• May 2026
    M T W T F S S
    « Apr    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

MELAKUKAN HUKUMAN BERBASIS DHAHIRIYAH (49)

MELAKUKAN HUKUMAN BERBASIS DHAHIRIYAH (49)

Prof. Dr. Nur Syam,MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Bada Bab 49, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Menjalankan Hukum-Hukum Terhadap Manusia Menurut Lahirnya, Sedangkan Keadaan Hati Mereka Diserahkan Kepada Allah Ta’ala”. Dari judul yang Panjang tersebut saya coba pahami dan akhirnya saya buat rumusan judul yang lebih pendek “Melakukan Hukuman Berbasis Dhahiriyah”. Saya tentu berharap bahwa pemendekan judul itu tidak mengurangi makna yang tersurat dan tersirat. Saya berusaha untuk mendapatkan pemahaman yang mendekati judul aslinya.

Manusia memang tidak memiliki kekuatan yang melebihi batas kekuatannya. Bahkan manusia hanya memiliki kemampuan yang sangat terbatas. Manusia tidak tahu apa dibalik dinding tanpa memiliki pengalaman sebelumnya. Manusia itu buta dan karena adanya sinar atau cahaya yang diterima oleh matanya saja sehingga bisa melihatnya. Cobalah di dalam kegelapan yang pekat, maka manusia tidak akan tahu apa yang ada di sekitarnya. Hanya karena  ada sinar terang di sekelilingnya, maka manusia bisa mengenali benda-benda di dekatnya.

Manusia memang bisa membuat teknologi pengindraan jarak jauh atau teleskop. Akan tetapi obyek yang dilihatnya pastilah benda-benda yang terkena sinar atau cahaya atau memantulkan cahaya. Jika benda itu gelap dan tanpa cahaya maka mata manusia juga tidak akan dapat mengamatinya. Inilah yang sesungguhnya terjadi bahwa manusia merupakan makhluk yang sangat terbatas kemampuannya dan tanpa kekuatan yang diberikan Allah SWT kepada manusia.  Maka  sesungguhnya manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Oleh karena itu,  manusia juga hanya tahu yang dhahir dan tidak tahu yang batin. Maka, di dalam menentukan aturan atau hukum juga pastilah sangat bercorak dhahiriyah saja.

Allah Ta’ala berfirman di dalam Surat At Taubah: 5, bahwa: “Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan”. Kemudian terdapat beberapa hadits yang menjelaskan tentang pemberian hukuman berbasis dhahir atas orang lain. Dinyatakan di dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diceritakan oleh Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Saya diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah, serta mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Maka jika mereka telah melakukan yang demikian, terpeliharalah dariku darah serta harta mereka, melainkan dengan hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah ta’ala”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Ada hadits lain, sebagaimana diceritakan oleh Abu Mas’ud al Miqdad bin Al Aswad berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, bagaimana pendapat anda seandainya saya bertemu dengan seorang kafir dan kami berperang, kemudian ia memotong salah satu tangan saya, lalu ia bersembunyi dariku dengan berlindung di belakang pohon serta berkata: ‘sekarang saya masuk Islam karena Allah, maka bolehkah saya membunuhnya setelah ia mengucapkan perkataan itu wahai Rasulullah’. Beliau menjawab: ‘janganlah kamu membunuhnya, aku menjawab: ‘wahai Rasulullah, tetapi ia telah memotong tanganku. Beliau bersabda lagi: “jangan kamu bunuh ia, karena seandainya kamu membunuhnya maka ia menduduki kedudukanmu sebelum kamu membunuhnya dan kamu menduduki kedudukannya sebelum ia mengucapkan perkataan yang diucapkannya itu. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dari uraian di atas dan teks Alqur’an atau hadits Nabi Muhammad SAW, maka dapat kiranya digarisbawahi tiga hal, yaitu:

Pertama, manusia memang diciptakan oleh Allah SWT sebagai  sebaik-baik ciptaannya. Bahkan manusia juga dikaruniai kelebihan inteligensi melebihi ciptaan Allah SWT lainnya. Manusia memiliki akal, jiwa dan roh. Binatang hanya memiliki roh dan jiwa instingtif tetapi tidak dibekali dengan akal yang lengkap. Binatang tidak memiliki akal ketuhanan, akal social, akal emosional dan akal rasional. Sedangkan manusia memiliki semuanya. Akan tetapi tetap saja manusia tidak mampu menjangkau yang di dalam yang bersifat batiniah. Manusia tetap terikat dengan ciri dunia fisiknya atau inderawinya. Dan hanya orang-orang khusus yang dapat menjangkau  di luar inderawinya atau fisiknya.

