• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

KESEDERHAAN DALAM BERIBADAH (14)

KESEDERHAAN DALAM BERIBADAH (14)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam Bab 14, Syekh Imam An Nawawi memberikan penjelasan yang sangat mendalam tentang “Bab Berlaku Sederhana Dalam beribadah” dan kemudian saya rumuskan dalam judul Kesederhanaan dalam Beribadah”. Bab ini merupakan penjelasan tentang kesederhanaan itu tidak hanya di dalam perilaku social yang berhubungan dengan sesama manusia, diri sendiri, keluarga dan masyarakat, akan tetapi juga sederhana di dalam beribadah kepada Allah. Janganlah berlebih-lebihan. Kita harus menyeimbangkan diri di dalam beribadah kepada Allah SWT.

Di dalam Alqur’an dinyatakan pada  Surat Thoha: 1-2, diberitakan bahwa “Thoha. Kami tidak menurunkan Alqur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah”. Di dalam Surat Al Baqarah: 185, Allah menjelaskan: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Aisyah bahwa Nabi SAW  memasuki rumahnya dan di sisi Aisyah itu ada seorang perempuan. Beliau bertanya, “Siapakah dia”. Aisyah menjawab “ini adalah Si Fulanah yang terkenal shalatnya. “Beliau bersabda: “jangan demikian, hendaknya engkau beramal sesuai dengan kemampuanmu. Demi Allah, Allah itu tidak bosan untuk menerima amalmu hingga kamu sendiri yang akan merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah adalah yang dikerjakan terus menerus”. Lalu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa Allah bersabda: “binasalah orang-orang yang keterlaluan. Beliau mengulanginya sampai tiga kali”. Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Di dalam hadits lain dinyatakan: Ibnu Abbas berkata: “Tatkala Nabi Muhammad SAW berkhutbah, tiba-tiba ada seorang laki-laki lalu Beliau menanyakannya.” Para Sahabat menjawab: “dia adalah Abu Israil, ia bernazar akan berdiri pada waktu panas, tidak akan duduk, dan tidak akan berteduh serta tidak akan berbicara dan akan berpuasa.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “perintahkan dia supaya berbicara, berteduh, duduk dan perintahkanlah dia supaya menyempurnakan puasanya”. Hadits Riwayat Bukhari.

Demikianlah Islam sebagai ajaran untuk manusia memberikan kemudahan dan tidak memberikan kesulitan. Islam memerintahkan yassir wa la tu’assir. Permudah dan jangan persulit. Oleh karena itu dalam hal ibadahpun Allah SWT memberikan kemudahan. Rasulullah memiliki konsern yang luar biasa atas kemudahan di dalam beribadah. Islam merupakan ajaran yang sedemikian memberikan keseimbangan di dalam peribadahan. Kita masih ingat cerita tentang Salman al Farisi, seorang sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari Persia,  ahli srategi perang di dalam Islam. Beliau ingin mengabdikan diri dalam beragama dengan cara beribadah secara konsisten bahkan untuk hidup di masjid. Maka oleh Nabi SAW diminta untuk tetap memperhatikan keluarganya, rumahnya, pekerjaannya dan kehidupan duniawinya.

Di dalam Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW meminta kepada hambanya untuk menyeimbangkan diri di dalam beribadah. Jangan sampai karena nadzar yang sudah dilakukan kemudian menyulitkannya. Nadzar yang tidak sesuai dengan ajaran agama agar dipermudah agar tidak terdapat keberatan di dalam melakukan nadzarnya. Islam begitu memberikan kemudahan agar jangan bernadzar yang tidak Islami. Yang dibolehkan untuk bernadzar itu hanyalah Nabi Zakaria yang berkeinginan untuk memiliki anak lelaki. Maka Allah membolehkan untuk tidak berbicara selama tiga hari. Yang lain-lain, saya kira tidak kita jumpai.

Tentu saja segala sesuatu ada perkecualian. Sebagaimana tadi dijelaskan di dalam hadits bahwa jangan melakukan perbuatan dalam ibadah yang menyulitkan, sebagaimana dalam cerita Aisyah. Rasulullah memberikan jalan keluar agar beribadah sesuai dengan kemampuannya. Bagaimana dengan para waliyullah yang di dalam dunia mistisisme itu memiliki kelebihan dalam beribadah. Kanjeng Sunan Kalijaga bisa melakukan puasa di dalam air, di dalam tradisi Islam Jawa disebut sebagai topo mbatang, atau meditasi dengan merendam tubuhnya di dalam air, maka itulah yang disebut eksepsional. Tiga tahun lamanya topo mbatang itu dilakukan. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana shalatnya, puasanya dan sebagainya. Itulah urusan mereka yang memiliki keahlian khusus. Dan hanya Allah yang tahu tentang hal ini. Nabi Muhammad SAW jika qiyamul lail sampai kakinya bengkak. Inilah yang disebut sebagai perkecualian.

Bahkan tidak hanya para waliyullah yang diberi eksepsinalitas itu. Juga  para kyai yang diberi kekuatan Allah untuk melakukan ibadah yang melebihi kapasitas orang awam. Ada seorang kyai yang berjalan kaki dari Banyuwangi ke Serang atau Ujung Kulon. Sambil menghafal Alqur’an. Dan dari riyadhah itu kemudian mengantarkannya untuk menjadi kyai dengan kemampuan khusus dan mengembangkan Lembaga Pendidikan Islam yang sangat baik. memiliki pesantren sampai universitas. (nursyamcentre.com 27/07/25)

Sebagai Tuhan, Allah tentu memiliki pengetahuan dan kekuasaan yang tidak terhingga. Oleh karena itu, Allah dipastikan memiliki kekuatan superekstra untuk memilih dan memilah mana orang yang bisa melakukan sesuatu yang melebihi kapasitas orang awam dan mana yang biasa saja. Tetapi jangan lupa bahwa ada dimensi riyadhah yang bisa dilakukan oleh umat Islam untuk mencapai derajad lebih tinggi dalam beribadah.

Kita adalah orang awam. Yang beragama dengan tingkatan ibadah yang biasa saja. Tetapi saya kira yang terpenting adalah konsisten atau mudawamahnya. Semoga kita tetap bisa melakukan amalan ibadah yang tidak harus dengan jumlah terbanyak tetapi sekali-kali saja. Lebih baik ibadah yang tidak banyak tetapi istiqamah.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..