MENGINGAT KEMATIAN (65)
MENGINGAT KEMATIAN (65)
Prof. Dr. Nur Syam, MSI
Bismillahir rahmanir Rahim
Salah satu misteri kehidupan adalah kematian. Manusia terlahir di dunia dan kemudian mati. Lahir, hidup dan mati. Ini merupakan rutinitas di dalam kehidupan manusia. Tidak ada satupun manusia yang tidak mengalami kematian, kecuali beberapa Nabi yang kemudian diangkat oleh Allah ke langit, misalnya Nabi Isa AS. Dia tidak mati di tiang Salib sebagaimana keyakinan orang Nasrani, yang beranggapan bahwa Isa AS., mati di tiang Salib dan kemudian dibangkitkan. Ajaran Islam menyatakan bahwa Nabi Isa AS bukan mati di tiang Salib tetapi diangkat Allah ke haribaannya. Ini sebuah eksepsi. Tetapi pada umumnya ada kelahiran, ada kehidupan dan ada kematian.
Mati merupakan takdir Tuhan yang azali atau takdir dengan tingkat presisi yang pasti dan tepat waktu. Salah satu takdir Tuhan yang pasti atau takdir mubram adalah kematian. Di dalam Alqur’an dinyatakan bahwa jika takdir kematian itu datang, maka tidak dapat diundur dan ditunda. Pasti akan mati dimanapun dan kapanpun. Allah memberikan tujuh aspek di dalam masa 40 hari terakhir atau saat mudghah dengan takdir, hasrat, hidup, ilmu, mendengar, melihat dan berbicara. Ketujuhnya itu dihembuskan oleh malaikat atas perintah Allah bersamaan atau beriringan dengan hembusan roh atas jasad atau mudghah yang sudah sempurna sebagai manusia.
Manusia harus menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan manusia itu ada batas akhirnya. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar manusia mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Ada dua saja yang diinginkan oleh ajaran Islam, yaitu beriman dan beramal shaleh. Ada orang yang beriman tetapi tidak beramal shaleh. Dan ada orang yang beramal shaleh tetapi tidak beriman. Inilah realitas kehidupan. Tentu yang benar adalah orang yang beriman kepada Allah dan seluruh atribut keimanan serta kemudian mengamalkan amalan-amalan shalihan. Jika keduanya bisa dilakukan, maka itulah yang disebut sebagai orang yang bahagia di dunia dan akherat.
Syekh Imam An Nawawi mengutip ayat Alqur’an dan hadits-hadits Nabi SAW. Artikel ini menukil beberapa ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW yang sangat relevan dengan maksud tema kajian. Allah berfirman di dalam Surat Ali Imran: 185, bahwa: “Tiap-tiap orang yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari nerakan dan dimasukkan di dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan dan memperdayakan”. Di dalam surat Al Lukman: 34, bahwa: “dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati”. Ayat Alqur’an juga menyatakan di dalam Surat An Nahl: 61, bahwa “…maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya walapun sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya”.
Hadits Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW menepuk bahuku lalu bersabda: “jadilah engkau di dunia itu seperti orang asing atau sebagai orang yang menyeberang jalan”. Ibnu Umar berkata: jika engkau berada di sore hari, maka janganlah engkau menunggu waktu pagi dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah engkau menunggu waktu sore. Ambillah kesempatan sewaktu engkau sehat untuk sakitmu dan sewaktu engkau masih hidup untuk matimu”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.
Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “bersegeralah kalian untuk melakukan amalan-amalan yang baik sebelum datangnya tujuh perkara, apakah kalian tidak menantikan kecuali datangnya kefakiran yang melalaikan atau kekayaan yang menyebabkan kecurangan, atau sakit yang merusakkan tubuh atau tua yang menyebabkan kurangnya akal pikiran, atau kematian yang cepat, ataupun Dajjal, maka dia adalah seburuk-buruknya makhluk gaib yang dinantikan, atau datangnya hari kiamat, padahal kiamat itu adalah bencana terbesar serta yang terpahit deritanya”. Hadits Riwayat Imam Tirmizi. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah bersabda: “Perbanyaklah oleh kalian mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan, yaitu kematian” Hadits Riwayat Imam Attabarani.
Dari penjelasan di atas, kiranya dapat dipahami dengan tiga hal, yaitu:
Pertama, Islam sebagai agama terakhir yang diturunkan kepada umat manusia merupakan agama yang lengkap. Agama yang mengajarkan agar manusia berpikir tentang kematian dan tidak hanya berpikir tentang keduniawian. Dengan berpikir tentang adanya kepastian dengan takdir yang pasti terjadi, maka akan dapat membawa pikiran dan kesadaran manusia untuk tidak merasa sebagai manusia yang paling hebat. Yang paling pintar, yang paling kaya, yang paling berhasil. Pikirannya serba yang paling.
Manusia yang seperti ini akan dapat disebut sebagai makhluk yang melecehkan Tuhan yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, dengan mengingat bahwa kematian itu selalu mengintip kehidupannya, maka manusia akan menjadi rendah hati, merasa tidak memiliki sesuatu yang lebih, merasa hanya sebutir debu yang tidak memiliki kapastitas lebih. Manusia yang menghormati yang tua dan memanusiakan yang muda. Yang menyayangi di bumi, sehingga kasih sayang di atas akan dapat diraihnya.
Kedua, sehebat-hebatnya manusia pasti ada kelemahannya. Sekuat-kuatnya manusia juga tidak akan dapat melawan takdir kematiannya. Tubuhnya tergeletak di bumi, rohnya melesat menuju alam lain, dan jiwanya lepas menuju mengikuti rohnya jika jiwanya baik, nafsul muthmainnah, tetapi jika jiwanya jelek atau nafsu amarah maka akan mengikuti jasadnya. Menjadi tidak berdaya. Melalui mengingat mati atau dzikrul maut, maka kita diajari agar di dalam hidup yang sangat terbatas tahunnya tersebut dimanfaatkan untuk hablum minallah yang seimbang dengan hablum nas dan bahkan juga hablum minal alam. Janganlah kita hanya beribadah untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga beribadah untuk kemanusiaan dan bahkan untuk alam. Manusia tidak hanya bertadabbur alam, akan tetapi juga bertadabbur insan.
Ketiga, jika kita baca ayat Alqur’an dan hadits Nabi SAW sebagaimana terurai di atas, maka manusia harus berpikir, berkesadaran dan bertindak kebaikan sebagai bekal untuk menyongsong kehidupan di alam barzah atau alam akhirat. Jika ini yang dipahami, maka manusia akan dapat menyelesaikan tugas kemanusiaannya secara seimbang dan bermakna. Marilah kita benar-benar menyadari bahwa manusia itu bukan siapa-siapa. Manusia adalah makhluk yang lemah, bahkan tidak berdaya. Dan keberdayannya itu hanya karena kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT.
Wallahu a’lam bi al shawab.
