MEMAHAMI THE POWER OF ALLAH, MANUSIA DAN SETAN
MEMAHAMI THE POWER OF ALLAH, MANUSIA DAN SETAN
Prof. Dr. Nur Syam, MSI
Lama sekali saya tidak menuliskan diskusi saya dengan para jamaah Komunitas Ngaji Bahagia (KNB). Sudah lebih dari dua bulan saya tidak menuliskan hasil diskusi gayeng yang dilakukan setiap Selasa pagi ba’da Shalat Subuh. Pengajian bahagia yang ditata sedemikian rupa. Ada seriusnya dan ada ketawanya. Bahkan dipersyaratkan tertawa sebanyak 17 kali untuk menandai kebahagiaan.
Selasa, 12 Mei 2026, saya kembali terusik untuk menuliskan hasil diskusi yang diselenggarakan di Masjid Al Ihsan Perumahan Lotus Regency Ketintang Surabaya. Masih seperti biasanya, ngaji ini diwarnai dengan tanya jawab dan tidak melulu one way traffic. Bahkan tema tadi pagi sebenarnya didahului dengan pertanyaan yang dilakukan oleh Pak Mulyanta, yang menyampaikan hasil pembicaraannya dengan para jamaah lainnya. Sebuah pertanyaan yang menarik, dimanakah takdir Tuhan itu terkait dengan keberadaan Setan. Misalnya orang baik dan buruk sudah ditentukan oleh Allah, lalu kenapa harus ada setan yang berlaku untuk menggodanya. Tanpa digoda jika takdirnya jelek tentu akan menjadi jelek dan sebaliknya.
Ada tiga hal yang dapat saya jelaskan terkait dengan pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Saya mencoba untuk mengaitkan antara dimensi akal dan nash hadits atau Alqur’an yang memiliki relevansi dengan pertanyaan tersebut.
Pertama, Selaku narasumber, saya menyatakan ada trilogy: the power of Allah, the power of manusia dan the power of setan. Ada tiga kekuatan yang dapat mempengaruhi perilaku manusia. Pengaruh Allah dengan takdirnya, pengaruh setan dengan potensi godaannya dan pengaruh manusia itu sendiri dengan akal dan hatinya atau nafsu dan rohnya. Ketiganya memiliki perannya masing-masing di dalam kehidupan.
Mari kita bedah satu persatu tentang kekuatan dimaksud. Allah adalah Maha Pencipta. Artinya bahwa Allahlah yang menciptakan manusia dan alam lainnya sebagai satu kesatuan sistem pemciptaan. Manusia diberinya takdir atau kepastian. Takdir itu ada yang sifatnya pasti-pasti atau takdir yang mubram. Takdir yang tidak dapat diubah karena kepastiannya seperti itu. Misalnya takdir tentang kematian. Tidak ada yang akan bisa menolak jika kematian itu sudah datang. Tidak diundur dan tidak dimajukan. Tetapi ada takdir pasti-tergantung atau takdir mu’allaq. Jadi takdir yang bisa berubah karena factor usaha yang sungguh-sungguh dari manusia. Misalnya takdir tentang rejeki. Orang yang sesungguhynya ditakdirkan kaya akan tetapi karena kemalasan atau kesalahan dalam memenej usahanya, maka menjadi terjerembab dalam kemiskinan.
Setiap manusia dipastikan mendapat asupan makanan, akan tetapi untuk dapat makan harus berusaha. Bahkan orang sudah ditakdirkan masuk surga akan tetapi karena pilihannya pada tindakan kejelekan, maka bisa masuk neraka dan sebaliknya. Ini yang saya sebut takdir pasti-tergantung. Jadi, di dalam takdir mu’allaq tersebut Tuhan menyediakan takdir, tetapi Tuhan juga memberikan petunjuk agar orang berbuat baik sesuai dengan petunjuk dimaksud. Manusia dengan ratio, hati dan spiritualitasnya dapat memilih mana yang terbaik bagi dirinya. Di dalam istilah ilmu teologi disebut sebagai free will dan free act. Kehendak dan tindakan bebas. Manusia bisa memilih dengan potensinya untuk memilih. Ada manusia yang selamat karena memilih yang baik dan ada yang tidak selamat karena memilih yang salah.
Kedua, the power of manusia. Manusia itu terdiri dari dari jasad, jiwa dan roh. Jasad itu seperti kerangka computer yang sudah lengkap, kemudian agar dapat hidup maka harus dicolokkan ke Listrik agar daya Listrik bisa menghidupkannya, lalu diinstal dengan program yang bervariasi. Manusia telah sempurna dengan fisiknya pada 40 hari ketiga dari ketemunya sperma dan ovum. Lalu malaikat atas perintah Allah meniupkan ruh sehingga jasad janin itu hidup tetapi belumlah dapat melakukan aktivitas apa-apa. Maka jasad yang sudah diisi dengan roh tersebut diinstal dengan tujuh dimensi yaitu: kodrat, iradat, hayat, ilmu, kalam, samian dan bashiran. Manusia diisi dengan takdirnya, hasratnya, kehidupannya, pengetahuan, kemampuan kalam, kemampuan mendengar dan kemampuan melihat. Jasad dan roh disiapkan dan diberinya instalasi untuk menggunakannya.
Tujuh aspek ini yang kemudian menjadi jiwa atau nafsu. Nafsu untuk berhasrat, nafsu untuk hidup, nafsu untuk mengetahui, nafsu untuk berbicara, nafsu untuk mendengar, dan nafsu untuk melihat. Nafsu tersebut kemudian ada yang berdekatan dengan dimensi fisik atau jasad atau disebut dengan kal hayawan dan ada yang berdekatan dengan roh atau disebut kal malaikat.
Begitu kasih dan sayangnya Allah kepada manusia, maka meskipun sudah ditentukan akan kepastian di dalam kehidupannya, akan tetapi tetap diberinya potensi untuk kebaikan. Premisnya Allah itu Maha Baik, pasti Allah akan memberikan kebaikan. Di sini diturunkan Nabi dan Rasul dan berbagai pedoman kehidupan agar manusia bisa selamat fid dini, wad dunya wal akhirah. Ajaran kebaikan itu direpresentasikan dengan kehadiran Nabi dan Rasul yang dipilih oleh Allah SWT.
Ketiga, the power of setan. Di dalam ajaran agama, maka setan itu adalah kekuatan yang diberikan kepada makhluk Allah untuk menggoda dan menggelincirkan manusia dari kebaikan. Setan juga disebut sebagai iblis, yang memang dilaknat karena keingkarannya atas perintah Allah. Setan itu ada di dalam diri manusia, misalnya makhluk Allah yang ada di dalam diri yang disebut sebagai khannas. Sebuah bisikan yang dapat dirasakan kehadirannya melalui pikiran atau hati akan tetapi tidak diketahui dari mana dan bagaimana proses kejadiannya.
Inilah yang bisa dinyatakan sebagai setan internal, yang hidup dan hadir di dalam diri manusia. Tetapi juga ada setan eksternal, yang wujudnya bisa bermacam-macam. Setan eksternal itu bisa berupa manusia, benda atau lainnya. Ketemunya antara khannas atau setan internal dengan setan eksternal itu dalam kehadiran setan eksternal. Jika dua kekuatan tersebut bertemu, maka di situ terjadi perbuatan yang salah atau menyimpang. Itulah sebabnya manusia diminta untuk membaca ayat kursi, surat al Ikhlas, surat al falaq dan surat an nas agar dapat meminimalisir gangguan khannas di dalam diri manusia.
Wallahu a’lam bi al shawab.
