Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SUNNAH MENYENDIRI DI TENGAH KERUSAKAN UMAT (69)

SUNNAH MENYENDIRI DI TENGAH KERUSAKAN UMAT (69)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim

Sekarang ini disebut sebagai akhir zaman. Akhir zaman itu diindikatori dengan banyaknya kerusakan umat manusia dalam berbagai aspek kehidupannya. Kerusakan moral itu nyaris di semua bidang kehidupan. Bidang politik misalnya terdapat banyak perilaku politik seperti  abuse of power, penihilan lawan politik, dan kekerasan politik yang nyata.

Di seluruh dunia nyaris terdapat perilaku politik tanpa etika. Para pemimpin bangsa menggunakan kekuasaan untuk ambisi politiknya tanpa memperhituangkan dampak negatif yang terdapat di dalamnya. Contohnya Donald Trump yang menggunakan kekuasaannya untuk melakukan tindakan genosida. Demikian pula Netanyahu dalam perilaku yang sama. Banyak pemimpin dunia yang lebih mementingkan kepentingan diri dan kelompoknya.  Mereka melakukan tindakan politik yang bertentangan dengan realitas social yang diharapkan oleh masyarakatnya.

Dalam aspek social dan ekonomi,  maka di mana-mana terdapat peminggiran kaum yang lemah dan pemihakan terhadap kaum beruntung. Dalam social ekonomi dapat dilihat adanya ketimpangan yang sangat luar biasa. Satu persen orang kaya menguasai atas 99 persen masyarakat lainnya. Dan yang seperti ini nyaris di semua negara. Dunia ini diatur oleh hanya sebanyak satu persen orang kaya. Merekalah yang mengatur apa dan bagaimana dunia masa depan. Hampir di semua negara terdapat 10 orang kaya yang menguasai perekonomian negara. Oleh karena itu di mana-mana masih terdapat kemiskinan structural yang terdapat di negara-negara di dunia. Pemimpin negara berkolaborasi dengan orang kaya untuk mengarahkan dan mengatur masa depan negara.

Inilah yang disebut sebagai fitnah dunia. Banyak sekali terdapat kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Ada banyak kebijakan yang hanya memihak kepada yang kaya dan meminggirkan yang miskin. Fitnah yang besar adalah ketika agama dijadikan sebagai basis untuk mendukung politik penguasa. Agama ditafsirkan untuk mendukung kebijakan pimpinan negara yang tidak selaras dengan kepentingan umat. Agama hanya sebagai cover atau pembungkus kebijakan. Padahal sesungguhnya agama harus menjadi substansi yang menjadi pedoman di dalam berbagai kehidupan masyarakat. Disinilah, maka melakukan tindakan uzlah merupakan hal yang sangat baik.

Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Menyendiri Ketika Rusaknya Moral Manusia Dan Zaman Atau Takut Fitnah Agama Dan Jatuh Pada Perkara Haram, Syubhat, Atau Sebagainya”. Di dalam artikel ini saya ringkas judulnya menjadi “Sunnah Menyendiri di Tengah Kerusakan Umat”.

Alqur’an menjelaskan sebagaimana dinyatakan di dalam Surat Adz Dzariyat: 50 bahwa, Allah berfirman: “maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu”.

