BERUSAHA MEMPEROLEH MAKANAN DENGAN MENJAGA KEHORMATAN (59)
BERUSAHA MEMPEROLEH MAKANAN DENGAN MENJAGA KEHORMATAN (59)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bsimillahir Rahmanir Rahim.
Pada Bab 59, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Anjuran Makan Dari Usaha Sendiri Dan Menjaga Kehormatan Diri Dari Meminta-Minta Dan Berharap Diberi”. Di dalam tulisan ini lalu saya ringkas menjadi: “Berusaha Memperoleh Makanan dengan Menjaga Kehormatan”.
Semenjak 14 abad yang silam, Rasulullah SAW sudah menekankan bahwa makanan yang berasal dari usaha sendiri itu lebih utama dibandingkan makanan yang diperoleh dengan meminta-minta. Sebuah anjuran agar seseorang bekerja dengan tangannya atau dengan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan biologisnya. Kebutuhan biologis itu memang macam-macam. Yang utama adalah sandang, pangan dan papan. Pakaian untuk menutup tubuh, pangan untuk memenuhi kebutuhan badan dan papan untuk memenuhi kebutuhan berteduh. Inilah kebutuhan dasar manusia dalam tradisi Jawa. Tiga kebutuhan ini adalah kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Tidak boleh tidak. Tiga kebutuhan dasar ini, terutama makan diwajibkan harus dipenuhi dengan tangan sendiri atau bekerja.
Pemenuhan kebutuhan makan tentu bukan sederhana, sebab harus dipenuhi setiap hari. Sesuai dengan kadar dan standar makanan yang sehat dan mengenyangkan. Nabi Muhammad SAW membuat ibarat dengan bekerja untuk mengambil kayu yang diikat dan kemudian dijual, dan hasilnya itu dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan. Jangan bertanya tentang kualitas makanan. Nabi Muhammad SAW dan keluarganya tidak pernah kenyang makan dalam dua hari berturut-turut. Makannya, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah RA hanya terdiri dari dua benda hitam, yaitu kurma dan air.
Allah SWT memiliki kasih sayang yang tidak ada ukurannya kepada hamba-hambanya. Semuanya disediakan rejekinya. Hanya saja ada orang yang berusaha secara optimal untuk meraihnya, dan ada yang ala kadarnya. Allah SWT telah memberinya contoh yang luar biasa, yaitu Nabi Muhammad SAW, sebagai penggembala domba dan pedagang. Dua jenis pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan, kesungguhan dan kejujuran. Penggembala memerlukan ketelatenan dan kesabaran, serta perdagangan membutuhkan keuletan dan kejujuran. Syarat dalam perdagangan adalah siddiq dan amanah. Nabi Muhammad SAW bukanlah tipe manusia yang suka berpangku tangan akan tetapi pekerja keras. Hal ini seirama dengan ayat Alqur’an yang mengajarkan agar manusia mencari rejeki dengan kerja keras.
Allah SWT berfirman di dalam Surat Al Jumu’ah: 10, bahwa: “apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, dan carilah karunia Allah”. Lalu juga terdapat hadits yang dinukil untuk menjelaskan tentang judul tersebut, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zubair bin Awwam R.A., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sungguh seandainya salah seorang kalian mengambil beberapa utas tali, lalu pergi ke gunung, kemudian kembali dengan memikul seikat kayu bakar di atas pundaknya lalu menjualnya, sehingga dengan hal itu Allah mencukupkan kebutuhannya, maka hal itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberinya atau tidak”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.
Di hadits lain juga dijelaskan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “sungguh seandainya salah seorang kalian mengumpulkan seikat kayu yang dipikul di atas punggungnya, itu lebih baik baginya dari pada meminta kepada seseorang lalu dia memberinya atau tidak memberinya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih. Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dahulu Nabi Dawud Alaihis Salam tidak makan kecuali dari hasil usahanya sendiri”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.
Dari penjelasan di atas, kiranya dapat digarisbawahi tiga hal, yaitu:
Pertama, untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup, terutama makan, Rasulullah menganjurkan manusia untuk bekerja sehingga menghasilkan makanan tersebut. Manusia sebaiknya berusaha untuk memperoleh makanan dari usahanya bukan dari pemberian orang lain. Menerima makanan tentu boleh bukan dilarang, akan tetapi pemberian tersebut harus sesuai dengan prinsip-prinsip di dalam ajaran Islam, yaitu keikhlasan dan ketiadaan maksud tertentu yang dapat merusak atas pemberian dimaksud.
Rasulullah SAW menganjurkan agar manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Terutama kebutuhan makanan. Rasulullah SAW sangat tidak menyukai orang yang mendapatkan makanan dengan cara meminta-minta. Yang paling baik bagi manusia adalah dengan melakukan pekerjaan, sebagaimana Nabi Dawud AS, Nabi Zakaria AS dan juga Nabi Muhammad SAW. Nabi SAW memang pernah mendapatkan upah atas doa yang dibacakannya. Upah itu tidak digunakan untuk dirinya sendiri tetapi untuk para sahabatnya yang mengikutinya.
Kedua, Islam merupakan agama yang menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi. Islam menyuruh manusia bekerja untuk dunianya dan juga berbuat yang baik untuk akhiratnya. Berbuatlah untuk duniamu seakan-akan mau hidup selamanya dan berbuat untuk akhiratnya seakan-akan mau mati esuk hari. Jadi tidak diperkenankan manusia hanya menggantungkan kehidupannya pada orang lain. Islam sangat menghargai kemandirian seseorang di dalam kehidupannya.
Islam menganjurkan seseorang bekerja yang halal sehingga menghasilkan produk yang halal. Tidak boleh seseorang hanya mementingkan hasilnya dan tidak memperhatikan prosesnya. Dari proses yang halal menghasilkan produk yang halal. Nabi Muhammad SAW mencontohkan Nabi Zakaria AS yang bekerja sebagai tukang kayu, atau mencontohkan mengambil ikatan kayu di gunung untuk dijual, sebagai metapora tentang pekerjaan-pekerjaan yang halal.
Ketiga, suatu prinsip yang sangat mendasar di dalam Islam, yaitu jangan menjadi orang yang suka meminta-minta. Penuhilah kebutuhan hidup dengan cara bekerja apa saja yang penting pekerjaan yang baik dan benar. Islam sangat peduli dengan kehidupan yang mengedepankan kebaikan dan kebenaran. Salah satu aspek penting di dalam kehidupan adalah menjaga marwah kehidupan. Orang yang meminta-minta itu “sedikit” mengabaikan kehormatan diri. Agar kehormatan diri itu ada di dalam kehidupan kita, maka upayanya adalah bekerja. Apa saja. Yang penting halal.
Memang harus diakui bahwa di era sekarang betapa susahnya orang menemukan pekerjaan, sebab pertarungan untuk mengakses pekerjaan yang terbatas. Tetapi tetaplah berusaha karena dunia ini dibangun di atas usaha manusia. Tetaplah berprinsip bahwa pasti ada peluang yang bisa diisi oleh kapasitas dan kemampuan kita.
Wallahu a’lam bi al shawab.
