• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KEUTAMAAN LAPAR, HIDUP SEDERHANA DAN KETERCUKUPAN (56)

KEUTAMAAN LAPAR, HIDUP SEDERHANA DAN KETERCUKUPAN (56)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Ada sebuah pertanyaan yang kiranya penting untuk dijawab, apakah kita sudah bersyukur atas kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada kita? Kita ini semuanya nyaris tidak pernah lapar, tidak kekurangan minuman, bahkan minuman yang nikmat untuk ukuran duniawi, kita tidak kekurangan snack atau makanan camilan yang yang dapat kita makan kapan saja. Kita sudah merasakan makanan yang enak atau kurang enak. Kita sudah meminum minuman yang sangat menyenangkan tubuh kita dan memanjakan lidah kita. Bahkan orang yang kekuranganpun masih bisa menikmati makanan sesuai dengan standarnya. Inilah renungan kita yang paling besar di dalam kehidupan ini.

Orang Indonesia, rasanya sudah berkecukupan dalam makan dan minum. Betapa melimpahnya air bersih, yang tinggal memasak saja, betapa melimpahnya makanan apapun jenisnya. Ada nasi, ada ketela, ada jagung, ada buah-buahan, ada daging, ada ikan, ada berbagai jenis makanan dan minuman yang dapat kita makan. Alam kita yang sedemikian memanjakan perut atau badan kita. Semuanya sudah diberikan Allah dengan kasih sayangnya. Ya Allah, sedemikian besar kasih sayangmu kepada masyarakat dan bangsa ini.

Kemudian bandingkan dengan kehidupan keluarga Rasulullah SAW. Keluarga Nabi Muhammad SAW yang menurut akal kita pasti tidak akan kekurangan makanan dan minuman, tetapi Rasulullah SAW dan keluarganya memilih kehidupan yang sangat sederhana, kehidupan yang serba kekurangan. Tidak pernah cukup makan dalam dua hari berturut-turut sampai akhir hayatnya. Ya Allah, sedemikianlah kehidupan Rasul-Mu dan keluarganya. “Allahumma ainni ‘ala dzikrika, wa syukrika wa husni ‘ibadatika”. “Ya Allah tolonglah aku untuk terus berdzikir, dan bersyukur dan beribadah kepadamu Ya Allah”.

Di dalam Surat Maryam: 59-60, Allah berfirman: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun”.

Di dalam Surat Al Qasas: 79-80, Allah berfirman: “maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: ‘moga-moga kiranya kita mempunyai keberuntungan yang besar’. Berkatalah orang-orang  menghendaki kehidupan dunia: ‘moga-moga kiranya kita memiliki seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: ‘kecelakaan yang besarlah bagimu , pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala  itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”.  Di dalam surat At Takatsur: 5, Alqur’an menjelaskan: “kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang  kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”.

Kemudian hadits Nabi Muhammad SAW, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh A’isyah R.A, berkata, bahwa “keluarga Muhammad SAW tidak pernah kenyang makan roti dari tepung gandum selama dua hari berturut, sampai Beliau wafat”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits lain sebagaimana diriwayatkan oleh Urwah dari A’isyah R.A, bahwa sesungguhnya Aisyah R.A., pernah berkata: “Demi Allah, hai anak saudaraku, sesungghnya kita melihat ke bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit yang berarti dalam dua bulan lamanya, sedang di rumah-rumah keluarga Rasulullah SAW  tidak pernah ada nyala api”. Saya, Urwah, berkata: “hai bibi, maka apakah yang dapat menghidupkan anda sekalian?. Aisyah RA menjawab: “dua benda hitam, yaitu kurma dan air belaka”. Hanya saja Rasulullah SAW mempunyai beberapa tetangga dari kaum Anshar, mereka itu mempunyai beberapa ekor unta manihah (perahan) lalu mereka kirimkanlah air susunya itu kepada Rasulullah SAW,  kemudian memberikan minuman itu kepada kita”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Ada banyak sekali ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW yang dijelaskan oleh Syekh Imam An Nawawi, akan tetapi ayat Alqur’an dan hdits yang saya tulis di dalam artikel ini cukup memberikan gambaran tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW. Sebuah keluarga yang sangat sederhana, tetapi merasa berkecukupan. Nabi Muhammad SAW adalah teladan bagi manusia seluruh dunia tentang kesederhanaan, ketercukupan dan ketersyukuran kepada Allah SWT. Ada tiga hal yang dapat dipahami, yaitu:

Pertama, manusia sesungguhnya sudah memiliki teladan kehidupan yang luar biasa di dalam kehidupan. Teladan itu adalah Nabi Agung Muhammad SAW. Teladan di dalam sifat dan pribadinya yang penuh kasih sayang. Sebuah kasih sayang yang menjadi representasi Rahman dan Rahim Allah SWT kepada umat manusia. Rasulullah SAW menjadi contoh dalam kesederhanaan di hadapan manusia. Kesederhanaan bukan dibuat-buat atau pencitraan akan tetapi memang demikianlah realitasnya. Bukankah seandainya Rasulullah berdoa kepada Allah SWT agar dapat memperoleh ketercukupan lebih dalam kehidupan, dipastikan Allah SWT akan mengabulkannya. Tetapi hal itu tidak dilakukannya, bahkan Rasulullah SAW menikmati kehidupan seperti itu. Karena hal itu adalah tugasnya.

Kedua, di dalam kehidupan ini, manusia lebih besar kecenderungannya untuk memenuhi hasrat kebutuhan fisiknya. Makan enak, minum nikmat, tidur cukup, berpakaian indah, menikmati kendaraan yang nyaman dan sebagainya. Serba fisik, serba badan. Contoh sedemikian digambarkan dengan Qarun, kapitalis pertama di dunia, dan orang-orang yang menginginkan kelezatan di dalam kehidupan. Kaum hedonis. Di sekeliling kita sesungguhnya dihuni oleh orang-orang seperti ini. Pantaslah kalau kemudian kita terpengaruh oleh factor eksternal tersebut. Kita selalu menjadikan orang  kaya, kaum the have, sebagai idola di dalam kehidupan. Orang yang sukses adalah orang yang kaya dan banyak hartanya. Bukan orang yang cukup dan banyak ilmunya.

Ketiga, fungsi teks Kitab Suci, Alqur’an dan hadits, adalah pemberi peringatan kepada manusia agar berperilaku yang pantas. Tidak berlebihan. Coba jika dipikir, orang yang paling kaya yang rumahnya sangat mewah dengan asesori dari emas dan berlian, sebenarnya seberapa banyak ruang yang dibutuhkan untuk istirahat. Untuk tidur. Tentu hanya satu kamar. Dan itupun sebenarnya hanya beberapa jam saja disinggahi. Orang seperti Donald Trump, yang super kaya, kapitalis zaman sekarang, apa sesungguhnya yang dibutuhkannya. Orang seperti Qarun, orang super kaya, kapitalis zaman baheula, sesungguhnya apa yang dibutuhkan di dalam hidupnya. Dan hidup juga terbatas tahunnya.

Oleh karena itu, teladan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya adalah teladan dalam kehidupan yang empiris, tetapi berbasis pada dunia metaempiris atau supraempiris. Dan teladan itu untuk memberikan contoh kepada manusia tentang bagaimana hidup sesungguhnya yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..