MENGUTAMAKAN ORANG LAIN DAN MEMBERI KEMUDAHAN (62)
MENGUTAMAKAN ORANG LAIN DAN MEMBERI KEMUDAHAN (62)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Kebanyakan orang dipastikan mengutamakan diri dan keluarganya. Jarang orang yang mengutamakan orang lain dan memberi kemudahan padanya. Sifat manusia yang mendasar adalah mencintai diri dan kurang mencintai orang lain. Sejauh-jauhnya adalah mencintai keluarganya. Diri dulu, keluarga dan baru orang lain. Begitulah kira-kira logikanya. Makanya, banyak orang yang mementingkan diri sendiri dan keluarganya dan bahkan tidak ada yang mementingkan orang lain.
Dari basis dasar pemikiran seperti ini, maka kemudian muncul konsep dan perilaku yang disebut sebagai nepotisme. Yaitu pemahaman dan sikap yang mementingkan diri dan keluarga. Terutama dalam akses kehidupan seperti ekonomi, kekuasaan, pangkat, jabatan dan peluang untuk memperoleh keuntungan. Nepotisme telah menjadi fenomena social yang berlaku dalam sejarah panjang kehidupan manusia. Nepotisme sesungguhnya telah menjadi musuh umum atau common enemy pada masyarakat yang menghendaki kesetaraan di dalam kehidupan social. Tetapi tentu sangat sulit untuk memberantas nepotisme sebab telah menjadi tradisi di dalam kehidupan masyarakat di tengah kehidupan yang serba sulit.
Syekh Imam An Nawawi telah menjelaskan tentang “mengutamakan orang lain dan memberi kemudahan” berbasis pada teks Kitab Suci Alqur’an. Di dalam Surat Al Hasyr: 9, dinyatakan: “…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan”. Kemudian juga di dalam Surat Al Insan: 8, dinyatakan: “dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”.
Kemudian di dalam hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW bersabda: “makanan untuk dua orang itu cukup untuk tiga orang dan makanan tiga orang itu cukup untuk empat orang”. Hadits Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim. Kemudian di dalam hadits lain dijelaskan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu said Al Khudri RA., berkata: “pada waktu kita sedang bepergian bersama Nabi SAW tiba-tiba datanglah seorang lelaki dengan menaiki kendaraannya, lalu ia menengokkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “barangsiapa yang memiliki kelebihan kendaraan, hendaklah bersedekah dengan kelebihannya itu kepada orang yang tidak mempunyai kendaraan. Dan barang siapa yang memiliki kelebihan bekal makanan, maka hendaklah bersedekah kepada orang yang tidak memiliki bekal makanan”. Hadits Riwayat Imam Muslim.
Dari penjelasan ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW serta pemahaman atas upaya mengutamakan orang lain, maka kiranya dapat dipahami tiga hal, yaitu:
Pertama, hubungan social antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar adalah relasi persaudaraan berbasis pemahaman agama yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Orang Anshar sedemikian menghormati dan menyayangi kepada orang Muhajirin. Keduanya menjadi sahabat Nabi yang utama di dalam perjalanan perjuangan untuk menegakkan agama Allah. Keduanya saling menolong dalam kebaikan. Saling menolong dalam kesenangan dan kesusahan. Relasi social di antara keduanya itulah yang menjadikan perjuangan Islam di kala itu menjadi lebih bermakna.
Ada dua penggolongan masyarakat berdasar atas usaha untuk mengutamakan orang lain, yaitu: orang yang memiliki kepedulian kepada orang lain. Kelompok ini tidak mengutamakan diri dan keluarganya akan tetapi juga mengutamakan orang lain yang diyakini telah menjalankan kebaikan sebagaimana keyakinan agamanya. Mereka ini dipersatukan bukan oleh sanak saudara, kerabat dan kawan sebelumnya, tetapi diikat di dalam ikatan persaudaraan sesama umat Islam. Lalu, ada orang yang tidak perduli kepada orang lain. Baginya yang utama adalah dirinya dan keluarganya. Jika ada peluang apapun, yang diutamakan adalah keluarganya. Inilah yang di dalam konsepsi Ibnu Khaldun disebut sebagai ashabiyah atau persaudaraan yang berbasis kepada kekerabatan. Yang seperti ini sebenarnya adalah persaudaraan masyarakat kuno yang berbasis pada kepentingan keluarga.
Kedua, keinginan untuk mendahulukan orang lain adalah sifat manusia yang sangat utama, dan secara empiris memang tidak banyak yang bisa melakukannya. Untuk bisa mendahulukan orang lain, maka yang utama menjadi pertimbangannya adalah kapasitas dan kelebihannya atas orang yang lain. Misalnya di dalam perebutan kekuasaan, jabatan dan akses atas kehidupan yang lebih luas, maka pilihannya tentu terkait dengan kapasitas yang bersangkutan. Jangan gunakan konsep dasar, yang harus didahulukan adalah yang menjadi keluarganya atau kerabatnya.
Ketiga, Islam mengajarkan agar kita mempermudah dan bukan mempersulit. Jangan sampai kita menggunakan ungkapan: “jika bisa dipersulit mengapa harus dipermudah”. Tetapi yang benar adalah: “jika bisa dipermudah kenapa dipersulit”. Dua ungkapan yang sangat berbeda di dalam realitas kehidupan. Makanya kita harus memilih yang mempermudah dan bukan yang mempersulit. Jangan “senang melihat orang susah atau susah melihat orang senang”, yang biasa disebut SMS. Doa kita adalah: “Allahumma yassir wa la tuassir atau Ya Allah permudahlah dan jangan persulit”. Jadi doa kita kepada Allah adalah agar Allah memudahkan seluruh urusan kita dan jangan sampai terjadi kebalikannya menjadi serba sulit urusan kita.
Dengan demikian, tugas kemanusiaan yang sangat penting di dalam kehidupan adalah mengutamakan orang lain sebagaimana kita mengutamakan diri dan keluarga, serta yang tidak boleh dilupakan adalah mempermudah urusan yang sebenarnya bisa dipermudah. Jika kita mempermudah urusan orang, Allah SWT akan mempermudah urusan kita.
Wallahu a’lam bi al shawab.
