MENJAGA KELANGSUNGAN AMAL (15)
MENJAGA KELANGSUNGAN AMAL (15)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Pada Bab ke 15, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Memelihara Kelangsungan Amal”. Bab yang sangat penting untuk kita cermati terkait bagaimana kita seharusnya menjaga amal kebaikan di dalam kehidupan kita. Amal kebaikan harus kita jaga jangan sampai hilang atau berkurang di dalam kehidupan kita semua.
Mari beramal kebaikan itu sebuah ungkapan yang mudah, tetapi sulit untuk dilakukan, bahkan oleh yang menyeru untuk beramal kebaikan. Gampang diucapkan sulit dilakukan. Amal merupakan konsep di dalam Islam yang dapat dikaitkan dengan Allah SWT dan untuk sesama manusia. Amal kepada Allah adalah ibadah yang dilakukan sesuai sebagai amalan kewajiban atau disunnahkan, misalnya melakukan bersyahadat, shalat, haji dan amalan-amalan dzikir atau wirid yang dilakukan untuk menemukan ridhanya Allah SWT.
Akan tetapi juga terdapat amalan yang khusus dilakukan untuk sesama manusia, misalnya amalan pilantropi seperti zakat, sadaqah, wakaf dan amalan-amalan lain yang serupa. Seseorang yang mengeluarkan zakat, sesungguhnya tidak hanya melakukan perintah Allah untuk mendapatkan pahala amal ibadahnya, akan tetapi juga untuk memberikan donasi untuk kemanusiaan. Allah sangat menyukai orang yang bisa menyeimbangkan antara amalan untuk Allah dan amalan untuk manusia. Islam sangat apresiatif atas amalan manusia yang seimbang.
Akan tetapi pada hakikatnya, semua amalan, baik untuk manusia atau untuk Allah adalah memiliki hakikat untuk Allah. Semua amalan manusia hakikatnya adalah untuk Allah. Jika kita menolong manusia, hakikatnya adalah pertolongan untuk Allah. Hakikat apa yang kita lakukan adalah hakikat untuk Allah. Lillah billah. Semua untuk Allah dan semua bersama Allah.
Di dalam Alqur’an terdapat ajaran tentang menjaga amal tersebut, di antaranya di dalam Surat Al Hadid: 57 yang dinyatakan: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya dan kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras”. Kemudian juga terdapat ayat 27 dalam Surat Al hadid, bahwa: “kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul kami dan kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam. Dan kami berikan kepadanya Injil dan kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka (tetapi) mereka sendirilah yang mengada-adakannya untuk mencari keridlaan Allah. Lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya”.
Lalu juga terdapat hadits yang menceritakan tentang pentingnya menjaga dan memelihara kebaikan tersebut. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah yang dinyatakannya: “perbuatan baik yang paling disukai Allah adalah perbuatan yang terus menerus dikerjakan”. Hadits lain menyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa sesungguhnya Rasulullah bersabda: “semua umatku akan masuk surga kecuali orang-orang yang berpaling. Ada yang bertanya: sipakah orang yang berpaling itu? Rasulullah bersabda siapa yang taat kepadaku pasti masuk surga. Dan siapa saja yang mendurhakaiku dia adalah orang-orang yang berpaling”. Ada juga hadits Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Ash yang menyatakan: “Rasulullah pernah bersabda kepadaku: “ hai Abdullah, janganlah kamu seperti Fulan, tadinya dia suka bangun untuk shalat malam, kemudian dia meninggalkan shalat malamnya”. Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim. Haidts lain yang diceritakan oleh Aisyah menyatakan: “Apabila Rasulullah tidak mengerjakan shalat malam, baik karena sakit atau lainnya, maka Beliau mengerjakannya pada waktu siangnya sebanyak dua belas rakaat”. Hadits Riwayat Imam Muslim.