Kedua, karena keterbatasan tersebut, maka di dalam memutuskan suatu perkara yang berbasis hukuman, maka manusia juga terbatas dengan kebenaran inderawinya. Suatu hukuman dinyatakan benar sejauh bisa dinalar berbasis pada kebenaran inderawinya. Bukti-bukti fisik atau materi yang menjadi ukuran kebenarannya. Sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW, bahwa di dalam perang maka di kala musuh sudah mengucapkan kalimat tauhid atau menyatakan keislamannya, maka tidak boleh untuk membunuhnya. Jadi orang mukmin yang berperang terhadap kaum kafir dan di kala kaum kafir tersebut nyaris terbunuh dan kemudian menyatakan lafal tauhid, maka tidak diteruskan untuk menghukumnya, bahkan di kala musuh itu sudah mencederai orang Islam. Secara dhahir orang kafir tersebut telah menyatakan Islam, sehingga berlaku hukum Islam.

Ketiga, manusia tidak boleh untuk menghukumi atas keyakinan batiniahnya. Jika secara dhahir memenuhi syarat untuk tidak dihukum, maka jangan dihukum. Orang yang sudah bersyahadat, maka harus dihukumi dengan cara sebagai orang Islam. Jadi yang urusan batin biarkan Allah SWT saja yang mengetahuinya, sedangkan urusan manusia adalah dimensi luarnya atau dhahiriyahnya. Terutama dalam ungkapan yang dinyatakannya. Di sinilah makna pemberian hukuman bagi orang kafir itu sampai sejauh yang bersangkutan tetap dalam kekafirannya sehingga dapat dihukum sesuai dengan kekafirannya tersebut. Jika yang bersangkutan sudah menyatakan keislamannya, maka yang bersangkutan dapat dihukum sesuai dengan hukum bagi orang Islam.

Ajaran Islam ini juga memberikan kepastian tentang bagaimana kita berlaku atas orang yang berada di dalam peperangan yang berlaku hukum jihad dalam konteks perang, akan tetapi di dalam keadaan damai, maka jihad dapat digunakan untuk kepentingan membangun perdamaian, sebagaimana inti atau substansi ajaran Islam yaitu untuk menciptakan keselamatan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

MENYAKITI ORANG SHALEH DAN KAUM DHUAFA’ (48)

MENYAKITI ORANG SHALEH DAN KAUM DHUAFA’ (48)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Di dalam tradisi Islam, para ulama atau orang yang shaleh harus diakrabi atau dijadikan partner dalam menjalani kehidupan. Orang Islam harus berkumpul atau mengakrabkan diri dengan orang yang shaleh. Agar kesalehannya dapat menjadi teladan bagi kita semua di dalam menjalankan kehidupan di dunia. Di dalam tradisi Islam Jawa disebutkan: “wong kang Shaleh kumpulana”. Di dalam Islam ada lima hal yang diperlukan, yaitu agar kita mendirikan shalat malam, agar kita dzikir yang lama, agar kita berpuasa, membaca Qur’an dan memahami maknanya serta agar kita akrab dengan orang shaleh.

Islam melarang dengan keras untuk kita sebagai umat Islam menyakiti orang-orang yang shaleh, orang yang miskin dan orang yang lemah. Orang yang lemah secara fisik, orang yang sakit, orang yang lemah secara ekonomi dan orang yang lemah  psikhologis. Meraka adalah orang yang tidak atau belum beruntung di dalam kehidupannya. Janganlah orang yang tidak beruntung di dalam kehidupannya lalu kita sakiti.

Islam sangat menghargai atas orang yang saleh, yaitu orang yang beriman kepada Allah dan mengamalkan ajaran agama dengan benar. Orang saleh itu hidupnya diisi dengan dua aspek tersebut. Di dalam dirinya terdapat keimanan yang sempurna dan di dalam dirinya juga terdapat prilaku beramal shaleh. Orang saleh ini dijamin Allah untuk memasuki surganya karena keridlaan Allah.

