Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

LARANGAN  PELIT DAN KIKIR (61)

LARANGAN  PELIT DAN KIKIR (61)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir rahmanir Rahim

Secara tipologikal,  manusia dapat digolongkan dalam beberapa penggolongan dilihat dari relasi diri dengan harta dan kemanusiaan. Ada yang disebut dengan orang yang dermawan, yaitu orang yang banyak melakukan sedekah, infaq dan zakat. Mereka orang yang mematuhi atas perintah agama untuk menyisihkan sebagian kecil hartanya untuk kepentingan manusia dan agama. Mereka menyumbangkan hartanya untuk kepentingan dakwah, pendidikan, ekonomi, SDM, dan lainnya. Misalnya suka memberi makan kepada orang yang membutuhkan dan juga menyumbangkan hartanya untuk menolong orang-orang yang terpinggirkan, kaum fakir dan miskin.

Sementara itu ada orang yang dapat diklasifikasikan sebagai kikir atau bakhil, yaitu orang yang tidak melakukan aktivitas memberi dalam bentuk apapun. Di dalam hidupnya tidak terdapat pemahaman untuk infak, sedekah atau zakat. Tidak ada di dalam kamus hidupnya untuk menolong orang lain. Baginya, harta yang didapatkannya adalah usahanya sendiri tidak ada kaitannya dengan manusia apalagi Tuhan. Mereka adalah orang yang memuja keberhasilan atas usaha sendiri dan tidak ada intervensi yang datang dari orang lain. Itulah sebabnya mereka enggan untuk berbagi kepada orang lain yang mengalami kehidupan yang belum optimal.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang mengajarkan agar manusia saling menolong. Di dalam Islam, instrument untuk melakukan pertolongan tersebut telah dirumuskan dengan sangat jelas. Instrument tersebut adalah zakat yang dikeluarkan setahun sekali dalam kepemilikan barang yang sudah memenuhi nisabnya, atau juga zakat fitrah. Lalu terdapat infaq yang diberikan kepada lembaga keagamaan, pendidikan atau tempat ibadah dan ada sedekah yang diberikan kepada orang lain dalam berbagai bentuk dan kegunaannya.

Secara empiris, ada orang kaya yang dermawan, ada orang kaya yang pelit, ada orang yang hanya berkecukupan tetapi memiliki kesadaran untuk berbagi dan ada orang yang berkecukupan tetapi pelit. Pemberian  yang diberikannya bukan untuk pencitraan agar dianggap sebagai orang baik, akan tetapi tumbuh dari kesadaran betapa pentingnya memberi dengan keikhlasan. Kita semua berharap agar bisa meneladani orang-orang baik yang suka memberi  dan bukan pelit atau kikir.

Segala sesuatu perlu pembiasaan. Mula-mula pasti berat. Pasti ada perasaan pelit atau enggan untuk memberi. Pikirannya bekerja sesuai dengan hukum materi. Yang saya dapatkan adalah untuk saya sendiri. Akan tetapi Islam mengajarkan agar orang berbagi atas sedikit atau banyak kelebihan harta yang didapatkannya. Jika orang menyadarinya, maka lama kelamaan akan menjadi kebiasaan dan jika tidak melakukan akan terdapat rasa kurang amalnya.

Syekh Imam An Nawawi menukil ayat Alqur’an sebagaimana Allah menjelaskan di dalam ayat Alqur’an Surat Al Lail: 8-11, bahwa “Dan adapun orang yang kikir dan merasa cukup (tidak perlu pertolongan Allah) serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan), dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa”. Allah SWT juga berfirman dalam Surat At Taghabun: 16, bahwa “dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Di dalam hadits yang diceritakan oleh Jabir RA., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “jauhilah perbuatan zalim,  karena sesungguhnya kedzaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat.  Dan jauhilah sifat kikir, karena kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir telah menumpahkan darah dari mereka sendiri dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan atas mereka. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari berbagai penjelasan di atas, dapatlah kiranya dijelaskan di dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, ajaran Islam merupakan ajaran yang very completeness. Tidak hanya ibadah kepada Allah dalam wujud hablum minallah, akan tetapi juga ajaran untuk memberi kepada yang membutuhkan atau hablum minan nas. Ajaran Islam tentang pemberian sungguh ajaran yang sangat mulia. Islam ajaran yang menekankan untuk mencintai kemanusiaan. Wujud cinta kemanusiaan itu salah satu di antaranya diwujudkan dalam ajaran pemberian. Islam sangat memberikan apresiasi atas orang yang suka memberi dengan janji Allah bahwa barang atau apapun yang diberikan itu tidak akan mengurangi atas apa yang dimiliki, bahkan Allah akan menambahkannya.

Kedua, yang lebih utama dari pemberian adalah pahala yang disediakan oleh Allah kepada umatnya yang suka memberi. Bahkan Nabi Muhammad SAW menyatakan akan menghindarkan dari neraka bagi orang yang hanya berderma sebesar satu biji kurma. Inilah janjinya Allah, dan kita semua menyadari bahwa Allah bukanlah yang suka mengingkari janji. Innallah la yukhliful mi’ad, sesungguhnya Allah tidak akan mengingkari janjinya. Kita semua tentu berharap diberikan oleh Allah kelapangan hati untuk memberi dan tidak menjadi orang yang bakhil atau kikir. Sesungguhnya orang yang kikir itu seperti orang yang menjadikan hartanya sebagai piranti untuk membakarnya. Kita sadar bahwa memang tidak mudah untuk melakukannya, akan tetapi sesungguhnya setiap manusia memiliki kesadaran social atau social intelligent yang akan dapat mengantarkannya untuk mencintai kemanusiaan.

Ketiga, sesungguhnya di dunia ini lebih banyak orang yang berpaham materialisme atau materi segala-galanya. Dan dalam harta sangat sedikit  yang berpikir agama segala-galanya. Itulah sebabnya banyak orang yang hanya berpikir akumulasi modal atau menjadi kaum kapitalis dari pada menjadi agamis. Seandainya lebih banyak orang yang dermawan ketimbang yang kikir, maka dunia akan menjadi lebih baik. sayangnya bahwa belum semua umat Islam menyadari akan pentingnya pemberian sebagai instrument untuk membangun kesejahteraan bersama.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..