BERLOMBA UNTUK AKHERAT MELALUI KEBERKAHAN (63)
BERLOMBA UNTUK AKHERAT MELALUI KEBERKAHAN (63)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Kebanyakan manusia bukanlah berlomba-lomba untuk kepentingan akhirat. Untuk apa melakukan sesuatu yang ke depan tidak jelas. Akhirat itu urusan dunia yang akan datang, yang bisa ada dan bisa tidak. Akhirat itu dunia khayalan yang tidak jelas juntrungannya. Bagi orang yang berpaham materialisme, maka yang layak dipercaya itu yang nyata saja, yang riil saja atau yang empiris saja. Hal-hal yang tidak nyata tidak perlu dipercayai. Tidak perlu diyakini. Begitulah dunia manusia yang berpandangan positivisme. Dunia yang serba material inilah yang kemudian menghasilkam atheism atau pandangan bahwa Tuhan itu tidak ada.
Bagi orang yang beriman dengan sepenuh keyakinan maka keberadaan Tuhan adalah kemutlakan. Tuhan itu ada secara mutlak. Tidak bisa dibantah. Tuhan itu keberadaannya bersifat metaempiris-teologis. Artinya tidak hanya berbicara tentang apa yang ada dibalik yang empiris atau yang fisik, akan tetapi ada yang berada di balik yang metapisik, yang metaempiris, bahkan sebagai inti keberadaan, yang mencipta dan mengatur seluruh kehidupan planet dan tata surya ini.
Inilah yang menghasilkan theisme, atau keyakinan bahwa ada yang menciptakan, memiliki dan mengatur seluruh jagad raya yang belum seluruhnya kita ketahui. Meskipun sudah menemukan alat-alat canggih untuk mengamati tata surya, akan tetapi pengetahuan manusia hanya kira-kira lima persen saja atas seluruh jagad raya. Hipotesis tentang Akal Agung yang menciptakan jagad raya sudah diyakini oleh para ilmuwan, sebab tidak ada yang teratur yang terjadi dengan sendirinya, pasti ada yang mengaturnya. Itulah Tuhan yang diyakini keberadaannya.
Itulah sebabnya manusia diharapkan agar dapat memahami tentang Allah SWT dengan segala atribut yang melekat pada-Nya. Di antaranya adalah dengan melaksanakan ajaran-ajaran kebaikan sebagaimana diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dan akhirnya sampai kepada kita semua. Manusia diminta untuk berlomba-lomba di dalam kebaikan. Fastabiqul Khairat, berlomba-loma dalam kebaikan. Semua itu dilakukan agar mendapatkan berkah Allah, yaitu kebaikan yang selama lama semakin banyak dan semakin banyak, sehingga tidak hanya bemanfaat bagi dirinya, tetapi juga untuk keluarganya dan masyarakat.
Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang berlomba-lomba mencari kebaikan, dengan ayat Alqur’an yang memberikan penjelasan di dalam Surat Al Muthafifin: 26 bahwa: “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”.
Hadits Nabi SAW sebagaimana diungkapkan oleh Sahal bin Sa’ad RA bahwa Rasulullah SAW diberi minuman lalu Beliau meminumnya, sedangkan di sebelah kanannya ada seorang anak dan di sebelah kirinya ada orang-orang tua. Lalu Beliau bersabda kepada anak itu, “apakah kamu mengizinkan kalau saya memberikan minuman ini kepada orang-orang tua itu dahulu”. Anak itu menjawab: “tidak, demi Allah wahai Rasulullah, saya tidak akan memberikan bagianku darimu kepada orang lain”. Kemudian Rasulullah SAW meletakkan minuman itu di tangannya”. Hadits Mutafaq alaih.
Juga hadits yang diterangkan oleh Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda. “Pada suatu ketika, Nabi Ayyub RA mandi dengan telanjang, lalu jatuhlah padanya seekor belalang dari emas. Beliau lalu mengibas-ibaskan bajunya. Kemudian Rabbnya azza awa jalla memanggilnya “Wahai Ayyub, bukanlah aku membuatmu tidak membutuhkan terhadap apa yang engkau lihat itu”. Ayyub AS menjawab: “benar demi keagungan-Mu, saya sama sekali tidak dapat merasa kaya pada keberkahan-Mu”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.
Berdasarkan penjelasan di atas, kiranya dapat ditegaskan atas tiga hal, yaitu:
Pertama, Allah SWT memberikan perintahnya agar manusia selalu berupaya menjadi yang terbaik dengan berlomba-lomba untuk mencari kebaikan. Sebagaimana diajarkan di dalam Islam, bahwa kebaikan adalah instrument untuk kepentingan mendapatkan kehidupan di akherat yang terbaik. Di dalam Alqur’an disebut sebagai ahlul yamin atau golongan kanan, yang dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan kebahagiaan hakiki.
Kita diminta oleh Allah SWT untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Melakukan kebaikan secara terus menerus dan semakin baik, semakin baik. Jika kita dapat melakukannya, maka itulah yang juga disebutkan sebagai “sebaik-baik manusia adalah yang paling bertakwa kepada Allah”. Di sini berarti ada kompetisi untuk melakukan kebaikan. Siapa yang paling baik itulah yang beruntung.
Kedua, Nabi dan Rasul Allah adalah teladan. Nabi Ayyub AS sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW diberikan anugerah oleh Allah SWT yang berupa benda, belalang emas, akan tetapi Nabi Ayyub AS tidak bergembira dan tidak menerimanya, bahkan di buangnya. Hal ini menandakan bahwa Nabi Ayyub AS menyadari bahwa pemberian itu tidak akan membahagiakannya, bahkan mungkin menyengsarakannya. Bukannya menolak rejekinya Allah, akan tetapi khawatir bahwa yang diberikan itu adalah ujian atas kenabiannya dan ibadahnya. Penolakan itu bukan sebagai mengingkari kenikmatan Allah SWT tetapi menyadari bahwa di tengah zuhud atas dunia, maka pemberian itu adalah cobaan Allah SWT.
Ketiga, di sisi lain, Rasulullah SAW adalah seorang yang sangat menghargai atas umatnya. Di dalam contoh seorang anak yang ditanya tentang kesediaannya untuk berbagi dengan orang tua-tua lainnya, maka anak tersebut mempertahankan haknya karena air itu sudah diminum oleh Rasul. Tentu mengandung keberkahan. Makanya dia pertahankan pemberian Rasul tersebut. Orang tua itu menerima karena itu adalah pemberian Rasulullah SAW. Hikmahnya adalah berikan sesuatu kepada yang berhak dan jangan mempertanyakan bagaimana hak tersebut harus ditunaikan.
Dengan demikian, terdapat trilogi penting yaitu: kebaikan, keberkahan dan pahala Allah SWT. Kebaikan yang semata-mata untuk Allah SWT akan menghasilkan keberkahan dan kemudian akan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Sungguh orang yang bisa melakukan itulah orang yang disebut sebagai bagian dari ashabul yamin atau orang yang memiliki peluang besar untuk masuk surga.
Wallahu a’lam bi al shawab.