Siapa saja yang menyakiti orang seperti ini, dan orangnya menerima atas kesakitan yang dideritanya, maka Allah akan menjamin orang tersebut ke dalam rahmatnya. Bilal bin Rabbah, muadzin Rasulullah atau Masithah juru suri putri Fir’aun, adalah contoh orang beriman dengan keteguhan hati yang sangat luar biasa. Maka Allah memberikan kerahmatan atas kehidupannya di surga.

Syekh Imam An Nawawi di dalam Kitab Riyadhus Shalihin, pada bab 48 menjelaskan mengenai: “Peringatan Dari Menyakiti Orang Shaleh, Orang Miskin Dan Orang Lemah”. Di dalam artikel ini saya ubah judulnya menjadi: “Menyakiti Orang Saleh dan Kaum Dhu’afa”. Inti mendalamnya tetap bahwa Islam melarang untuk umat Islam menyakiti orang saleh, orang miskin dan orang lemah.

Di dalam pembahasannya, dinukil Teks Alqur’an, Surat Al Ahzab: 58, yang artinya adalah: “Dan barang siapa yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat dan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”. Di dalam Surat Ad Dhuha: 9-10 dinyatakan: “Karena itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardiknya”.

Hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah bahwa “Barang siapa memusuhi kekasihku, maka kami memberitahukan padanya bahwa ia kuperangi”. Kemudian juga hadits yang diceritakan oleh Jundub bin Abdullah, bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan shalat subuh, berarti ia berada di dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, jangan sekali-kali sampai Allah meminta jaminannya kembali itu sedikitpun, karena siapa saja yang jaminannya diminta kembali oleh  Allah, maka Allah akan mendapatkannya, kemudian akan mencampakkan dirinya ke  dalam api neraka”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari nukilan atas ayat Alqur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW tersebut, maka dapat digarisbawahi atas tiga hal, yaitu:

Pertama, Islam dengan keras melarang atas prilaku jahat atas orang yang saleh, orang miskin dan orang lemah. Ajaran ini untuk menunjukkan kepada manusia bahwa Islam sedemikian tinggi mengangkat derajad dan martabat manusia. Manusia ditempatkan sebagai sebaik-baik ciptaan, sehingga tidak boleh ada tindakan jahat yang melampaui rasa kemanusiaan. Jangan menghardik, melakukan kekerasan dan melakukan tindakan culas kepada orang yang saleh, kaum yang belum beruntung secara ekonomi dan orang dha’if lainnya. Islam sungguh agama teladan dalam penghargaan atas sesama umat manusia. Jangankan kepada manusia, kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan saja Islam melarang berbuat jahat. Hewan yang disembelih harus menggunakan etika penyembelihan. Makanya agar dagingnya menjadi halalan  thayiban, maka proses penyembelihan harus halal. Tidak boleh ditawar. Di Indonesia terdapat praktik Juru Sembelih Halal atau Juleha. Kita tidak boleh merusak tumbuh-tumbuhan dengan cara seenaknya. Begitulah Islam memberikan etika dalam kehidupan secara umum maupun khusus.

Kedua, Allah memastikan jaminan kepada orang yang melakukan shalat dan melakukan kebaikan kepada sesama manusia, khususnya orang saleh, orang miskin dan orang lemah. Jika kita melakukan kejahatan atas tiga kelompok orang ini, maka peluang Allah menarik jaminan rahmat-Nya sangat besar, bahkan Allah memberikan ketegasan atas orang yang berbuat kejahatan tersebut. Mereka, orang saleh, orang miskin dan orang lemah,  adalah orang yang bisa menjadi kekasih Allah. Orang yang beriman dan beramal shaleh adalah bagian dari kekasih Allah, dan sesiapapun yang menyakitinya adalah melawan Allah SWT.

