KEHORMATAN KAUM MUSLIMIN (27)
KEHORMATAN KAUM MUSLIMIN (27)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Pada Bab 27, Syekh Imam an Nawawi menjelaskan tentang bagaimana menjaga kehormatan kaum Muslim dan bagaimana umat Islam menghormati haknya dan kebaikan menjaga kasih sayang dan belas kasihan kepada mereka. Topik pada bab ini tentang “Mengagungkan Kehormatan Kaum Muslimin Dan Penjelasan Tentang Hak-Hak Mereka Serta Berkasih Sayang Dan Belas Kasihan Kepada Mereka”. Untuk kepentingan artikel ini, maka judulnya saya padatkan sehingga cukup dengan kalimat pendek “Kehormatan Kaum Muslimin”.
Islam secara khusus memberikan penekanan tentang perilaku yang seharusnya diekspresikan di dalam kehidupan yaitu menghormati sesama umat manusia, wa bil khusus umat Islam. Sudah sangat lazim dipahami bahwa Islam itu rahmat bagi seluruh alam. Makanya, kita sudah tahu apa saja yang ada di alam itu harus dihormati. Di dalam alam terdapat manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, bahkan juga ada makhluk gaib yang memang nyata adanya. Sebagai sesama ciptaan Allah SWT, maka semuanya harus dihormati agar terdapat penghormatan terhadap lainnya. Islam mengajarkan adanya saling menghormati akan eksistensinya.
Manusia sungguh perlu berdamai dengan makhluk Tuhan lainnya. Jangan mentang-mentang sebagai ciptaan terbaik Tuhan, lalu merasa paling superior. Karena memiliki rational intelligent, lalu semuanya dianggapnya benda yang harus bisa dimanfaatkan untuk kepentingannya tanpa mempertimbangkan bahwa makhluk lain juga ciptaan Allah SWT yang patut dihormati. Lihatlah Islam bagaimana harus memperlakukan binatang ternak yang memang disediakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Jika harus menyembilihnya, maka harus diperlakukan sesuai dengan etika Islam. Tidak sembarangan membunuhnya.
Syekh Imam An Nawawi menukil beberapa ayat Alqur’an, misalnya dalam Surat Al Hajj: 30, dinyatakan: “demikianlah (perintah) Allah dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabbnya…”. Atau di dalam Surat Al Hajj: 32, “Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”. Kemudian di dalam Surat Al Maidah: 32, dinyatakan: “barangsiapa yang membunuh manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara manusia semuanya”.
Lalu di dalam hadits juga disebutkan di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullah SAW bersabda: “perumpamaan oang yang beriman yang saling mencintai dan saling menyayangi serta saling mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh merasa sakit, maka yang lain tidak bisa tidur dan merasa demam”. Hadits Riwayat mutafaq alaih. Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abi Musa bahwa Rasulullah SAW bersabda: “seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu bagaikan bangunan yang sebagiannya mengukuhkan kepada bagian yang lainnya dan Beliau sambil memperagakan dengan menyusupkan jari-jemarinya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.
Berdasarkan atas pemahaman kita tentang ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW dimaksud, maka kiranya dapat dipahami tiga hal, yaitu:
Pertama, menghormati atas manusia lain, khususnya umat Islam merupakan perintah ajaran Islam. Sebagai sesama ciptaan Allah dari proses yang nyaris sama, maka sudah selayaknya antar sesama manusia tidak boleh saling merendahkan. Yang justru dilakukan adalah saling menghormat, mengasihi dan menyanyanginya. Allah SWT tidak membedakan manusia dari asal-usulnya, akan tetapi yang lebih mulia adalah yang paling bertaqwa. Meskipun demikian, kita tetap harus menjaga kehormatan semuanya. Ada sebuah Riwayat yang menceritakan seseorang yang hidupnya tidak jelas, bahkan suka meminum minuman yang tidak diijinkan untuk diminum oleh umat Islam. Lalu orang tersebut mati sehingga tidak ada yang menghormati jenazahnya. Akan tetapi datanglah seorang ulama besar yang merawatnya, dan ketika ditanya oleh penduduk setempat dinyatakan bahwa si Fulan tersebut orang yang ahli dzikir dan menghormat para ulama”.
Kedua, islam itu agama cinta. Cinta kepada Allah dan Rasulnya, cinta kepada kemanusiaan dan cinta kepada alam. Ekspresi cinta itu adalah dengan memperlakukannya dengan baik, memperlakukan dengan keseimbangan. Tidaklah seseorang mencintai Allah dan Rasulnya tanpa mencintai manusia sesamanya dan tidak mencintai itu semua tanpa mencintai alam secara keseluruhan. Bukti cinta manusia atas manusia lainnya itu digambarkan sangat baik oleh Rasulullah seperti sebuah bangunan yang saling menyangga, seperti satu tubuh dan yang sangat mendalam bahwa menjaga satu manusia itu sama dengan menjaga seluruh manusia dan membunuh satu manusia itu membunuh seluruh manusia. Sedemikianlah Islam itu mengajari manusia dengan etika pergaulan yang sangat baik. Jangan saling melukai, jangan saling merusak, jangan saling membully, dan jangan saling menyerang satu dengan lainnya. Semua perbuatan ini merupakan kedhaliman yang nyata dari perilaku manusia.
Ketiga, islam itu mengajarkan keindahan, kebaikan dan kemuliaan. Trilogy ajaran Islam ini sekarang sudah banyak ditinggalkan. Hidup tidak lagi indah karena saling bermusuhan. Hidup tidak lagi baik, karena saling menyalahkan. Hidup tidak mulia karena saling merusak. Keindahan, kebaikan, dan kemuliaan hanya akan tercapai jika antar manusia saling menghormati, saling mengasihi dan saling mencintai.
Janganlah menjadi Benyamin Netanyahu atau Donald Trump, yang alih-alih mengasihi atas manusia lainnya, akan tetapi justru ingin melenyapkan manusia lainnya. Ambisi politik ternyata memang memiliki daya rusak yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Ini sebuah paradoks. Agama mengajarkan keindahan, kebaikan dan kemuliaan, akan tetapi manusia merusaknya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
