perilakunya.

Berdasarkan penjelasan Syekh Imam An Nawawi, maka dapat dipahami bahwa umat Islam harus berbudi yang baik berbasis pada ajaran Islam. Ada beberapa ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW yang dijadikan sebagai dasar atas penjelasannya, yaitu sebagaimana di dalam

Alqur’an  Surat Al Qalam: 4 dinyatakan bahwa: “dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi luhur”. Di dalam Surat lain, Ali Imran: 134,  bahwa: “dan orang-oang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang”.

Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Anas RA., berkata:  “Rasulullah SAW itu adalah orang yang paling baik budi pekertinya”. Hadits Riwayat Shahihain. Sahabat Anas RA., juga menyatakan: “saya belum pernah memegang sutra baik tebal maupun tipis yang lebih halus dari tangannya Rasulullah SAW. Dan saya belum pernah mencium bau seharum  bau Rasulullah. Saya pernah menjadi pelayan Rasulullah SAW selama 10 tahun, Beliau tidak pernah mengatakan “husy’ kepada saya atau menegur dengan ucapan, ‘kenapa kamu berbuat seperti ini? Terhadap yang saya kerjakan, beliau juga tidak pernah menegur dengan ucapan ‘kenapa kamu tidak berbuat demikian terhadap apa yang tidak saya kerjakan”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Al Ash, dikatakan: “Rasulullah itu bukan orang yang suka berkata keji dan bukan pula orang yang jahat. Bahkan beliau bersabda: “sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik budi pekertinya”. Hadits Riwayat mutafaq alaih. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Darda’ RA., Nabi SAW bersabda: “tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada baiknya budi pekerti. Dan sesungguhnya Allah itu membenci orang yang keji serta suka berkata kotor”. Hadits  Riwayat Imam At Tirmidzi.

Dari penjelasan  Syekh Imam An Nawawi dan penjelasan saya tentang pentingnya berbudi baik, maka ada tiga catatan yang penting, yaitu:

Pertama,  Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam akhlak. Perbuatan Beliau merupakan contoh bagi manusia dalam berhubungan dengan Allah, berhubungan dengan sesama manusia, dan berhubungan dengan alam. Bagaimana Nabi SAW beribadah kepada Allah, bahkan jika shalat sampai kakinya bengkak, bagaimana Rasulullah memberikan kasih sayang kepada keluarganya, sahabatnya, dan umat Islam. Banyak sekali cerita bagaimana sifat Rahman dan Rahim Allah itu diperankan oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan juga kepada alam, bagaimana Nabi SAW memberikan kasih dan sayangnya. Di kala perang, maka yang diminta kepada pasukannya adalah jangan merusak tempat ibadah, jangan merusak kebun kurma, jangan merusak lingkungan, jangan merusak peternakan, jangan menyakiti kaum perempuan, orang tua dan anak-anak. Sebuah contoh bagaimana Nabi Muhammad SAW merupakan teladan dalam budi pekerti yang luhur.

Kedua, manusia selayaknya mencontoh apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Jangan kurang banyak dan jangan berlebih. Misalnya Nabi SAW pernah meminta kepada Salman al Farisi untuk tetap mengurus keluarganya dan jangan hanya berurusan dengan Allah. Masing-masing punya hak dan jangan tinggalkan salah satunya. Harus berimbang. Nabi SAW juga tidak pernah berkata yang menyakitkan orang lain. Tidak pernah berkata “husy” bahkan kepada orang yang membantunya,  juga Nabi tidak pernah menyalahkan atau merasa tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh orang yang membantunya. Begitu sayangnya kepada cucu-cucunya, Hasan dan Husein, maka Nabi SAW membiarkannya untuk bermain di antara kedua kaki pada saat shalat. Demikianlah Nabi Muhammad SAW menyeimbangkan kehidupan batiniah, kehidupan lahiriyah dan kehidupan social kemasyarakatan dalam keseimbangan yang luar biasa.

Ketiga, manusia sekarang sedang dihinggapi oleh penyakit yang berwujud ingin berkuasa, ingin kaya dan ingin memiliki segalanya, dan terkadang dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan akhlak social di dalam Islam. Manusia yang seperti ini, saya kira sudah saatnya untuk melakukan evaluasi diri di tengah kehidupannya, untuk menilik kembali atas prilakunya yang belum sesuai dengan ajaran Islam.

Marilah kita kembali kepada budi pekerti yang baik, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hanya dengan cara seperti ini, maka keseimbangan kehidupan di tengah masyarakat, negara dan bangsa akan terwujud.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..