Ketiga, upayakan agar kita tidak melakukan kejahatan kepada mereka. Yakinilah bahwa melakukan kebaikan kepada siapa saja merupakan instrument agar kita memperoleh kebaikan. Kebaikan akan berbalas kebaikan dan kejahatan akan berbalas kejahatan. Di dalam filsafat Jawa: “ngunduh wohing pakarti”. Kita akan menuai atas apa yang kita lakukan. Kalau kita menyayangi manusia, maka Allah dan rasulnya akan menyayangi kita. Dan sebaliknya jika kita menyakiti manusia, maka Allah dan rasulnya akan menyusahkan kita. Rahmat Allah sebagai kunci surga berada di tangan kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

 

 

 

TANDA KECINTAAN ALLAH KEPADA HAMBANYA (47)

TANDA KECINTAAN ALLAH KEPADA HAMBANYA (47)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pad bab 47, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Tanda-Tanda Kecintaan Allah Kepada Seorang Hamba Dan Anjuran Untuk Berakhlak Demikian Serta Berusaha Mewujudkannya”.  Di dalam artikel ini saya ringkas judulnya menjadi “Tanda Kecintaan Allah Kepada Hambanya”.

Kita itu hidup di dunia simbolik. Artinya bahwa ada tanda-tanda yang diberikan oleh Dzat yang Maha Kuasa untuk kita bisa memahami apa sesungguhnya yang disimbolkan dari kekuasaan Allah tersebut. Ada dunia fisik yang kasat mata, yang dapat diketahui dan secara rasional dapat dipahami dan ada dunia metaempiric atau metafisik yang tidak semua orang bisa memahami dan mengetahui. Pengetahuan dan pemahaman seperti itu hanya diberikan oleh Allah kepada hambanya yang dianggap khusus. Oleh karena itu terkadang kita harus bertanya kepada orang khusus yang memang dikaruniai kemampuan khusus oleh Allah SWT.

Ada orang awam yang hanya dapat membaca hal-hal yang empiris atau yang fisikal dan ada orang yang dapat membaca yang metaempiris atau metafisika. Tetapi tentunya setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi metafisikawan, akan tetapi terkadang potensi tersebut tidak mampu diaktualkan. Makanya, ada orang yang bisa memasuki kemampuan khas atau ahli khawas karena kemampuannya untuk bisa menembusnya. Mimpi atau tanda-tanda alam terkadang menyiratkan sesuatu yang akan menjadi actual. Tetapi terkadang kita tidak memahami karena kemampuan kita yang terbatas. Jadi, terkadang untuk membaca yang metafisika kita memerlukan orang lain yang memiliki kapasitas untuk membacanya.

Di dalam Surat Ali Imran: 31 Allah berfirman: “Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Di dalam Surat Al Maidah: 54 Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah  akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintainya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yag bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad d jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Hadits Nabi Muhammad SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Jika Allah ta’ala mencintai seorang hamba, maka Jibril memberitahukan bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu Si Fulan itu. Jibril lalu mencintainya, kemudian dia mengundang seluruh penghuni langit dan memberitahukan bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu semua si Fulan itu. Para penghuni langitpun lalu mencintainya. Setelah itu, kecintaan kepadanya diteruskan di kalangan penguhuni bumi”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Hadits lain menyatakan sebagaimana diceritakan oleh Aisyah bahwa Rasulullah mengutus seseorang untuk mengimami shalat pada suatu pasukan. Dalam shalatnya ia selalu menutup bacaannya dengan ucapan ‘qul huwallahu ahad’.  Ketika mereka pulang mereka menceritakan hal yang demikian itu kepada Rasulullah SAW. Beliaupun bersabda: ‘tanyakan kepadanya, mengapa ia berbuat demikian?. Merekapun menanyakannya dan orang itu menjawab: ‘karena surat itu  adalah sifat Dzat yang maha pemurah, maka saya senang membacanya. Setelah disampaikan kepada Rasulullah SAW,  Beliau bersabda: ‘beritahukan kepadanya bahwa Allah Ta’ala mencintainya”. Hadits Riwayat Mutafaq alaih.

Dari pembahasan ini, maka dapat digaris bawahi tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah sesungguhnya sangat mencintai hambanya, yaitu orang yang beriman dengan kesungguhan. Lahir dan batin. Tidak hanya diucapkan akan tetapi juga membenarkannya secara batiniah. Allah tidak perlu dibuktikan secara dzat-Nya, akan dapat dibuktikan melalui ciptaannya. Justru dengan mengetahui, memahami dan menghayati ciptaan Allah yang sangat sempurna tersebut, keimanan akan menjadi meningkat. Factor hidayah menjadi sangat mendasar. Ada orang yang memahami dan mengetahui tentang keteraturan alam dan seluruh isinya dengan pengetahuan yang sangat mendasar, tetapi tidak menjadikannya beriman kepada Allah SWT.

