• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENUNAIKAN AMANAH (25)

MENUNAIKAN AMANAH (25)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 25, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan atas “Perintah Menunaikan Amanah” berdasar atas ayat-ayat di dalam Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Pada bab ini Syekh Imam An Nawawi memberikan penjelasan yang sangat clear terkait dengan bagaimana amanah atau kepercayaan tersebut ditunaikan oleh manusia khususnya umat Islam.

Amanah adalah suatu sifat yang menandai kehadiran seseorang di dalam komunitas atau masyarakatnya dengan keterpercayaan yang sangat tinggi. Amanah merupakan labelling yang diberikan oleh orang lain, atau komunitas atau masyarakat yang menyaksikan sendiri atas bagaimana prilaku seseorang. Sebuah prilaku yang bercorak tidak hanya asesoris tetapi benar-benar menjadi sifat yang mendasar di dalam kehidupannya. Jadi bukan prilaku yang dibuat-buat, hanya nampak di permukaan atau pada level surface structure atau tetapi juga pada deep structure. Perilaku itu sudah mandarah daging di dalam fisik dan jiwanya, sehingga sifat tersebut akan selalu hadir di dalam kehidupannya.

Allah itu tidak hanya berfirman supaya manusia itu bersifat amanah atau terpercaya, akan tetapi Allah SWT menurunkan manusia dengan watak khusus, watak amanah. Dan watak itu berada di dalam diri manusia yang bernama Muhammad Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW merupakan contoh realitas empiris tentang manusia yang di dalam dirinya terdapat sifat kebaikan, sifat amanah. Bukanlah sifat yang ingin dipuji, ingin dikenal sebagai orang baik atau bukan sifat pencitraan, yang hanya berlaku sementara.

Sifat amanah itu bukan di kala setelah Muhammad diangkat sebagai Rasulullah SAW, akan tetapi sudah semenjak awal kehidupannya. Ketika Muhammad SAW dipercaya oleh Sayyidatina Khadijah, Perempuan shalihah, maka Muhammad SAW sudah menunjukkan sifat terpuji tersebut. Dari sinilah maka Muhammad SAW mendapat julukan dari masyarakat Quraiys sebagai orang yang terpercaya atau Al Amin. Itulah sebabnya, Muhammad SAW adalah teladan sempurna untuk manusia yang sudah dihadirkan Tuhan untuk manusia di seluruh dunia.

Di dalam membahas tentang amanah, Syekh Imam An Nawawi menukil beberapa ayat Alqur’an di dalam Surat An Nisa’: 58, “sesungguhnya Allah memerintah kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak untuk menerimanya”. Kemudian di dalam Surat Al Ahzab: 72, dinyatakan: “sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung,  maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh”.

Beberapa hadits yang dinukil dalam pembahasan tentang tema ini adalah sebagaimna haidts yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa: Rasulullah bersabda: “ tanda-tanda orang munafik itu tiga, yaitu: apabila berkata dia dusta, apabila berjanji ia mengingkari  dan bila diamanati ia khianat”. Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Dan ada sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Khudzaifah ibnul Yamani dan termasuk hadits shahih berstatus mutafaq alaih. Hadits ini tidak saya tuliskan seluruhnya,  akan tetapi saya pahami dan kemudian saya tuliskan inti-intinya saja. Di dalam hadits ini dinyatakan: pertama,  amanah itu datang dari lubuk hati manusia. Kedua Nabi Muhammad SAW bercerita tentang amanah itu bisa dicabut. Ada seorang lelaki yang tertidur kemudian dicabut amanah tersebut dan disisakan sedikit. Kala tertidur lagi kemudian dicabut amanah di dalam dirinya sehingga tertinggal sangat sedikit. Kala orang itu berdagang maka sudah tidak terdapat lagi keterpercayaan itu pada dirinya. Meskipun banyak orang yang menyatakan orang itu jujur, dapat dipercaya dan sabar akan tetapi yang tersisa itu hanya sebesar biji sawi”.

Dari nukilan ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW tersebut, maka dapat dipahami dalam tiga hal, yaitu:

Pertama,  Amanah merupakan sifat yang dimiliki oleh manusia dengan ketulusan,  kebenaran dan kepastian akan apa yang dilakukannya. Amanah datang dari dalam diri atau dapat dinyatakan sebagai in order to motives atau ada motif dari dalam yang berkeinginan untuk dipercaya. Amanah bukan berasal dari luar atau because motives atau ada factor dari luar yang mempengaruhinya. Amanah adalah motive murni yang didasari oleh panggilan batin untuk berbuat amanah. Ada panggilan qalbunya untuk sebenar-benarnya berbuat amanah. Dari panggilan batin yang terekspresi di dalam tindakan, maka akan menghasilkan kepercyaan public atas dirinya.

Kedua, ada sebuah contoh menarik sebagai indicator atas orang yang tidak bisa dipercaya. Yaitu orang yang jika berkata dia pasti bohong, orang yang bila berjanji pasti diingkari dan orang yang dipercaya pasti berkhianat. Sesungguhnya di dalam kehidupan ini banyak orang yang kurang lebih bisa dilabel dengan salah satu dari tiga kriteria ini. Banyak orang yang suka berbohong. Ada banyak orang yang suka menebar janji. Ada banyak orang yang diberi kepercayaan yang melakukan tindakan melawan kepercayaan itu. Banyak orang yang diberi amanah untuk mengelola uang tetapi korupsi, banyak orang yang diberi kekuasaan tetaoi menyalahgunakan kepercayaan tersebut. Dan banyak orang yang banyak mengumbar janji akan tetapi bohong melulu. Banyaknya korupsi, banyaknya abuse of power dan banyaknya janji untuk melakukan program bagi rakyat tetapi akhirnya hanya untuk kelompoknya sendiri.

Ketiga, agar kita semua berhati-hati karena amanah itu bisa dicabut oleh Allah SWT, Sang pemilik utama Amanah. Jangan mudah berjanji jika berpeluang tidak mampu menepati. Jangan mudah bersumpah akan berbuat jujur jika kemudian terpaksa harus berkhianat. Dan jangan mudah bicara jika di dalamnya mengandung kebohongan. Kita sekarang sedang berada di zaman ini. Zaman yang kebohongan menjadi panglima. Zaman yang berkuasa bukan untuk kepentingan rakyat. Zaman yang janji bukan untuk ditepati.

Kita sedang menuju zaman akhir. Suatu zaman yang ditandai banyak kemunafikan. Suatu zaman yang banyak kebohongan merajalela dan banyak orang yang tidak amanah. Zaman yang oleh orang Jawa disebut “esuk tempe sore dele”. Zaman yang tidak menentu dan etika keterpercayaan sudah tidak lagi menjadi panglima.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..