• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

SALING MENOLONG UNTUK KEBAIKAN (21)

SALING MENOLONG UNTUK KEBAIKAN (21)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam Bab 21, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Saling Tolong Menolong Dalam Kebaikan dan Ketaqwaan”. Di dalam artikel ini saya ringkas menjadi tema “Saling Menolong Untuk Kebaikan”.

Prinsip di dalam ajaran Islam yang utama dalam kaitannya dengan relasi social adalah saling menolong dalam kebaikan. Semua agama mengajarkan kebaikan dan meminta kepada pemeluknya untuk saling menolong di dalam kebaikan. Tanpa terkecuali. Semua dikenai khitab atas perilaku baik dan menolong di dalam kebaikan. Alangkah indahnya ajaran agama seperti ini. Saling menolong adalah modalitas social yang luar biasa dan seandainya semua orang bisa mengamalkannya, maka dunia akan menjadi damai, guyup rukun dan tiada permusuhan.

Islam mengajarkan agar umat Islam saling menolong dalam kebaikan dan taqwa. Tidak cukup menolong untuk kebaikan tetapi juga menolong untuk taqwa. Artinya, ada dua pesan yang diberikan kepada umat Islam. Jika seseorang dapat melakukan kebaikan, maka hal itu akan menjadi jalan kepada ketaqwaan. Instrument ketaqwaan itu sangat banyak, misalnya melakukan puasa, shalat, zakat, haji dan yang tidak kalah penting bahwa berbuat baik juga dapat menjadi sarana untuk memperoleh ketaqwaan kepada Allah SWT.

Pada sisi yang lain, Allah tidak menghendaki hambanya untuk melakukan perbuatan yang mengandung dosa dan kemaksiatan. Rasulullah telah memberikan pedoman yang sangat clear tentang ketidakbolehan untuk melakukan kejahatan, kejelekan dan dosa. Perbuatan-perbuatan ini sungguh sangat berbahaya jika dilakukan oleh manusia.  Ada hakikat kerusakan yang dapat diketahui jika seseorang melakukan tindakan kejelekan, kejahatan dan dosa. Oleh karena itu, Islam melarang atas semua perbuatan tersebut.

Alqur’an menjelaskan di dalam Surat Al Maidah: 2, “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa”. Lalu di dalam Surat Al ‘Ashr: 1-3, juga dinyatakan: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang tema ini adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Abi Said Al Khudri: “sesungguhnya Rasulullah SAW mengirimkan suatu pasukan sebagai utusan untuk memerangi Bani Lihyan dari suku  Hudzail. Beliau bersabda: hendaklah setiap dua orang hanya seorang yang bersangkat dari keduanya. Yang tidak ikut berangkat adalah yang menjamin kehidupan keluarga dari orang yang ikut berperang dan pahalanya terbagi di antara keduanya”.

Kemudian juga hadits Nabi SAW  yang diriwayatkan oleh Abi Abdurrahman Zaid bin Khalid al Jahani berkata Rasulullah SAW; “barang siapa yang menyediakan perbekalan perang di jalan Allah, maka dianggap sebagai orang-orang yang benar-benar ikut berperang. Dan barang siapa yang tidak ikut perang lalu menjaga baik-baik keluarga orang yang berperang, maka dia dianggap sebagai orang yang benar-benar ikut berperang”. Hadits diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Penjelasan atas ayat Alqur’an dan hadits sebagaimana dijelaskan di atas memberikan pemahaman kepada kita tentang konsep tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Dari penjelasan tersebut dapatlah dipahami dalam tiga hal, yaitu:

Pertama,  sebagai sesama umat manusia, khususnya umat Islam, maka di dalam Islam didapati ajaran yang solutif dalam relasi social yaitu saling menolong dalam kebaikan. Tidak hanya kepada sesama umat Islam, akan tetapi juga kepada sesama umat manusia. Perintah Aqur’an adalah berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Tentu saja ada kebenaran yang bersifat universal dan ada kebenaran yang bersifat special. Kebenaran universal adalah kebenaran yang bisa dirasakan oleh semua umat manusia, misalnya semua manusia merasakan lapar. Maka memberikan pertolongan atas orang yang lapar agar menjadi kenyang adalah perintah umum. Islam menganjurkan ath’imut tha’am atau berikanlah makan. Atau menolong orang yang sengsara agar menjadi berdaya adalah untuk kepentingan kemanusiaan. Tetapi tentu ada yang khusus yaitu menolong umat Islam agar semakin baik ketaqwaannya, semakin baik pemahaman atas kitab sucinya dan semakin kuat imannya adalah pesan keagamaan.

Kedua, islam tidak hanya berpesan agar menolong umat manusia, akan tetapi juga menolong binatang. Sangat masyhur cerita tentang seorang Perempuan pelacur yang menolong anjing yang kehausan dan dalam keadaan lemas. Maka Perempuan tersebut kemudian mengambil air dengan sepatunya dan diminumkannya kepada anjing dan anjing tersebut menjadi sehat, maka di saat seperti itu, maka Allah mengampuni semua kesalahannya dan bahkan menjanjikannya masuk ke dalam surganya. Tentu pelajaran yang sangat penting bahwa menolong hewan merupakan pertolongan kebaikan.

Ketiga, inti dari pertolongan adalah ketaqwaan dan kesabaran. Yaitu perilaku yang terkait dengan dimensi mendalam agama, yaitu keyakinan atas kekuasaan Allah dan kerahmanrahiman Tuhan dan balasan atas kebaikan yang dilakukannya. Pesan taqwa berarti pesan agar orang berkeyakinan akan kebenaran semua pesan keagamaan melalui Nabi dan pesan kesabaran bahwa di dalam menghadapi kehidupan yang sangat keras, maka orang harus bisa menahan hawa nafsunya untuk marah dan tidak sabar.

Pemahaman atas hadits Nabi Muhammad SAW tentang pergi atau tidak pergi berperang adalah contoh bahwa yang pergi berperang untuk membela agama Allah dan yang tidak pergi berperang untuk menjaga keamanan Masyarakat tetapi dinilai sebagai ikut berjuang adalah contoh tentang betapa penting saling menolong dan saling berperan pada perannya masing-masing. Hakikat dari menolong adalah agar manusia fungsional bagi kehidupan social.

Kita semua berada di dalam bulan puasa yang sangat dianjurkan agar berbuat sabar, sebab buah kesabaran adalah lahirnya relasi social yang menjanjikan akan kedamaian dan harmoni. Jika umat manusia dapat memahami makna kesabaran, maka dunia akan menjadi aman tanpa kekerasan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

Categories: Opini
Comment form currently closed..