• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MENINGKATKAN IBADAH DI USIA SENJA (12)

MENINGKATKAN IBADAH DI USIA SENJA (12)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 12, Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitabnya “Riyadhus Shalihin” menjelaskan tentang “Anjuran Untuk Meningkatkan Amal Kebaikan pada Akhir Usia”. Tulisan ini mendedahkan suatu hal yang sangat mendasar tentang apa sebaiknya yang dilakukan oleh manusia khususnya umat Islam di kala usia semakin merambat tua. Kala kehidupan sudah semakin bau tanah.

Di dalam Alqur’an diceritakan tentang pentingnya menjaga usia agar selalu berada di dalam ibadah kepada Allah SWT. Hal ini yang kiranya perlu disadari sebab tidak ada satupun manusia yang tahu kapan takdirnya untuk meninggalkan semua yang ada di dunia. Urusan usia manusia kapan lahir dan kapan wafat adalah urusan Allah. Kita tahu bahwa ada empat hal yang menjadi takdir Allah terkait dengan manusia, yaitu:  lahir, mati, jodoh, dan rezeki. Karena kita tidak tahu berapa lama usia, maka konsekuensinya bahwa semakin tua harus semakin banyak beribadah.

Ada  ayat Alqur’an terkait dengan hal di atas, yaitu sebagaimana dijelaskan di dalam Surat Fathir: 27, “Dan apakah kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir dan (apakah tidak)  datang kepada kamu pemberi peringatan”.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW dijelaskan sebagaimana  diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Allah telah memberi kesempatan kepada seseorang yang dipanjangkan usianya sampai berumur enam puluh tahun”. Di dalam Riwayat Imam Muslim dijelaskan bahwa Rasulullah senantiasa memperbanyak bacaan “subhanalalahi wabihamdihi astaghfirullaha wa atubu ilaika”. (Mahasuci Allah dan dengan memujinya, saya memohon ampun kepada Allah serta bertaubat kepada-Nya). Aisyah berkata: “saya bertanya Wahai Rasulullah, saya melihat engkau selalu memperbanyak bacaan  “subhanallahi wabihamdihi astaghfirullah wa atubu ilaihi”.  Rasulullah menjawab: “Rabbku telah memberitahukan kepadaku bahwa kalau aku melihat tanda tentang umatku, maka aku memperbanyak bacaan “subhanallahi wabihamdihi astahgfirullah wa atubu ilaih”.

Dari uraian tentang ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat dipahami bahwa usia adalah karunia Allah. Ada yang berusia pendek dan ada yang panjang. Keduanya menjadi ketentuan Tuhan dan tidak ada manusia yang mengetahuinya. Hanya Allah dan Rasulullah yang tahu kapan sebenarnya ajal akan tiba. Rasulullah dan Nabi-Nabi lain tentu diberi pengetahuan yang sangat memadai tentang urusan ruh dan kegaiban lainnya.

Di dalam tradisi Jawa, Allah memberikan tanda-tanda tentang kematian bagi seseorang. Tentu saja ada yang bisa memahami bahasa simboliknya dan ada yang tidak. Berdasarkan pengalaman tentang seseorang yang sudah mendekati wafatnya, maka akan muncul berbagai mimpi yang memberikan pengetahuan tentang kapan wafat. Misalnya bertemu dengan leluhurnya yang sudah wafat dalam puluhan tahun. Bahkan diungkapkan kepada keluarganya tentang mimpi-mimpinya itu.

Simbol-simbol seperti ini diyakini di dalam tradisi Jawa, bahwa kematian itu diketahui akan datang. Tentu tidak tahu kapan datangnya karena itu haknya Allah. Bahkan ada mimpi yang memberitahukan kepada keluarga, misalnya gigi tanggal, atas atau bawah, maka dapat dipahami bahwa akan ada keluarganya yang meninggal dunia. Tentu tidak semua orang bisa mendapatkan mimpi seperti ini. Jadi Allah kadangkala memberitahukan kepada manusia tentang keadaan keluarga yang akan wafat.

Dari hadits ini dapat dipahami beberapa hal, yaitu: pertama, wafat atau mati adalah ketentuan Tuhan yang hanya Allah yang mengetahuinya. Kala Nabi Muhammad SAW ditanya tentang Roh, maka Nabi juga menyatakan bahwa roh adalah urusan Allah dan kita hanya diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit. Manusia yang mengetahui tanda-tanda akan datangnya kematian tentu saja ada berbasis pada riyadhah yang telah dilakukan, akan tetapi jumlahnya sangat sedikit.

Kedua, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa manusia bisa berusia 60 tahun itu sudah dipanjangkan usianya oleh Allah SWT. Jadi, usia 60 tahun ke atas adalah bonus bagi seseorang. Manusia yang bisa berusia lebih dari 60 tahun berarti sudah diberi peluang untuk banyak melakukan pertaubatan. Di antara salah satu ajaran Nabi Muhammad SAW adalah dengan membaca dzikir sebagaimana ucapan Nabi Muhammad SAW, yaitu: bacaan “subhanallahi wabihamdihi astahgfirullah  wa atubu ilaih”. Di usia semakin tua, maka kita harus semakin banyak memuji Allah dan bersyukur atas nikmatnya Allah,  lalu semakin banyak memohon ampunan kepada-Nya. Jadi semakin tambah usia seharusnya semakin menunjukkan kepatuhan, ketaqwaan dan beribadah kepada Allah.

Ketiga, hendaknya manusia berpikir tentang bonus usia itu. Melalui tambahan usia di atas 60, maka sesungguhnya Allah memberikan peluang untuk kita  bertaubat kepada Allah SWT. Sebaiknya manusia tidak menyia-nyiakan peluang ini, sehingga akan dapat memperoleh kenikmatan dari Allah SWT. Kenikmatan itu yang berupa peluang untuk beribadah lebih banyak dibandingkan manusia lainnya.

Nabi Muhammad SAW berusia 63 tahun. Kita yang sudah lebih dari 63 tahun berarti masih diberi peluang untuk semakin banyak beribadah kepada Allah SWT. Mari kita jadikan sisa hidup ini dengan semakin banyak berbuat baik.  Untuk  Allah, manusia dan alam sekeliling kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Comment form currently closed..