Dari gambaran di dalam Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh ahlinya, maka didapatkan penjelasan tentang keutamaan untuk memelihara amal kebaikan, khususnya amalan kebaikan kepada Allah dan Rasulnya dan kepada umat manusia seluruhnya. Ada beberapa hikmah yang dapat diambil sebagai pelajaran, yaitu:
Pertama, agar kita menjaga dan memelihara keyakinan kita kepada Allah dan rasulnya untuk dapat memelihara amal kebaikan. Selalu memohon kepada Allah agar amal ibadah kita itu dalam konsistensi dan berkelanjutan. Sungguh sangat berat untuk menjaga kontinuitas di dalam kebaikan. Tidak mudah untuk memelihara amal kebaikan, sebab ada banyak sekali godaan yang bisa datang dari mana saja. Bisa godaan dari dalam yang berupa Hasrat atau nafsu yang terus mendera kehidupan manusia.
Kedua, Ada motif di dalam kehidupan kita untuk memenuhi hasrat jiwa yang dapat mengarahkan kepada kejelekan. Bisa juga dari factor eksternal. Ada yang mengajak dan mengarahkan untuk melakukan kejelekan dan melupakan atas kebaikan. Ada saja yang mempengaruhi sikap dan tindakan seseorang semestinya memiliki petunjuk di dalam dirinya untuk melakukan kebaikan.
Rasulullah sudah memberi contoh, misalnya agar manusia menjaga amal ibadahnya. Agar memelihara shalat malamnya, menjaga amalan menyebarkan keselamatan dan menjaga agar mengedepankan cinta dan kasih sayang kepada sesama umat manusia. Akan tetapi cobaan dan gangguan bisa datang dari mana saja.
Di dalam Alqur’an dijelaskan tentang kasus Malaikat Harut dan Marut. Sebagai catatan, nama Malaikat ini berasal dari Bahasa Sansekerta. Didalam dunia pewayangan disebut Sang Hyang Maruto atau Dewa Angin. Sebelumnya dua Malaikat ini patuh kepada Allah dengan segala konsekuensinya. Dia mencela manusia karena tindakan kesalahannya. Maka Allah memberikan nafsu kepada dua Malaikat ini dan diturunkan di bumi, maka keduanya melakukan kesalahan yang sama dengan yang dilakukan oleh manusia. Setelah sadar kemudian memohon ampunan kepada Allah dan diterimalah ampunannya.
Ketiga, ada kaitan antara memelihara kebaikan dengan doa yang seharusnya kita lantunkan kepada Allah. Doa tersebut sebagaimana yang diajarkan di dalam Islam, yaitu: “Allahumma arinal haqqa haqqa war zuqnat tiba’ah, wa arinal bathila bathila war zuqnaj ijtinabah” yang artinya “Ya Allah tunjukkan kepada kami yang benar itu benar dan berikan kepada kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkan kepada kami yang bathil itu bathil dan berikan kekuatan kepada kami untuk menjauhinya”.
Jangan merasa sombong bahwa kita sudah menjadi orang baik, lalu merasa pasti menjadi orang baik. Tetapi sebaiknya kita merasa di dalam di dalam diri terdapat kelemahan disebabkan kekuatan nafsu. Kita harus selalu memohon kepada Allah agar dijaga amal kebaikan tersebut. Sesungguhnya Allah itu Maha Rahman dan Rahim, dan sebagaimana yang disabdakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW bahwa selama kita selalu berada di dalam ketaatan kepada Allah dan Rasulnya, maka dipastikan akan masuk surga, dan jika kita tidak patuh, maka terdapat peluang akan masuk neraka.
Hendaknya kita istiqamah untuk beramal kebaikan di mana dan kapan saja. Jangan pernah lengah untuk melakukannya. Di mana-mana banyak godaan dan semoga Allah selalu menjaga kehidupan kita untuk selalu melakukan kebaikan.
Wallahu a’lam bi al shawab.
