KEUTAMAAN DAN KESELARASAN CINTA (46)
KEUTAMAAN DAN KESELARASAN CINTA (46)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Pada bab 46, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Keutamaan Mencintai Karena Allah Dan Menganjurkan Untuk Melaksanakannya, Pemberitahuan Seseorang Kepada Orang Yang Dicintai Bahwa Ia Mencintainya Dan Apa Yang Diucapkan Pada Orang Yang Memberitahukannya”. Judul yang panjang ini lalu saya ringkas menjadi “Keutamaan dan Keselarasan Cinta”. Pemampatan judul ini semata-mata untuk kepentingan merumuskan judul yang pendek dan mudah diingat.
Mencintai merupakan urusan hati yang kemudian terekspresi di dalam perilaku. Agar cinta itu dapat diketahui, maka syaratnya bahwa cinta harus diekspresikan, sehingga orang lain dapat memahami tentang cinta tersebut. Cinta kepada Allah juga perlu ekspresi. Allah yang mengetahui yang dhahir dan bathin tentu tahu atas apa yang dipikirkan dan dilakukan bahkan apa yang masih terselubung di dalam batin. Akan tetapi manusia perlu untuk mengekspresikannya sebagai bukti antara pikiran, hati, sikap dan perilakunya sama. Ada keselarasan.
Allah SWT memberikan kelengkapan pada diri manusia untuk mencintai. Sebuah perasaan yang timbul dari pikiran dan batin bahwa ada yang dicintainya. Ada subyek yang dicintainya. Allah memberikan contoh tentang rasa cinta kepada Tuhan, kepada sesama manusia, kepada lawan jenis dan bahkan kepada alam melalui representasi cinta yang dilakukan dan dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah adalah teladan bagi manusia tentang besarnya rasa cinta kepada Allah, manusia dan alam. Seluruh hidup Rasulullah adalah manifestasi rasa dan perilaku cinta.
Nabi Muhammad SAW sangat mencintai istri-istrinya, bahkan memangggil Aisyah dengan panggilan yang indah, Ya Humaira. Rasulullah juga mencintai keluarganya. Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husin sewaktu kecil bermain di sekitar dan dibawah tempat berdiri Rasulullah dalam shalat, sehingga kakinya direnggangkan. Nabi juga sangat mencintai orang tua, mencintai anak-anak muda, mencintai sahabat-sahabatnya bahkan mencintai orang yang berbeda agama. Salman Al Farisi menjadi team strategi perangnya pada saat masih beragama Majusi. Pada waktu Perang Badar, maka para panglima yang terdiri dari kaum Quraisy tidak dibunuhnya tetapi diperkenankan untuk menjadi team kerja dalam pembangunan Madinah. Demikianlah Rasulullah memperlakukan orang lain, baik seiman maupun tidak seiman.
Di dalam penjelasannya. Syekh Imam An Nawawi menukil atas Kitab Suci Alqur’an Surat Al Fath: 29 dijelaskan “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”. Ayat Qur’an Surat Al Hasyr: 9 juga menyatakan: “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin)…”.
Hadits yang diceritakan oleh Anas bahwa Nabi SAW bersabda: “ada tiga perkara, barangsiapa yang tiga perkara itu ada di dalam dirinya maka ia dapat merasakan manisnya keimanan, yaitu jika Allah dan rasulnya lebih dicintai olehnya dari pada selain keduanya, jika seseorang mencintai orang lain dan tidak ada sebab kecintaannya itu melainkan karena Allah, dan jika seseorang membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah dari kekafiran, sebagaimana bencinya kalau dilemparkan ke dalam api neraka”. Hadits Riwayat Mufafaq alaih.
Ada hadits lain yang menggambarkan betapa petingnya menyambung tali persahabatan, yaitu hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku di tangannya, kalian semua tidak bisa masuk surga hingga engkau semua beriman. Dan kalian semua belum dapat disebut beriman hingga engkau semua saling mencintai. Maukah kalian saya tunjukkan pada sesuatu yang apabila kamu semua melakukannya, maka kalian semua dapat saling mencintainya? Sebarkanlah salam di antara kamu semua”. Hadits Riwayat Imam Muslim.
Hadits yang diceritakan oleh Muadz, bahwa Rasulullah mengambil tangannya dan bersabda: “Hai Muadz, demi Allah sesungguhnya saya ini mencintaimu. Kemudian saya hendak berwasiat padamu hai Muadz, yaitu janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk membaca bacaan: “Ya Allah berilah saya pertolongan untuk tetap mengingatmu serta bersyukur padamu, dan berilah juga saya pertolongan untuk beribadah sebaik-baiknya pada-Mu”. Hadits Riwayat Abu Dawud dan Imam An Nasa’i.
Dari hadits dan ayat-ayat Qur’an di atas, maka dapat dicatat tiga hal penting, yaitu:
Pertama, hidup ini harus full cinta kepada Allah dan rasulnya. Mencintai Allah juga mencintai rasulnya. Tidak boleh dipisahkan. Bukan mencintai Allah dan baru mencintai rasul. Cinta kepada Allah dan rasulnya adalah satu kesatuan. Jika kita mencintai rasul maka hakikatnya kita mencintai Allah dan di kala kita mencintai Allah hakikat cinta kepada rasul akan tersampaikan. Bahkan di kala kita mencintai hamba Allah hakikatnya adalah mencintai Allah. Semua merupakan pancaran Allah, sehingga di kala kita mencintai hamba Allah, manusia dan alam, maka hakikatnya adalah mencintai Allah.
Kedua, cinta itu harus diekspresikan. Artinya cinta itu tidak hanya urusan batin akan tetapi juga ekspresi lahir. Keduanya juga tidak bisa dipisahkan. Ekspresi batin dan ekspresi batin merupakan satu kesatuan yang sistemik. Merupakan bagian-bagian tetapi menyatu. Orang yang mempercayai Tuhan, maka secara batin, di dalam pikiran dan hati, harus diekspresikan ke dalam perilaku lahir. Makanya Allah berfirman “Wahai umat manusia berimanlah kepada Allah dan berbuatlah yang baik”. Iman dan perbuatan baik adalah satu kesatuan. Iman itu di dalam pikiran dan hati, dan kemudian diekspresikan di dalam tindakan amalan shalihan. Nabi Muhammad SAW merupakan teladan dalam pikiran, hati, sikap dan tindakan yang menandakan kecintaan yang ekspresif.
Ketiga, cinta kepada Allah, cinta kepada Nabi Muhammad dan cinta kepada ciptaan Allah merupakan satu sistem kehidupan. Cinta tersebut digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana kecintaan kaum Anshar dan Muhajirin, kecintaan Muhammad SAW kepada Khadijah dan juga istri lainnya, digambarkan dengan cinta kepada orang tua, anak, keluarga dan masyarakat umumnya. Bahkan jika ada seorang anggota jamaah shalat yang suatu ketika absen, maka Nabi Muhammad SAW menanyakannya dan menziarahinya jika sakit. Kecintaan kepada sesama manusia tersebut lalu digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa hendaknya kita menyebarkan salam. Banyak menebar keselamatan.
Jadi, sebagai pertanda awal bahwa kita itu mencintai kepada saudara kita sesama ciptaan Allah adalah dengan mengucapkan salam, baik terhadap sesama manusia bahkan dengan makhluk halus lainnya. Di mana dan kapan saja. “Assalamu Alaina wa a’la
‘ibadillahis shalihin”.
Wallahu a’lam bi al shawab.