Allah itu sirrul asrar, rahasia di atas rahasia. Jadi potensi untuk memahaminya juga sangat tergantung kepada kesadaran tingkat tinggi untuk memahaminya. Allah sesungguhnya menyediakan roh bagi setiap manusia untuk bisa menjadi washilah atau perantara antara fisik, nafsu dan roh yang berada di dalam tubuh manusia untuk bisa merasakan kedekatan dengan Allah SWT. Tetapi karena roh manusia itu terbelenggu dengan jiwa dan jasadnya sehingga  belum sanggup untuk menggapai kedekatan tersebut. Saya tidak berani menyatakan kemenyatuan dengan Allah. Ada orang yang bisa memasuki alam kasyaf atau terbukanya alam malakut dan kemudian masuk ke dalam alam lahut, sehingga garis roh manusia dengan Tuhan itu bisa menjadi sangat dekat. Bisa lebih dekat dengan urat nadi.

Kedua, secara fisikal Allah SWT sudah memberikan tanda-tanda orang yang akan dicintai oleh Allah, yaitu orang yang bersikap lemah lembut kepada orang lain, orang yang sangat menghargai terhadap manusia lain terutama sesama umat Islam, orang yang mencintai orang sebagai bagian dari ukhuwah kemanusiaan, orang yang tegas terhadap orang kafir dalam konteks toleransi ketauhidan meskipun bisa memiliki toleransi sosiologis, orang yang berjihad di jalan  Allah, artinya orang hidupnya tidak sia-sia tetapi digunakan berjuang untuk meninggikan kalimat tauhid dengan berbagai caranya serta orang yang mengedepankan kesabaran, kesyukuran dan ketawakkalan kepada Allah meskipun dicela dan dipersalahkan atas keimanan kepada Allah SWT.

Ketiga, kasih sayang kita kepada Allah akan berdampak atas kasih sayang para malaikat dan para penghuni langit dan kemudian berimbas pada cinta kasih kepada kemanusiaan. Ada trilogy yang menarik bahwa cinta dan kasih sayang kepada Allah, cinta para malaikat dan penghuni langit serta  cinta dan kasih sayang kemanusiaan. Cinta dan kasih sayang sistemik. Cinta kepada Allah, Malaikat dan kemanusiaan. Allah SWT akan menunjukkan bahwa orang yang mencintai manusia dengan segala kemampuannya merupakan tanda bahwa Allah dan para malaikat itu menyayanginya. Jika kita membenci kepada manusia lainnya, hakikatnya Allah menunjukkan kepada kita bahwa Allah dan penghuni langit tidak mencintai kita.

Wallahu a’lam bi al shawab.

KEUTAMAAN DAN KESELARASAN CINTA (46)

KEUTAMAAN DAN KESELARASAN CINTA (46)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada bab 46, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan tentang “Keutamaan Mencintai Karena Allah Dan Menganjurkan Untuk Melaksanakannya, Pemberitahuan Seseorang Kepada Orang Yang Dicintai Bahwa Ia Mencintainya Dan Apa Yang Diucapkan Pada Orang Yang Memberitahukannya”. Judul yang panjang ini lalu saya ringkas menjadi “Keutamaan dan Keselarasan Cinta”. Pemampatan judul ini semata-mata untuk kepentingan merumuskan judul yang pendek dan mudah diingat.

Mencintai merupakan urusan hati yang kemudian terekspresi di dalam perilaku. Agar cinta itu dapat diketahui, maka syaratnya bahwa cinta harus diekspresikan, sehingga orang lain dapat memahami tentang cinta tersebut. Cinta kepada Allah juga perlu ekspresi. Allah yang mengetahui yang dhahir dan bathin tentu tahu atas apa yang dipikirkan dan dilakukan bahkan apa yang masih terselubung di dalam batin. Akan tetapi manusia perlu untuk mengekspresikannya sebagai bukti antara pikiran, hati, sikap dan perilakunya sama. Ada keselarasan.

