BERBAKTI KEPADA ORANG TUA DAN KELUARGA (40)
BERBAKTI KEPADA ORANG TUA DAN KELUARGA (40)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Pada Bab 40, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Berbakti Kepada Orang Tua dan Mempererat Hubungan Keluarga”. Di dalam artikel ini saya ringkas dan lebih focus kepada “Berbakti Kepada Orang Tua”. Meskipun demikian bukan berarti sama sekali tidak membahas tentang bagaimana kita selalu berbuat baik kepada keluarga.
Orang tua adalah washilahnya Allah SWT untuk memakmurkan dunia dengan cara memperbanyak populasi manusia yang hidup di dunia. Dari yang semula hanya Nabiyullah Adam AS dan Siti Hawwa, lalu berkembang biak menjadi manusia dalam jumlah yang cukup banyak, kira-kira enam miliar manusia yang hidup di Asia, Afrika, Eropa, Amerika dan Australia. Mereka ini adalah keturunan Syam, Ham dan Yafeth yang merupakan tiga keturunan Nabi Nuh yang selamat di dalam banjir besar di dunia. Peristiwa banjir besar ini diyakini oleh banyak agama di dunia, yaitu Islam, Yahudi, Nasrani dan juga agama Hindu. Ada teks-teks suci yang menggambarkan peristiwa banjir besar dimaksud.
Keluarga merupakan unit terkecil di dalam masyarakat yang terdiri dari bapak, ibu, anak, orang tua, saudara dan kerabat yang tinggal bersama di dalam satu rumah. Mereka dikenal sebagai nuclear family atau keluarga dekat atau keluarga inti dan ada extended family yang terdiri dari keluarga besar atau kerabat lainnya. Di antara yang menjadi inti dari kerabat dekat itu adalah orang tua, Bapak dan Ibu. Merekalah yang terlibat di dalam merenda manusia sebagai anak-anaknya. Menikah, mengandung, melahirkan, merawat, membesarkan, kemudian menjodohkan dengan orang lain, bisa kerabat jauh atau orang lain, untuk membentuk keluarga baru dan kemudian beranak pinak sehingga menjadi semakin banyak dan semakin banyak.
Allah SWT menciptakan manusia melalui perantara orang tua, Bapak dan Ibu. Ini merupakan kelahiran yang terjadi pada manusia pada umumnya. Ada kelahiran yang tidak pada umumnya, yaitu kelahiran Nabi Isa yang di dalam berbagai teks suci agama-agama disebut tidak melalui proses pembuahan oleh lelaki, tetapi diciptakan Allah SWT secara kegaiban, melalui ungkapan “kun fa yakakun” atau “jadilah, maka jadi” sehingga lahirlah Nabi Isa dimaksud.
Itulah sebabnya Rasulullah SAW sangat menekankan agar manusia menghormati kedua orang tuanya. Syekh Iman An Nawawi membahas beberapa ayat Alqur’an yang memiliki relevansi dengan tema ini, yaitu Alqur’an Surat An Nisa”: 36, dijelaskan: “Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua, Bapak dan Ibu, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya”.
Di dalam Surat lain, Al Ankabut: 8, dinyatakan: “Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tua, Bapak dan Ibu”. Di dalam Surat Lukman: 14, dijelaskan bahwa: “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang Ibu dan Bapak, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua orang tua, Ibu dan Bapak”.
Syekh Imam An Nawawi juga menukil beberapa hadits Nabi Muhammad SAW, yaitu sebagaimana diceritakan oleh Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa: “saya bertanya kepada Rasulullah SAW., amal apakah yang paling dicintai oleh Allah? Beliau menjawab: “shalat pada waktunya”. Saya bertanya lagi: “kemudian apa?”. Beliau menjawab: “berbakti kepada orang tua. Saya bertanya lagi, kemudian apa? Beliau menjawab: “berjihad fi sabilillah”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.
