MENGHORMATI KAUM PEREMPUAN (34)
MENGHORMATI KAUM PEREMPUAN (34)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Syekh Imam An Nawawi memberikan judul pada Bab 34 yaitu “Berwasiat Kepada Kaum Perempuan”. Sebuah judul yang tentu menarik. Saya cukup lama merenungkan judul ini, dan akhirnya saya mencoba untuk merumuskan judul yang lebih netral, yaitu: “Menghormati Kaum Perempuan”. Jika ayat-ayat Alqur’an yang dinukil tentang perempuan sebagai istri, maka saya mencoba untuk menarik perempuan dalam konteks yang lebih luas.
Allah menciptakan segala sesuatu di alam ini dengan berpasangan. Ada langit ada bumi, ada siang ada malam, ada pagi ada sore dan ada lelaki dan perempuan. Semuanya diciptakan dalam hukum berpasangan. Semuanya sebagai bahan pelajaran bagi manusia agar bisa memahami makna ciptaan Allah SWT. Dengan memahami hukum berpasangan tersebut, maka manusia akan dapat memahami makna ayat-ayat kauniyah yang memang tergelar untuk dipelajari.
Penciptaan lelaki dan perempuan merupakan sunnatullah untuk saling dipasangkan dalam kerangka membentuk keluarga. Dari sinilah manusia dapat berkembang dari Nabi Adam yang berpasangan dengan Siti Hawwa dan kemudian beranak-pinak menjadi jumlah manusia yang mencapai angka 6 milyar yang tersebar di seluruh dunia. Manusia dengan jumlah tersebut berasal dari tiga putra Nabi Nuh yang masih hidup pasca banjir besar yang melanda dunia. Kita semua adalah keturunan Syam, Ham dan Yafeth. Dari tiga orang tersebut lalu menjadi tiga etnis besar, yaitu Ras Kaukasoid, Negroid dan Mongoloid. Ras Kaukadoid banyak hidup di Eropa dan Amerika Utara, Ras Negroid yang menghuni kebanyakan di Afrika dan Mongoloid hidup di Asia. Tetapi sesuai dengan perubahan zaman, maka mereka lalu kawin-mawin antar etnis dan membentuk etnis campuran yang variative.
Allah memang menciptakan jenis lelaki dan perempuan. Dua makhluk manusia yang lahir dari hubungan perkawinan dan kemudian melahirkan manusia dalam berbagai etnis, suku bangsa dan golongan social. Menurut Allah bahwa status, kedudukan, stratum dan posisi sosialnya bisa berbeda akan tetapi yang paling utama adalah ketaqwaannya. Rasa, pikiran dan perilaku ketaqwaannya. Melalui penciptaan manusia yang variative tersebut, maka menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki perbedaan dalam kehidupannya.
Syekh Imam An Nawawi menukil beberapa ayat Alqur’an yang terkait dengan tema ini, Alqur’an Surat An Nisa’: 19, yaitu: “Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang patut.” Kemudian Surat An Nisa’: 4, bahwa: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Karena itu, janganlah kamu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain-lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kekurangan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “nasihatilah para Wanita dengan kebaikan, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian yang paling atas. Oleh karena itu, jika engkau mencoba meluruskannya, engkau akan mematahkannya dan jika engkau membiarkannya, maka ia akan tetap bengkok selamanya. Karena itu, berwasiatlah kepada Wanita tentang kebaikan”. Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Hadits dari Abu Hurairah menyatakan, telah bersabda Rasulullah SAW, janganlah seorang lelaki mukmin membenci seorang mukmin perempuan, sebab jika ia tidak senang dari perangai wanita itu, tentunya ia Ridha dari budi pekertinya yang lain atau dari budi pekerti selain yang dibencinya itu”. Hadits Riwayat Imam Muslim. Hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya”. Hadits Riwayat Imam At Tirmidzi.
Berdasarkan atas nukilan ayat dan hadits Nabi Muhammad SAW dimaksud, maka kiranya dapat dipahami bagaimana kita menghormati, menyayangi dan berbuat baik bagi perempuan, yaitu:
Pertama, semua manusia lahir dari seorang Ibu. Makanya, seorang Ibu memperoleh tempat yang sangat terhormat di dalam ajaran Islam. Perempuan memperoleh tempat yang sangat tinggi dalam pandangan Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu perempuan sangat dimuliakan dalam relasi social kemanusiaan. Islam melarang bagi manusia untuk berbuat jahat bagi perempuan.
Bahkan dalam posisi perang Rasulullah SAW melarang pasukannya untuk membunuh perempuan dan anak. Hal ini tentu ada yang Istimewa di kalangan perempuan tersebut. Jika manusia ingin melestarikan generasinya, maka perempuan memiliki makna yang sangat penting. Tidak ada kelahiran manusia tanpa kehadiran perempuan. Teknologi mungkin sudah sangat maju, sehingga bisa dilakukan peniruan akurat atas Rahim Perempuan, tetapi dipastikan hasilnya tidak secanggih manusia yang lahir dari Rahim Perempuan.
Kedua, sebagai wujud atas penghormatan atas perempuan, maka Islam menganjurkan agar memperlakukan perempuan dalam hakikat kemanusiaannya. Tidak boleh dihardik, disakiti, dan diperlakuan semena-mena lainnya. Islam memberikan petunjuk agar manusia berlaku adil, berlaku sopan, berkata yang lemah lembut, tidak boleh berkata kasar, tidak boleh menyakiti hatinya, tidak boleh berbuat kasar kepadanya, dan seabrek prilaku tidak baik lainnya.
Bahkan Rasulullah SAW mengukur akan kesempurnaan iman seseorang itu sangat terkait dengan bagaimana perilakunya yang selalu berbuat baik. dan untuk mengukur perbuatan baik itu, salah satunya adalah kebaikan perilakunya untuk perempuan, khususnya kepada istrinya. Allah yang Maha Rahman dan Rahim sudah memberikan representasinya di dalam diri Nabi Muhammad SAW. Termasuk di dalamnya adalah contoh bagaimana Rasulullah mengasihi atas istri-istrinya.
Ketiga, dewasa ini ada banyak gerakan yang menuntut keadilan atas perempuan berbasis pada realitas perempuan yang belum memperoleh keadilan, dan persamaan. Jika keadaannya seperti itu tentu pantaslah jika harus menuntut kesetaraan. Tetapi sesungguhnya Islam, 14 abad yang lalu, sudah mengajarkan bagaimana seharusnya manusia menghargai, menghormati dan memperlakukan perempuan sesuai harkat dan martabat kemanusiaan.
Islam itu agama yang sangat sempurna, hanya saja terkadang direduksi oleh umatnya menjadi agama yang penuh dengan kekerasan, penuh dengan keberingasan dan tidak mengedepankan cinta dan kasih sayang. Oleh karena itu, marilah kita kedepankan substansi Islam yang penuh dengan cinta dan kasih sayang tersebut dengan mengedepankan perempuan sebagai subyek kehidupan yang sejajar dengan lelaki, kapan dan di mana saja.
Wallahu a’lam bi al shawab.