Allah SWT memberikan kelengkapan pada diri manusia untuk mencintai. Sebuah perasaan yang timbul dari pikiran dan batin bahwa ada yang dicintainya. Ada subyek yang dicintainya. Allah memberikan contoh tentang rasa cinta kepada Tuhan, kepada sesama manusia, kepada lawan jenis dan bahkan kepada alam melalui representasi cinta yang dilakukan dan dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah adalah teladan bagi manusia tentang besarnya rasa cinta kepada Allah, manusia dan alam. Seluruh hidup Rasulullah adalah manifestasi rasa dan perilaku cinta.

Nabi Muhammad SAW sangat mencintai istri-istrinya, bahkan memangggil Aisyah dengan panggilan yang indah, Ya Humaira. Rasulullah juga mencintai keluarganya. Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husin sewaktu kecil bermain di sekitar dan dibawah tempat berdiri Rasulullah dalam shalat, sehingga kakinya direnggangkan. Nabi juga sangat mencintai orang tua, mencintai anak-anak muda, mencintai sahabat-sahabatnya bahkan mencintai orang yang berbeda agama. Salman Al Farisi menjadi team strategi perangnya pada saat masih beragama Majusi. Pada waktu Perang Badar, maka para panglima yang terdiri dari kaum Quraisy tidak dibunuhnya tetapi diperkenankan untuk menjadi team kerja dalam pembangunan Madinah. Demikianlah Rasulullah memperlakukan orang lain, baik seiman maupun tidak seiman.

Di dalam penjelasannya. Syekh Imam An Nawawi menukil atas Kitab Suci Alqur’an Surat Al Fath: 29 dijelaskan “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”. Ayat Qur’an Surat Al Hasyr: 9 juga menyatakan: “Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin)…”.

Hadits yang diceritakan oleh Anas bahwa Nabi SAW bersabda: “ada tiga perkara, barangsiapa yang tiga perkara itu ada di dalam dirinya maka ia dapat merasakan manisnya keimanan, yaitu jika Allah dan rasulnya lebih dicintai olehnya dari pada selain keduanya, jika seseorang mencintai orang lain dan tidak ada sebab kecintaannya itu melainkan karena Allah, dan jika seseorang membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah dari kekafiran, sebagaimana bencinya kalau dilemparkan ke dalam api neraka”. Hadits Riwayat Mufafaq alaih.

Ada hadits lain yang menggambarkan betapa petingnya menyambung tali persahabatan, yaitu hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku di tangannya, kalian semua tidak bisa masuk surga hingga engkau semua beriman. Dan kalian semua belum dapat disebut beriman hingga engkau semua saling mencintai. Maukah kalian saya tunjukkan pada sesuatu yang apabila kamu semua melakukannya, maka kalian semua dapat saling mencintainya? Sebarkanlah salam di antara kamu semua”. Hadits Riwayat Imam Muslim.

Hadits yang diceritakan oleh Muadz, bahwa Rasulullah mengambil tangannya dan bersabda: “Hai Muadz, demi Allah sesungguhnya saya ini mencintaimu. Kemudian saya hendak berwasiat padamu hai Muadz, yaitu janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk membaca bacaan: “Ya Allah berilah saya pertolongan untuk tetap mengingatmu serta bersyukur padamu, dan berilah juga saya pertolongan untuk beribadah sebaik-baiknya pada-Mu”. Hadits Riwayat Abu Dawud dan Imam An Nasa’i.

Dari hadits dan ayat-ayat Qur’an di atas, maka dapat dicatat tiga hal penting, yaitu:

Pertama,  hidup ini harus full cinta kepada Allah dan rasulnya. Mencintai Allah juga mencintai rasulnya. Tidak boleh dipisahkan. Bukan mencintai Allah dan baru mencintai rasul. Cinta kepada Allah dan rasulnya adalah satu kesatuan. Jika kita mencintai rasul maka hakikatnya kita mencintai Allah dan di kala kita mencintai Allah hakikat cinta kepada rasul akan tersampaikan. Bahkan di kala kita mencintai hamba Allah hakikatnya adalah mencintai Allah. Semua merupakan pancaran Allah, sehingga di kala kita mencintai hamba Allah, manusia dan alam, maka hakikatnya adalah mencintai Allah.

