PERASAAN TAKUT SIKSA DAN PENGHARAPAN RAHMAT (53)
PERASAAN TAKUT SIKSA DAN PENGHARAPAN RAHMAT (53)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Di dalam karya Syekh Imam An Nawawi, bab 53 diberi judul “Menggabungkan antara Takut dan Harap”, atau antara Khauf dan Raja’. Di dalam artikel ini secara sengaja saya beri tema yaitu: “Perasaan Takut Siksa dan Pengharapan Rahmat”. Khauf dan raja’ merupakan dua kata yang memang memiliki saling keterkaitan. Di antara keduanya merupakan suatu kesatuan yang saling memerlukan. Khouf menunjukkan atas pemahaman, sikap dan prilaku takut manusia yang berhubungan dengan Allah SWT. Khouf adalah perasaan yang mendalam untuk takut atas adzab Allah yang sangat dahsyat, yang digambarkan sebagai neraka dengan berbagai indikasinya. Allah SWT memberikan gambaran tentang neraka sebagai tempat yang berisi angin yang panas, air panas yang mendidih dan tidak ada sedikitpun hawa dingin dan tiada kemuliaan, sebagaimana dicantumkan di dalam Surat Al Waqiah: 42, yaitu: “fi samumiw wahamim, wa dzillim min yahmun, la baridiw wala karim”. Ketakutan tersebut tentu dapat dikaitkan dengan ayat tandzir atau ayat peringaan Allah seperti itu. Sementara raja’ adalah harapan bahwa Allah SWT tidak menghukumnya sebagaimana dicantumkan di dalam Alqur’an karena adanya pertaubatan yang dilakukan oleh manusia. Di dalam konteks relasi antara khauf dan raja’, maka basisnya adalah iman dan bingkainya adalah taubat. Dengan demikian, khauf dan raja’ akan terjadi atas orang yang memiliki iman dan melakukan pertaubatan kepada Allah SWT.
Sesungguhnya manusia memiliki potensi untuk bertaubat atas kekhilafan, kesalahan dan dosa. Manusia dibekali oleh Allah akan rasa takut dan kemudian diberikan hikmah untuk bertaubat kepada Allah SWT. Ibarat burung, maka khauf adalah sayang kiri dan raja’ adalah sayap kanan. Dengan dua sayap ini, maka burung bisa terbang. Sedangkan untuk terbang sendiri ada tujuan dan alat atau fisik yang memenuhi standar. Maka tujuannya adalah memperoleh ridhanya Allah, sementara itu hakikat fisiknya adalah iman dan taubat, sedangkan sayapnya adalah khauf dan raja’.
Firman Allah dalam Surat Al A’raf: 99, menyatakan: “Karena sebenarnya tidak ada yang merasa selamat dari rancangan buruk (balasan azhab) yang diatur oleh Allah itu melainkan orang-orang yang merugi. Di dalam Surat lain, Surat Al Infitar: 13-14, bahwa: “sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar di dalam surga yang penuh kenikmatan dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar dalam neraka”. Kemudian di dalam Surat Al Qari’ah: 6-9 dinyatakan: “maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada di dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan Adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah”.
Ada sejumlah hadits yang diungkapkan oleh Syekh Imam An Nawawi, misalnya hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “seandainya orang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorangpun yang berharap masuk nerakanya, andaikan orang kafir mengetahui Rahmat yang ada di sisi Allah, pasti tidak akan ada seorangpun yang berputus asa dari surganya”. Hadits Riwayat Imam Muslim.
Hadits lain juga menyatakan: “apabila jenazah telah diletakkan dan dipikul oleh orang banyak atau pria di pundak mereka, jika dia orang saleh, dia berkata: ‘segerakanlah aku, segerakanlah aku’. Namun jika dia bukan orang yang saleh, dia berkata: ‘duhai celakanya. kemanakah kalian akan membawanya’. Suaranya didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia. Andai manusia mendengarnya, pasti pingsan”. Hadits Riwayat Imam Bukhari. Hadist lain yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda: “surga itu lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada tali sandalnya. Neraka juga seperti itu”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.
Dari uraian tentang teks Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW., maka dapat disimpulkan di dalam tiga hal, yaitu:
Pertama, Allah SWT menegaskan bahwa surga dan neraka merupakan ciptaan Allah SWT yang masuk di dalam dunia supra eskatologis. Dunia masa depan yang tidak terjadi di dunia ini, akan tetapi nanti setelah hari kiamat. Alam kubur, alam akherat, surga dan neraka adalah metaempiris pada zaman di kala manusia berada di alam empiris, dan semuanya itu termasuk metaempiris atau alam keyakinan tentang dunia lain, selain dunia ini.
Neraka yang digambarkan atau disimbolisasikan dengan tingkat panas yang berlipat-lipat di atas panas bumi, menggambarkan agar manusia memiliki dan mengedepankan perasaan takut atas siksaan Allah SWT. Melalui konsep khauf dan raja’, Allah mengajari manusia melalui Nabi Muhammad SAW agar manusia berada di dalam keseimbangan antara ketakutan dan harapan. Di tengah rasa takutnya tersebut, maka manusia diminta untuk berpengharapan agar mendapatkan pertolongan Allah.
Kedua, Allah SWT memiliki hak prerogative terkait dengan perilaku manusia, yaitu Rahmat. Sebagaimana diungkapkan oleh hadits sebagaimana diungkapkan oleh penulis kitab, bahwa orang yang berdosapun akan mendapatkan Rahmat Allah selama individu tersebut menyadari kekeliruannya dan melakukan pertobatan. Jadi, pertobatan merupakan jalan masuk atau entry point untuk meraih rahmatnya Allah SWT. Allah memiliki hak atas umatnya selama umatnya berada di dalam nuansa memasuki alam tak terhingga, sebagai pelacur yang menolong anjing dan pada waktu itu keikhlasan perempuan tersebut mencapai puncaknya atau memasuki angka tiada terbatas. Di sinilah Rahmat Allah itu turun. Jadi bukan sesuatu yang tiba-tiba tentu ada prasyaratnya untuk mendapatkan Rahmat dimaksud.
Ketiga, kehidupan adalah sebagaimana bandul berayun. Bisa ke arah kanan dan bisa ke arah kiri. Jika bandul ke arah kanan, maka sebagai pertanda atas amalannya yang baik. Dan jika bandul ke arah kiri berarti menuju kepada amalan kejelekan. Inilah pertanda bahwa manusia akan menerima catatan dengan tangan kanan atau tangan kiri. Yang akan menerima catatan amalan dengan tangan kanan adalah orang yang mampu menyeimbangkan antara takut dan raja’ yang dibingkai dengan taubat dan bersubstansi dengan iman. Keempatnya merupakan system yang menjadi satu keesatuan dan tidak bisa dipisahkan.
Orang yang hatinya beriman, maka di dalam dirinya terdapat mekanisme untuk memohon ampunan, yang keduanya berkait kelindan dengan rasa takut dan pengharapan akan rahmatnya Allah SWT.
Wallahu a’lam bi al shawab.
