MUJAHADAH (11)
MUJAHADAH (11)
Prof. Dr. Nur Syam, MSi
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Mujahadah merupakan kesungguhan dalam melakukan kebaikan apapun dalam konsepsi Islam. Menurut Syekh Imam Nawawi dalam Kitab Riyadhus Shalihin, dinyatakan bahwa Mujahadah adalah bersungguh-sungguh untuk Ikhlas kepada Allah SWT di dalam melaksanakan ibadah.
Umat Islam diharapkan untuk bersungguh-sungguh di dalam amalan ibadah. Tidak boleh separoh-separoh. Harus total. Totalitas ibadah kepada Allah dengan tingkatan Ikhlas itulah yang dikonsepsikan dengan mujahadah. Di dalam konsepsi kaum tasawuf, mujahadah adalah proses untuk beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh melalui maqam muraqabah sebagaimana yang diajarkan dalam dunia tasawuf.
Ada banyak ayat Alqur’an yang berbicara tentang mujahadah, misalnya di dalam Surat Al Ankabut: 69, dinyatakan: “dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. Di dalam Surat Muhammad: 8, dinyatakan: “sebutlah Nama Rabbmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan”. Kemudian di ayat lain disebutkan, Az Zalzalah: 7, dinyatakan: “barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihatnya (balasannya)”.
Hadits Nabi juga memberikan tekanan atas mujahadah tersebut, misalnya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah telah berkata Rasulullah: “sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku nyatakan perang terhadapnya. Sesuatu yang paling Aku sukai yang dikerjakan oleh hambaku untuk mendekatkan diri adalah mengerjakan apa yang Aku wajibkan kepadanya dan tidak ada hentinya hambaku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku merupakan pendengaran yang ia mendengar dengannya. Aku merupakan penglihatan yang ia melihat dengannya, Aku merupakan tangan yang ia gunakan menyerang dan Aku merupakan kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku niscaya Aku mengabulkannya dan jika memohon perlindungan kepada-Ku nisacaya Aku melindunginya”.
Di dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Anas menceritakan oleh Rasulullah SAW dari Rabbnya: “Dia berfirman apabila seorang hamba mendekat pada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan apabila dia mendekat sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa, apabila hamba ini mendatangi Aku dengan berjalan, maka aku mendatanginya dengan berlari kecil”. Di dalam hadits lain sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas Rasulullah bersabda: “ada dua nikmat yang kebanyakan manusia menyia-nyiakannya yaitu kesehatan dan waktu luang”. Di dalam hadits lain juga dijelaskan bahwa Aisyah berkata: “Nabi SAW selalu bangun untuk mengerjakan salat malam sampai kedua kakinya bengkak, Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah mengapa Engkau berbuat demikian sedangkan Allah telah mengampuni semua dosamu, baik yang telah lampau maupun yang akan datang”. Beliau menjawab “apakah tidak sepantasnya jika Aku menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur”.
Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, maka diketahui bahwa mujahadah dalam konsepsi tasawuf adalah usaha sungguh-sungguh dan perjuangan batin untuk melawan hawa nafsu, gangguan setan, dan rendah hati untuk menyucikan diri atau jiwa atau disebut tazkiyatun nafs untuk mendekatkan diri kepada Allah”. Di dalam dunia tasawuf, mujahadah adalah perjuangan batin untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan melawan godaan hawa nafsu yang didorong oleh gangguan setan dengan cara melakukan dzikir atau wirid sesuai dengan petunjuk para guru yang bersambung sanadnya sampai Rasulullah SAW baik melalui Sayyidina Ali atau Sayyidina Abu Bakar.
Untuk menjalankan ibadah secara sungguh-sungguh, baik ibadah yang khusus kepada Allah maupun ibadah secara umum kepada sesama manusia, maka harus dilakukan secara istiqamah dan kesungguhan batin. Untuk memahami mujahadah maka perlu hal-hal sebagai berikut:
Pertama, kedekatan orang khusus atau orang yang khawas. Ada orang yang mampu beribadah dengan tingkatan kesungguhan secara optimal. Di dalam konteks ini, misalnya adalah para waliyullah yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan manusia atau umat Islam pada umumnya. Mereka adalah orang yang digambarkan oleh Alqur’an orang yang mendekat atau taqarrub ilallah dengan kesungguhan, dan di dalam hal ini, maka para waliyullah itu, semakin dekat kepada Allah, maka Allah akan semakin dekat kepadanya. Dan setiap kedekatan dipastikan akan diganjar dengan ganjaran yang tidak terhingga. Digambarkan bahwa begitu dekatnya, maka semua perilakunya adalah cerminan Allah SWT. Cahaya Allah yang gilang gemilang.
Kedua, kedekatan kaum awam atau umat Islam yang tidak memiliki kedekatan khusus kepada Allah SWT. Orang yang seperti ini adalah orang yang juga berkesungguhan mendekat kepada Allah akan tetapi tidak mampu untuk memasuki relung Cahaya Allah SWT. Mereka melakukan ibadah secara istiqamah dan sungguh-sungguh, akan tetapi belum bisa mencapai maqam musyahadah bil batin. Perilaku ibadahnya masih berada di dalam lingkaran antara luar dan dalam, tetapi tidak masuk ke dalam dengan menghunjamkan batinnya.
Bagi yang merasa masih seperti ini, maka Allah SWT juga menjanjikan pahala sebagaimana yang dijanjikannya. Allah tidak akan mengingkari janji. Tetap ada surga yang disediakan baginya. Dan tetap akan bisa bersama Rasulullah kelak di yaumil akhirat. Yang penting konsisten beribadah dengan melakukan rukun Islam: shalat, zakat, dan puasa. Kemudian memperbanyak sedekah sesuai dengan kemampuannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