Kedua, cinta itu harus diekspresikan. Artinya cinta itu tidak hanya urusan batin akan tetapi juga ekspresi lahir. Keduanya juga tidak bisa dipisahkan. Ekspresi batin dan ekspresi batin merupakan satu kesatuan yang sistemik. Merupakan bagian-bagian tetapi menyatu. Orang yang mempercayai Tuhan, maka secara batin, di dalam pikiran dan hati, harus diekspresikan ke dalam perilaku lahir. Makanya  Allah berfirman “Wahai umat manusia berimanlah kepada Allah dan berbuatlah yang baik”. Iman dan perbuatan baik adalah satu kesatuan. Iman itu di dalam pikiran dan hati, dan kemudian diekspresikan di dalam tindakan amalan shalihan. Nabi Muhammad SAW merupakan teladan dalam pikiran, hati, sikap dan tindakan yang menandakan kecintaan yang ekspresif.

Ketiga, cinta kepada Allah, cinta kepada Nabi Muhammad dan cinta kepada ciptaan Allah merupakan satu sistem kehidupan. Cinta tersebut digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana kecintaan kaum Anshar dan Muhajirin, kecintaan Muhammad SAW kepada Khadijah dan juga istri lainnya, digambarkan dengan cinta kepada orang tua, anak, keluarga dan masyarakat umumnya. Bahkan jika ada seorang anggota jamaah shalat yang suatu ketika absen, maka Nabi Muhammad SAW menanyakannya dan menziarahinya jika sakit. Kecintaan kepada sesama manusia tersebut lalu digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa hendaknya kita menyebarkan salam. Banyak menebar keselamatan.

Jadi, sebagai pertanda awal bahwa kita itu mencintai kepada saudara kita sesama ciptaan Allah adalah dengan mengucapkan salam, baik terhadap sesama manusia bahkan dengan makhluk halus lainnya. Di mana dan kapan saja. “Assalamu Alaina wa a’la

‘ibadillahis shalihin”.

Wallahu a’lam bi al shawab.

ZIARAH KEPADA ORANG BAIK (45)

ZIARAH KEPADA ORANG BAIK (45)

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Bismillahir Rahmanir Rahim.

Pada Bab 45, Syekh Imam An Nawawi menjelaskan sebuah tema yang panjang, yaitu:  “Berkunjung Kepada Orang-Orang Yang Baik, Duduk-Duduk Dengan Mereka, Bersahabat Dengan Mereka, Mencintai Mereka, Meminta Kepada Mereka Agar Berziarah Ke Tempat Kita, Meminta Doa Kepada Mereka, Serta Berkunjung Ke Tempat-Tempat Utama”. Oleh karena itu, maka judulnya saya pendekkan menjadi “Ziarah Kepada Orang Baik”. Hanya untuk memudahkan saja, meskipun di dalam pembahasannya terdapat muatan atas tema kitab ini.

Allah SWT adalah pusat sesembahan atau Rabb yang Maha Esa dan Maha Rahman dan Rahim. Allah itu sangat mencintai atas orang yang baik, orang yang di dalam hidupnya mengabdikan diri untuk kemanusiaan dan keagamaan. Bahkan sedemikian cintanya kepada orang baik itu, maka sesiapun yang mencintai yang ada di bumi, manusia dan alam, maka yang di langit akan mencintainya. Digambarkan bahwa langit adalah tempatnya para malaikat dan tentu Allah digambarkan di Arasy yang juga diasosiasikan dengan di atas langit.

Di antara yang juga sangat diperhatikan oleh Allah SWT adalah orang yang suka berkunjung kepada para ulama, kalau di Jawa disebut Kyai, orang yang terkenal karena kebaikan, orang yang lebih tua dan terkenal karena amalannya yang sangat Islami, dan disunnahkan untuk memohon doanya dan fatwanya tentang kebaikan. Mencintai manusia dan alam dengan memuliakannya merupakan bagian tidak terpisahkan dari ekspressi rasa cinta kepada Allah SWT. Cinta kepada Allah dapat dilihat dari ekspresi keberagamannya yang mencintai manusia dan alam semesta.

Di dalam Alqur’an Surat Al Kahfi: 60-66, dinyatakan: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua lautan, atau aku akan berjalan bertahun-tahun’, maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Maka  ketika mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, ‘bawalah kemari makanan kita. Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini’. Muridnya menjawab: ‘tahukan kamu tatkala  kita mencari tempat berlindung di batu itu, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. Musa berkata: ‘itulah tempat yang kita cari’. Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. Mereka lalu ketemu seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya Rahmat dari sisi kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami, Musa berkata kepada Khidhir: ‘bolehkan kami mengikutimu supaya kamu mengajarkanku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu”.

