ZIARAH KEPADA ORANG BAIK (45)
ZIARAH KEPADA ORANG BAIK (45)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Pada Bab 45, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan sebuah tema yang panjang, yaitu: “Berkunjung Kepada Orang-Orang Yang Baik, Duduk-Duduk Dengan Mereka, Bersahabat Dengan Mereka, Mencintai Mereka, Meminta Kepada Mereka Agar Berziarah Ke Tempat Kita, Meminta Doa Kepada Mereka, Serta Berkunjung Ke Tempat-Tempat Utama”. Oleh karena itu, maka judulnya saya pendekkan menjadi “Ziarah Kepada Orang Baik”. Hanya untuk memudahkan saja, meskipun di dalam pembahasannya terdapat muatan atas tema kitab ini.
Allah SWT adalah pusat sesembahan atau Rabb yang Maha Esa dan Maha Rahman dan Rahim. Allah itu sangat mencintai atas orang yang baik, orang yang di dalam hidupnya mengabdikan diri untuk kemanusiaan dan keagamaan. Bahkan sedemikian cintanya kepada orang baik itu, maka sesiapun yang mencintai yang ada di bumi, manusia dan alam, maka yang di langit akan mencintainya. Digambarkan bahwa langit adalah tempatnya para malaikat dan tentu Allah digambarkan di Arasy yang juga diasosiasikan dengan di atas langit.
Di antara yang juga sangat diperhatikan oleh Allah SWT adalah orang yang suka berkunjung kepada para ulama, kalau di Jawa disebut Kyai, orang yang terkenal karena kebaikan, orang yang lebih tua dan terkenal karena amalannya yang sangat Islami, dan disunnahkan untuk memohon doanya dan fatwanya tentang kebaikan. Mencintai manusia dan alam dengan memuliakannya merupakan bagian tidak terpisahkan dari ekspressi rasa cinta kepada Allah SWT. Cinta kepada Allah dapat dilihat dari ekspresi keberagamannya yang mencintai manusia dan alam semesta.
Di dalam Alqur’an Surat Al Kahfi: 60-66, dinyatakan: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua lautan, atau aku akan berjalan bertahun-tahun’, maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Maka ketika mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, ‘bawalah kemari makanan kita. Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini’. Muridnya menjawab: ‘tahukan kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu itu, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. Musa berkata: ‘itulah tempat yang kita cari’. Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. Mereka lalu ketemu seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya Rahmat dari sisi kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami, Musa berkata kepada Khidhir: ‘bolehkan kami mengikutimu supaya kamu mengajarkanku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu”.
Kemudian terdapat hadits sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi SAW: “sesungguhnya ada seorang lelaki yang akan berkunjung ke tempat saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah Ta’ala mengutus malaikat untuk menjaganya. Setelah malaikat itu berjumla dengannya, ia bertanya: ‘hendak kemanakah kamu?’ Ia menjawab: ‘saya akan berkunjung ke tempat saudaraku yang berada di desa itu’. Malaikat itu bertanya: ‘apakah kamu merasa berhutang budi sehingga kamu mengunjungnya?’ Ia menjawab: ‘tidak, saya mengunjungi dan mencintainya karena Allah ta’ala, malaikat itu berkata: ‘sesungguhnya saya adalah utusan untuk menjumpaimu dan Allah telah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu”. hadits Riwayat Imam Muslim.
Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, kiranya dapat dipahami bahwa berkunjung kepada ahli ilmu dan berkunjung kepada saudara, sahabat, orang yang lebih tua, dan orang yang amalan ibadahnya baik itu mendapatkan balasan pahala oleh Allah. Orang yang berjunjung tersebut dicintai oleh Allah. Jika manusia mencintai manusia lain karena Allah maka Allah akan mencintainya.
Dari penjelasan tersebut, dapat kiranya diperdalam dalam tiga hal, yaitu:
Pertama, Allah sangat mencintai orang yang melakukan kebaikan yang berupa saling berkunjung ke rumah. Kunjungan ke rumah tersebut karena Allah dan bukan urusan keduniawian semata. Tentu boleh berdiskui tentang urusan duniawi akan tetapi urusan duniawi yang ada keterkaitannya dengan urusan ukhrawi. Misalnya mendiskusikan tentang relasi social, ekonomi dan urusan lainnya tetapi terdapat di dalamnya upaya untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama. Nabi Musa AS mengunjungi tempat pertemuan di antara dua laut kepada Nabi Khidhir AS. Sebagaimana ayat di atas bahwa Nabi Musa mengutarakan maksudnya untuk belajar kepada orang yang diberi ilmu hikmah oleh Allah SWT.
Kedua, sebagai perwujudan atas Islam sebagai agama cinta dan kemanusiaan, maka ajaran Islam menganjurkan agar kita mengunjungi para ulama atau ahli ilmu, mengunjungi sahabat-sahabat seiman dan bukan seiman, sahabat karib, orang yang lebih tua yang amalan ibadahnya sangat baik maupun yang cukup baik, dan juga mengunjungi majelis-majelis ilmu yang dibina oleh para ulama. Tetapi dengan catatan bahwa kunjungan tersebut tidak dengan niat duniawi tetapi niat yang ada kaitannya dengan syiar Islam dan untuk memahami dan menjalankan ajaran Islam. Janganlah kita berkunjung kepada orang lain untuk kunjungan kemungkaran.
Ketiga, sekarang kita berada di era digital atau era virtual. Banyak yang menafsirkan bahwa silaturahmi vertual sudah cukup. Melalui media social, misalnya WhatsApp, atau face book, bahkan Instagram sudahlah cukup. Bagi mereka bahwa kehadiran secara virtual yang tidak hanya suara tetapi juga fisik virtual sudah memadai. Tentu hal ini bisa benar, jika memang ada sebab yang membolehkannya. Misalnya pada masa pandemi Covid-19, yang harus social distancing atau physical distancing, atau tempat yang secara ekonomis tidak terjangkau, maka silaturrahmi virtual memang diperkenankan. Akan tetapi jika secara ekonomi, area dan peluang bisa melakukan silaturrahmi secara fisikal tentu sangatlah utama.
Dengan demikian, memuliakan para ulama, para senior, kerabat dan sahabat-sahabat terdekat dengan cara mengunjungi rumahnya adalah keutamaan tindakan di dalam Islam. Oleh karena bagi yang dapat melakukannya karena Allah, maka tentu disediakan pahala yang pasti oleh Allah SWT.
Wallahu a’lam bi al shawab.
