MEMELIHARA SUNNAH (16)
MEMELIHARA SUNNAH (16)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Perilaku Nabi Muhammad SAW adalah contoh. Bagi kita semua, di dalam diri Rasul adalah teladan terutama bagi orang yang menginginkan kebahagiaan fi dini, wad dunya wal akhirah. Bagi orang yang menginginkan bertemu dengan Allah SWT.
Perilaku Nabi Muhammad SAW itulah yang dikenal sebagai sunnah Nabi Muhammad SAW. Di antara yang menjadi ciri dari umat Islam adalah mengikuti Nabi Muhammad SAW dalam beribadah kepada Allah, menyayangi sesama umat manusia dan juga berperilaku baik dalam hubungannya dengan alam. Di dalam Islam disebut sebagai hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal alam.
Di dalam Bab 16, Syekh Imam An Nawawi menuliskan tentang “Perintah Memelihara Sunnah dan Adab-adabnya”. Berdasarkan pelacakan atas ayat-ayat Alqur’an, di dalam Surat Al Hasyr:7, dinyatakan: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah”. Kemudian di dalam ayat lain, Alqur’an Surat An Najm: 3-4, dinyatakan: “dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alqur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. Pada ayat lain, Allah juga menyatakan di dalam Surat Ali Imron: 31, difirmankan: “katakanlah jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah Aku, Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Dan di dalam Surat Al Ahzab: 21, dijelaskan: “sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari kiamat”.
Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW, sebagaimana disampaikan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda: “ biarkanlah, janganlah kalian mempertanyakan tentang hukum yang aku tinggalkan (selagi aku tidak menerangkan hukumnya) pada kalian, sebab orang-orang sebelum kalian celaka karena banyaknya bertanya dan perselisihan mereka dengan para Nabi. Maka jika aku mencegah kalian dari suatu hal, maka jauhilah. Dan jika aku memerintahkan kalian melakukan sesuatu yang baik, maka kerjakanlah semampu kalian”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.
Kemudian hadits yang disampaikan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “semua umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang berpaling. Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berpaling itu? Rasulullah bersabda “siapa saja yang taat kepadaku pasti masuk surga, dan siapa saja yang mendurhakaiku dia adalah orang yang berpaling”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.
Sebuah hadits dari Abis bin Rabi’ah berkata: “saya pernah melihat Umar bin Khattab mencium batu hitam (Hajar Aswad) dan dia berkata: saya tahu bahwa engkau itu adalah batu, engkau tidak akan dapat memberikan manfaat dan tidak pula dapat membahayakan. Seandainya saya tidak melihat Rasulullah menciummu, tentu aku juga tidak akan menciummu”. Hadits Riwayat Imam Bukhari.
Berbagai penjelasan dari Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW dapat kiranya dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Rasul tentu menjadi panutan bagi kita semua. Tidak boleh kita melakukan amalan yang bertentangan dengan ajaran Rasul. Jika Rasul melarang, maka jangan lakukan dan jika Rasul menyuruh, maka hendaknya dilakukan. Ini adalah kewajiban manusia. Sebagai seorang yang telah bersyahadah atau bersaksi akan keberadaan Allah sebagai Dzat yang Maha Kuasa dan Maha Kasih Sayang, dan Rasulullah sebagai teladan manusia, maka jelaslah bagi kita untuk mengikuti ajarannya.
Ada beberapa hal yang diperlukan agar prilaku kita sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, yaitu:
Pertama, kita harus berkeyakinan bahwa apa saja yang datang dari Muhammad Rasulullah adalah datang dari Allah SWT. Nabi Muhammad SAW tidak menyatakan dan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah SWT. Semuanya datang dari Allah lewat wahyu yang diterimanya. Jadi Nabi Muhammad SAW tidak pernah lepas dari wahyu Allah. Tanpa keyakinan seperti ini, maka berarti tidak ada kepatuhan kepada Rasulullah. Patuh kepada Allah dan Rasul sebagaimana dua sisi mata uang. Sebelah sisinya ada kepatuhan kepada Allah dan di sisi lainnya ada kepatuhan kepada Rasulullah. Tidak disebut patuh tanpa kepatuhan kepada keduanya.
Nabi Muhammad SAW diturunkan Allah agar manusia memahami perintah Allah. Jika Allah menyatakan manusia perlu bersabar, bersyukur dan bertawakkal maka ada contoh manusia yang hidup bersama yang melakukannya. Jika tidak ada Nabi Muhammad SAW, maka perintah Allah itu akan mengawang di langit dan tidak turun ke bumi. Nabi Muhammad SAW adalah teladan atas keteladanan Allah yang Maha Rahman dan Rahim. Jika Allah Maha Rahman dan Rahim, maka contohnya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah.
Kedua, mencintai Allah dan rasulnya secara total. Kecintaan kepada keduanya diwujudkan dalam melakukan semua yang diwajibkan dan disunnahkan untuk dilakukan dan juga menjauhi atas larangannya. Di dalam sebuah Riwayat di kala Nabi Muhammad berhijrah dari Mekkah ke Madinah, dan Nabi dikelilingi oleh kamunitas Anshar, lalu Kanjeng Nabi Muhammad SAW berkhutbah bahwa agar manusia menyebarkan keselamatan, memberikan makanan, menyambung persahabatan dan bershalat malam. Pidato pertama ini memberikan kesan yang sangat mendalam pada Abdullah bih Salam yang masih beragama Yahudi, sebab selama ini terdapat kesan bahwa Nabi Muhammad SAW itu manusia yang berwajah sangar, jahat dan berlaku kedhaliman. Tetapi begitu mendengar pidato Nabi Muhammad SAW, dan melihat wajah Nabi Muhammad yang bercahaya, maka beliau berikrar masuk Islam. Subhanallah.
Ketiga, rasanya kita ini sudah berada di dalam jalan yang benar, yaitu jalan yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk dilalui. Kita sudah berikrar untuk mencintai Allah dan Rasulnya, dan melakukan amal ibadah sesuai dengan kemampuan kita, mengasihi manusia sesuai dengan perintah Rasulullah dan juga menjaga alam sebagaimana ajaran Rasulullah, maka pantaslah kita menjadi hamba Rasulullah Muhammad SAW.
Wallahu a’lam bi al shawab.