Kemudian terdapat hadits sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi SAW: “sesungguhnya ada seorang lelaki yang akan berkunjung ke tempat saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah Ta’ala mengutus malaikat untuk menjaganya. Setelah malaikat itu berjumla dengannya, ia bertanya: ‘hendak kemanakah kamu?’ Ia menjawab: ‘saya akan berkunjung ke tempat saudaraku yang berada di desa itu’. Malaikat itu bertanya: ‘apakah kamu merasa berhutang budi sehingga kamu mengunjungnya?’ Ia menjawab: ‘tidak, saya mengunjungi dan mencintainya karena Allah ta’ala, malaikat itu berkata: ‘sesungguhnya saya adalah utusan untuk menjumpaimu dan Allah telah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu”. hadits Riwayat Imam Muslim.

Dari ayat Alqur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW, kiranya dapat dipahami bahwa berkunjung kepada ahli ilmu dan berkunjung kepada saudara, sahabat, orang yang lebih tua, dan orang yang amalan ibadahnya baik itu mendapatkan balasan pahala oleh Allah. Orang yang berjunjung tersebut dicintai oleh Allah. Jika manusia mencintai manusia lain karena Allah maka Allah akan mencintainya.

Dari penjelasan tersebut, dapat kiranya diperdalam dalam tiga hal, yaitu:

Pertama, Allah sangat mencintai orang yang melakukan kebaikan yang berupa saling berkunjung ke rumah. Kunjungan ke rumah tersebut karena Allah dan bukan urusan keduniawian semata. Tentu boleh berdiskui tentang urusan duniawi akan tetapi urusan duniawi yang ada keterkaitannya  dengan urusan ukhrawi. Misalnya mendiskusikan tentang relasi social, ekonomi dan urusan  lainnya tetapi terdapat di dalamnya upaya untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama. Nabi Musa AS mengunjungi tempat pertemuan di antara dua laut kepada Nabi Khidhir AS. Sebagaimana ayat di atas bahwa Nabi Musa mengutarakan maksudnya untuk belajar kepada orang yang diberi ilmu hikmah oleh Allah SWT.

Kedua, sebagai perwujudan atas Islam sebagai agama cinta dan kemanusiaan, maka ajaran Islam menganjurkan agar kita mengunjungi para ulama atau ahli ilmu, mengunjungi sahabat-sahabat seiman dan bukan seiman, sahabat karib, orang yang lebih tua yang amalan ibadahnya sangat baik maupun yang cukup baik, dan juga mengunjungi majelis-majelis ilmu yang dibina oleh para ulama. Tetapi dengan catatan bahwa kunjungan tersebut tidak dengan niat duniawi tetapi niat yang ada kaitannya dengan syiar Islam dan untuk memahami dan menjalankan ajaran Islam. Janganlah kita berkunjung kepada orang lain untuk kunjungan kemungkaran.

Ketiga, sekarang kita berada di era digital atau era virtual. Banyak yang menafsirkan bahwa silaturahmi vertual sudah cukup. Melalui media social, misalnya WhatsApp, atau face book, bahkan Instagram sudahlah cukup. Bagi mereka bahwa kehadiran secara virtual yang tidak hanya suara tetapi juga fisik virtual sudah memadai. Tentu hal ini bisa benar, jika memang ada sebab yang membolehkannya. Misalnya pada masa pandemi Covid-19,  yang harus social distancing atau physical distancing, atau tempat yang secara ekonomis tidak terjangkau, maka silaturrahmi virtual memang diperkenankan. Akan tetapi jika secara ekonomi, area dan peluang bisa melakukan silaturrahmi secara fisikal tentu sangatlah utama.

Dengan demikian, memuliakan para ulama, para senior, kerabat dan sahabat-sahabat terdekat dengan cara mengunjungi rumahnya adalah keutamaan tindakan di dalam Islam. Oleh karena bagi yang dapat melakukannya karena Allah, maka tentu disediakan pahala yang pasti oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bi al shawab.