Kemudian terdapat hadits sebagaimana diceritakan Sa’ad bin Abi Waqash RA. Ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda; “sesungguhnya Allah mencintai orang bertaqwa yang kaya (jiwanya) yang tersembunyi (mengasingkan diri beribadah kepada Allah)”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Juga hadits yang diceritakan oleh Abu Sa’id Al Khudri, RA. Ia berkata: “seorang lelaki berkata: “siapakah manusia yang paling utama wahai Rasulullah? Ia bersabda: “seorang mukmin yang berjihad fi sabilillah dengan jiwa dan hartanya. Ia berkata: “kemudian siapa? Ia bersabda: “seorang lelaki yang mengasingkan diri di sebuah bukit, ia beribadah  kepada Rabbnya (dalam Riwayat lain, ia bertaqwa kepada Allah) dan membiarkan manusia terbebas dari gangguannya:. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits dari Abu Hurairah RA menyatakan bahwa Rasulullah bersabda: “sebaik-baik hidup manusia adalah seorang lelaki yang memegang tali kudanya (untuk jihad fi sabilillah),  segera menunggangi kudanya setiap kali  ia mendengar ada panggilan perang atau jihad, ia segera menuju tempat tersebut, menginginkan perang atau kematian di temat yang duduganya atau seseorang yang menggembalakan kambingnya di kaki bukit, atau di dasar lembah, ia mendirikan shalat, membayar zakat, beribadah kepada Rabbnya hingga ajal menjemputnya, ia tidak berhubungan dengan manusia kecuali dalam hal kebajikan”. Hadits Riwayat imam Muslim.

Dari penjelasan tersebut, maka dapat digaris bawahi tiga hal, yaitu:

Pertama,  dunia ini tidak berada di dalam keadaan baik-baik saja. Bayang-bayang kekerasan, perang dan tindakan perusakan terus terjadi. Informasinya sedemikian menakutkan. Perang menggunakan rudal dengan presisi yang nyaris sempurna dengan daya rusak yang luar biasa. Perang rudal terjadi di beberapa negara yang terlibat konflik dan hal ini sangat membahayakan manusia. Semuanya  dilakukan dalam makna saling menghancurkan dan saling memenangkan peperangan. Inilah zaman yang tidak menentu, zaman dengan penguasaan teknologi persenjataan yang sangat presisi dalam daya rusaknya.

Sesungguhnya manusia sedang menuju dalam kehancurannya sendiri. Melalui penggunaan persenjataan berbasis AI dengan tingkat presisi yang nyaris sempurna, maka akan sangat membahayakan manusia. Yang dilakukan oleh Israel dan Amerika dalam peperangan melawan Iran merupakan contoh, bagaimana negara seperti US ingin menguasai seluruh dunia melalui penaklukan yang didasari oleh perang rudal berbasis AI. Dunia sudah tidak lagi menyajikan keteraturan dan keharmonisan,  akan tetapi dipicu untuk melakukan peperangan karena terpaksa melakukannya. Iran adalah contoh negara yang dipaksa untuk berperang.

Kedua, di dalam konflik dunia, agama juga dilibatkan di dalamnya. Misalnya Israel yang mengklaim untuk kepentingan agama Yahudi. Lalu Iran yang harus berperang melawan US dan Israel juga harus menggunakan sentiment keagamaan untuk melawan kedholiman dua negara dimaksud. Dalam konteks ini, maka Islam menganggap bahwa jihad dalam makna perang menjadi relevan. Harakah jihadiyah. Tetapi di negara damai, maka jihad dapat diartikan lebih netral dan bukan satu-satunya berarti perang. Jihad dapat dimaknai sebagai upaya serius dan berkesinambungan dalam kerangka membangun kehidupan manusia yang lebih baik.

Ketiga, di tengah semakin besarnya fitnah atas kehidupan manusia di dalam berbagai aspeknya, seperti social, ekonomi, politik, budaya dan agama, maka Islam memberikan pahala kepada orang yang berusaha menghindari perilaku jahat dengan cara menyendiri secara terhormat. Inilah yang disebut sebagai uzlah. Di masa lalu, uzlah diartikan sebagai menyendiri dari public untuk dzikir kepada Allah. Di masa sekarang, uzlah merupakan upaya untuk menyendiri dalam keramaian. Sebuah prilaku yang berbeda dengan kebanyakan orang. Jika terdapat banyak kesalahan yang dilakukan di ruang public, maka kita harus menyendiri dalam prilaku  untuk kepentingan menjaga marwah agama. Jika dunia dalam fitnah, banyak yang menyuruh berbuat yang munkar, dan melakukan tindakan menabrak yang syubhat dan prilaku permissiveness, maka layaklah kita melakukan uzlah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..