SUNNAH BAIK DAN BURUK (19)
SUNNAH BAIK DAN BURUK (19)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Salah satu keutamaan para ulama adalah menjadi pewaris Para Nabi. Melalui ulama maka Islam bisa sampai kepada kita sekarang ini. Mereka adalah yang memahami ajaran Islam melalui Alqur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Secara berantai mereka menganjurkan agar umat menjalankan agama Allah SWT. Dimulai dari sahabat, tabiin dan tabiit tabiin hingga sekarang. Tanpa kehadiran para ulama, maka ajaran Islam yang indah tidak akan sampai kepada kita.
Kita sungguh bersyukur kepada Allah SWT karena memiliki para alim ulama yang hebat yang warisan ilmunya masih dapat kita baca hingga sekarang. Mereka adalah orang-orang yang polymath atau memiliki ilmu pengetahuan yang bervariasi. Demikian kuat ilmu agamanya dan ilmu lainnya. Kita memiliki Imam Ghazali, Ibnu Sina, Al Kindi, Al Khawarzmi, Al Biruni, Ibn Jabir yang sangat memahami ilmu pengetahuan, misalnya ilmu kedokteran, filsafat, matematika, astronomi, dan lain-lain dan kedalaman ilmu agamanya seperti ilmu fiqih, ilmu tasawuf, ilmu bahasa, ilmu Alqur’an dan lain-lain. Dari merekalah masyarakat dunia belajar tentang banyak hal. Itulah makna kehadiran ulama di dalam Islam yang dapat menjadi pelita dalam pengembangan pemahaman umat manusia hingga dewasa ini.
Umat Islam Indonesia tentu tidak bisa melupakan peran ilmu-ilmu agama melalui kehadiran Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam An Nasai, Imam At Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Maliki. Melalui pengajaran ilmu fiqih dan ushul fiqih, maka pengamalan beragama kita menjadi standart. Pengamalan beragama kita menjadi sesuai dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, tabiin dan tabiit tabiin. Demikianlah Allah mendesain atas ajaran agama untuk kita semua.
Di Nusantara juga terdapat para waliyullah dan para ulama yang menyebarkan Islam di seluruh pelosok Nusantara. terdapat Syekh Jumadil Kubra, Syekh Ibrahim Asmaraqandi, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Muryo, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati sampai Syekh Hasyim Asyari, Kiai Ahmad Dahlan, Imam Surkati, dan seterusnya. Ada kyai pesantren dan ada kyai langgar. Semuanya berkontribusi dalam pengembangan Islam di Indonesia.
Allah banyak menjelaskan di dalam Alqur’an seperti Surat Al Furqan: 74, “Dan orang yang berkata, Ya Rabb Kami anugerahkan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. Dan ayat lain, Surat Al Anbiya: 73, “Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami”.
Kemudian terdapat hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dinyatakan: “…kemudian beliau bersabda: barang siapa yang memulai membuat sunnah dalam Islam berupa amalan yang baik, maka dia memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan itu (sepeninggalnya) tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka yang mencontohnya itu. Dan barangsiapa yang membuat dalam Islam berupa amalan buruk, maka dia memperoleh dosanya bagi diri sendiri dan doa orang yang mengerjakannya itu sesudahnya (sepeninggalnya) tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya”.
Berdasarkan atas ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW ini, maka ada beberapa catatan yang bisa dijadikan sebagai pengetahuan dalam beragama, yaitu:
Pertama, Islam memang didesaian untuk menyebar ke seluruh dunia. Islam yang semula berkembang di Arab, lalu menyebar ke Persia, Hadramaut, Malabar, Gujarat ke Nusantara dan menjadi agama mayoritas di Indonesia. Allah mengutus pada da’i dan guru-guru untuk mengajar Islam di Nusantara. Peran mereka di dalam islamisasi Nusantara tentu sangat besar. Mereka semua adalah peletak dasar Islam dan yang menjadi peletak dasar sunnah kebaikan di Indonesia. Islam yang rahmatan lil alamin.
Kedua, apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan kemudian ditafsirkan dan dipahami oleh para ulama dalam kebaikan disebut sebagai sunnah kebaikan. Nabi Muhammad SAW merupakan teladan kebaikan. Itulah yang kemudian dibawa oleh para da’i dan guru ke berbagai wilayah di Indonesia. Ajaran Islam yang berporos pada kalimat tauhid atau pengakuan keesaan Allah dan pengakuan Muhammad SAW sebagai rasulnya: “la ilaha illallah. Muhammadur Rasulullah”. Dari kalimat syahadat tersebut kemudian disebarkan kepada umat manusia ke seluruh dunia. Kebaikan tersebut menjadi sunnatan hasanatan atau contoh kebaikan. Jika seseorang melakukan contoh kebaikan, maka apa yang dilakukan tersebut akan diganjar untuk dirinya dan juga orang yang mengikutinya sesudahnya. Orang yang seperti ini adalah contoh kebaikan untuk kehidupan masyarakat di dunia.
Ketiga, selain sunnah hasanah juga terdapat sunnah sayyi’ah atau contoh yang keburukan. Sebaliknya, sunnah hasanah yang berisi kebaikan-kebaikan, dan sunnah sayyi’ah atau contoh keburukan adalah contoh yang tidak seharusnya disebarkan oleh seseorang. Dunia memang berisi dua sisi yaitu dimensi kebaikan dan dimensi keburukan. Jika kebaikan akan mendapatkan pahala untuk diri pelakunya dan juga pahala yang diterima oleh pelaku awalnya dan orang-orang yang melakukannya. Sedangkan contoh keburukan juga akan mendapatkan siksaan dari pelakunya dan orang yang melakukannya dan siksa bagi pelaku awalnya. Jadi, kebaikan akan berakibat kebaikan berlipat-lipat dan keburukan juga akan berlipat-lipat keburukan yang diterimanya.
Begitulah, yang sesungguhnya akan terjadi. Orang yang menyebarkan kebaikan akan memperoleh kebaikan dan orang yang menyebarkan kejelekan akan mendapatkan kejelekan. Kita sekarang berada di era media social, maka sudah selayaknya jika kita berhati-hati untuk menyebarkan berita atau informasi apapun. Jangan sembarangan, karena Rasulullah SAW sudah memperingatkan semenjak 1447 tahun yang lalu. Masihkah kita tidak berhati-hati.
Wallahu a’lam bi al shawab.
