• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

TAKUT SIKSA ALLAH (50)

TAKUT SIKSA ALLAH (50)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitabnya “Ryadhus Shalihin” pada bab 50 menjelaskan tentang “Takut”. Dan kemudian saya tambahkan sebagai penegasan yaitu “Takut  Siksa Allah”. Bab ini merupakan sebuah penjelasan yang sangat komprehensif berbasis Teks Alqur’an maupun Hadits Nabi Muhammad SAW. Takut sebagaimana yang biasa diungkapkan oleh Khatib pada setiap hari Jum’at merupakan takut yang berbeda dengan takut kepada lainnya. Para khatib menjelaskan tentang taqwa itu identic dengan takut di dalam bahasa Indonesia. Hanya saja takut kepada Allah itu tidak berarti melarikan diri dari-Nya, akan tetapi justru mendekat kepada-Nya dengan cara menjauhi larangannya dan melakukan amalan-amalan yang diwajibkan dan disunnahkannya.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar manusia merasa dan mengamalkan kepatuhan kepada Allah SWT. Kepatuhan yang didasari oleh penghambaan kepada-Nya. Bukan kepatuhan yang hanya di lesan atau di luar, akan tetapi kepatuhan yang berbasis pada kesadaran batin untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah SWT menekankan agar manusia beriman kepada Allah dan menjalankan amalan shalihan. Tidak cukup dengan iman tetapi juga menjalankan amalan yang baik terhadap Allah dan terhadap sesama manusia bahkan berbuat baik kepada alam sebagai ciptaan Allah.

Semenjak Nabi Adam AS, maka perintah Allah SWT adalah menjalankan kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Jadilah seperti Habil dan jangan menjadi Qabil. Habil yang patuh pada Allah dan Qabil yang membangkang pada Allah. Sebuah realitas simbolik-empiris untuk menggambarkan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan berbuat baik dan berbuat jahat, yaitu melakukan amalan sebagaimana perintah Allah dan menjauhi perbuatan mungkar. Hingga Nabi Muhammad SAW, maka perintah itu sangat jelas, hanya saja terkadang manusia mengingkari perintah kebaikan dan jatuh pada tindakan melawan kebaikan. Di sinilah makna takut akan siksaan Tuhan, Allah Rabbul ‘alamin.

Di dalam Alqur’an Surat Al Baqarah: 40, dijelasakan: “…dan hanya kepadakulah  kamu harus takut (tunduk). Kemudian di ayat lain Surat Al Buruj: 12, dijelaskan: “Sesungguhnya adzab Rabbmu berar-benar keras”.

Alqur’an menyatakan di dalam Surat Al Haj: 2, dinyatakan bahwa: “hai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu, sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya”.

Ada beberapa hadits yang dinukil, antara lain adalah hadits yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud bahwa: “Rasulullah SAW bersabda sesungguhnya masing-nasing kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari berupa air mani, kemudian merupakan gumpalan darah dalam 40 hari kemudian segumpal daging selama 40 hari. Lalu diutuslah malaikat dan ia meniupkan roh kepada dirinya serta diperintah pula mencatat empat kalimat, yaitu mencatat tentang rezeki, ajal, amal perbuatan dan  tentang celaka dan bahagianya” Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Juga terdapat hadits yang diceritakan oleh Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah bersabda: “di antara para ahli neraka itu ada yang dijilat oleh api neraka sampai kepada kedua tumitnya. Di antara mereka ada yang dijilat api neraka sampai kedua lututnya. Ada yang sampai ke ikat pinggangnya dan ada pula yang sampai tulang lehernya”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Berdasarkan atas ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, maka kiranya dapat dipahami tiga hal yang sangat mendasar, yaitu:

Pertama,  Allah SWT menjelaskan bahwa ada Jannah atau surga dan ada neraka atau Nar. Surga itu peristiwa atau fenomena metaempirik yang diyakini bahwa akan terdapat realitasnya di masa depan. Neraka juga fenomena metaempirik yang diyakini bahwa akan terdapat realitasnya di masa depan. Surga adalah tempat kebahagiaan bagi orang yang beriman dan beramal saleh, sedangkan neraka adalah tempat kesengsaraan bagi orang yang ingkar akan kebenaran Allah dan melakukan kejahatan pada waktu hidupnya di dunia.

Di dalam tradisi Islam Jawa, bahwa kehidupan di dunia adalah berada di dalam alam ngelakoni janji atau alam dunia untuk melaksanakan janji kepada Allah. Di kala berada di dalam roh, maka semua manusia berjanji meyakini keberadaan Tuhan dan akan melakukan perintah Tuhan. Makanya kala di dunia, manusia harus melakukan kebaikan sebagai manifestasi akan pelaksanaan janji kepada Allah tersebut. Ada empat alam, yaitu alam roh, alam dunia, alam barzah dan alam akherat.

Kedua, ketakutan akan siksa Allah itu bukan atas fenomena duniawi yang empiris, akan tetapi ketakutan akan fenomena ukhrawi yang metaempiris. Implikasi dari keimanan kepada Allah akan dikaitkan dengan berbagai fenomena yang menyertainya. Makanya, di dalam teks suci digambarkan bahwa manusia agar takut kepada Allah sebab siksaan atas pengingkaran kepada-Nya dapat digambarkan secara metaempiric yang berupa panas yang sangat membara, bisa jadi melebihi 4000 derajat. Di dalam lapisan bumi terdapat panas api dengan 4000 derajat. Secara empiris, geologis, hal tersebut sangat nyata. Neraka itu suatu fenomena metaempiris yang harus diyakini akan terjadi di dalam rangkaian kehidupan manusia di masa depan.

Ketiga, gambaran di dalam teks suci bahwa kepatuhan hanya kepada Allah SWT. Tidak kepada lainnya. Implementasi kepatuhan kepada Allah adalah dengan mengamalkan ajaran agama sebagai diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Tidak ada dualisme kepatuhan, sebab antara perintah Allah dan perintah Nabi Muhammad SAW adalah satu kesatuan. Patuh kepada Allah hakikatnya adalah patuh kepada Nabi Muhammad SAW. Semua ajaran Nabi Muhammad SAW adalah representasi dari perintah Allah SWT. Allah SWT yang sirrur asror atau kegaiban dari kegaiban tidak langsung bisa dipahami oleh manusia, maka Allah mengutus manusia yang memiliki kesamaan fisikal dan hasrat. Fisik dan hasrat  yang berbasis wahyu Allah SWT sehingga tidak  terdapat sedikitpun kesalahan di dalam ajarannya.

Di dalam konteks ajaran Islam dikenal istilah khouf dan raja’ atau rasa dan batin yang takut kepada Allah tetapi berbarengan dengan keinginan yang sangat mendalam untuk bermesraan dengan Allah. Oleh karena itu jangan hanya takut kepada Allah SWT dengan melakukan ajaran Islam, akan tetapi juga berpengharapan agar mendapatkan ridhanya Allah. Dua konsep ini saya kira sangat penting di dalam kehidupan kita. Jangan lupa berusaha dan berdoa.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..