Juga terdapat hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah, berkata: “seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW lalu berkata: “siapakah yang paling berhak aku pergauli dengan baik? Rasulullah menjawab: “ibumu” lalu siapa? Rasulullah menjawab: “Ibumu”. Kemudian siapa? Rasulullah menjawab: “ibumu”. Sekali lagi orang itu bertanya: “kemudian siapa? Rasulullah menjawab: “bapakmu”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.
Dari paparan ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, maka ada beberapa catatan yang penting, yaitu: pertama, orang tua, bapak dan ibu, menempati posisi penting di dalam relasi keluarga. Ibu dan bapak menempati posisi vital di dalam proses pembentukan keluarga melalui anak, cucu, cicit dan sebagainya. Coba dibayangkan bahwa dalam 120 hari kehamilan, maka terdapat proses nuthfah (kumpulan sperma dan ovum), lalu menjadi ‘alaqah (kumpulan darah) dan kemudian menjadi mudghah (kumpulan daging). Masa 40 hari pertama, 40 hari kedua dan 40 hari ketiga. Pada saat persiapan janin tersebut dapat menerima tiupan roh dari malaikat atas perintah Allah, maka mudghah tersebut lalu ditiupkan roh yang dapat menjadikan janin dapat hidup. Kehidupan sebagai manusia dimulai dari tiupan roh kepada janin dimaksud.
Allah sangat mengistimewakan orang tua, terutama Ibu. Beban yang ditanggung Ibu itu luar biasa. Selama sembilan bulan mengandung anaknya, lalu dua tahun menyusui, terus merawat dan kemudian menjadi dewasa dan itu semua adalah tanggung jawab Ibu dan Bapak. Makanya, Rasulullah menyatakan kita harus menghormati orang tua disebabkan oleh proses mengandung, menyusui, merawat dan seterusnya yang sungguh sangat berat. Islam sangat menganjurkan agar seseorang menghormati, menyayangi dan mencintai kedua orang tuanya.
Kedua, islam merupakan agama yang penuh cinta kasih. Islam adalah agama berbasis cinta. Oleh Allah SWT, maka seseorang diharuskan untuk mencintai orang tuanya, kerabatnya, familinya, orang yang belum beruntung, para pejuang di jalan Allah dan orang yang pantas untuk disayangi dan dikasihi. Islam sungguh merupakan agama yang memberikan peluang besar bagi manusia untuk mencintai kemanusiaan secara utuh. Terhadap sesama umat Islam tidak boleh saling merendahkan, melecehkan, dan menyakiti baik fisik maupun batinnya. Apalagi terhadap orang tua, bahkan untuk sekedar berkata “ah” saja tidak diperbolehkan. Ada seorang sahabat Nabi yang menggendong ibunya untuk berhaji dari Madinah ke Mekkah karena rasa hormat dan sayangnya kepada orang tuanya.
Ketiga, zaman sudah berubah artinya bahwa dimensi pekerjaan mengharuskan seorang anak tidak dapat menunggui terhadap orang tuanya. Karena factor pekerjaan, maka seorang anak harus terpisah dalam ratusan kilometer, sehingga tidak memungkinkannya untuk menungguinya. Atas yang demikian, maka tentu ada sarana untuk menyayanginya. Seseorang harus datang kepada orang tuanya, meskipun telah memenuhi kebutuhan fisiknya. Oleh karena itu tetap harus meluangkan waktunya untuk membangun kebersamaan, yang tentunya harus dilakukan. Dipastikan ada yang kurang, akan tetapi itulah kenyataan sosialnya, bahwa ada orang yang karena factor pekerjaan sehingga harus terpisah dari keluarganya atau orang tuanya.
Di dalam posisi seperti ini, maka yang diharapkan adalah doa anak kepada orang tua dan dipastikan doa orang tua kepada anaknya. Dan jika orang tua sudah tidak ada atau wafat, maka menjadi kewajiban anaknya untuk membaca Alqur’an, membaca tahlil, membaca wirid atau bacaan kalimat thayyibah lainnya untuk almarhum orang tuanya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
