• January 2019
    M T W T F S S
    « Dec    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  

Prof. Dr. Nur Syam, M.Si

(My Official Site)

RELASI MANUSIA DAN LINGKUNGAN

Pagi ini, 29/06/2010, saya memperoleh kesempatan untuk menjadi narasumber dalam acara Eco-Pesantren yang diselenggarakan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup di Kabupaten Pasuruan. Saya tentu sudah beberapa kali terlibat di dalam acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Negara Lingkungan hidup dalam tema seperti ini. Di Bangkalan, Surabaya dan Pasuruan ini. Tetapi rasanya selalu ada yang baru yang harus disampaikan dalam kerangka program Eco-Pesantren. Selain pesertanya yang khas, yaitu para pengelola pesantren –kyai atau ustadz—juga para agen pengembang lingkungan di masyarakat dan di sekitar pesantren.

Relasi manusia dan lingkungan adalah hubungan yang timbal balik dan simbiotik mutulisme. Saya sebut sebagai timbal balik dan simbiotik mutualisme karena manusia hidup di alam lingkungan hidup dan alam sebagai lingkungan hidup juga membutuhkan manusia untuk pelestariannya. Jadi, manusia butuh alam untuk kehidupannya dan alam juga membutuhkan manusia untuk pelestariannya.

Manusia memang dijadikan oleh Allah sebagai khalifah atau pengganti atau yang menggantikan. Allah menjelaskan di dalam surat al Baqarah (30), berbunyi: “wa idz qala rabbuka lil malaikati inni ja’ilun fi al ardhi khalifah”. Yang artinya: “dan ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, sesungguhnya aku akan menciptakan khalifah di dunia”. Malaikat ketika itu tidak sepakat. Dan kemudian  bertanya kepada Allah swt, apakah makhluk itu tidak akan melakukan kerusakan di bumi  dan menumpahkan darah, padahal kami, para malaikat selalu melakukan pujian. Akan tetapi Allah menyatakan bahwa Dia  lebih mengetahui apa yang tidak malaikat ketahui”.

Di dalam konsepsi Islam, maka  terdapat dua  fungsi manusia di dalam kehidupannya. Pertama, adalah sebagai abdun atau hamba Allah dan kedua sebagai khalifah atau wakil Allah di bumi. Di dalam fungsi pertama, maka fungsi manusia adalah untuk melakukan pengabdian dan di dalam fungsi kedua sebagai khalifah maka manusia memiliki fungsi amanah, tanggungjawab, wewenang, kebebasan menentukan pilihan dan kreativitas akal. Jika sebagai hamba,  maka yang lebih besar adalah untuk kepentingan individunya, maka sebagai khalifah maka fungsi manusia lebih banyak untuk di luar dirinya, manusia lain dan alam seluruhnya.

Fungsi manusia di dalam kehidupan ini adalah sebagai Abdun atau hamba Allah. Di dalam konsep abdun, maka manusia berhubungan dengan Tuhan yang Rabb bukan ilah. Ilah yang kemudian di tambah dengan al ma’rifat maka menjadi Allah, artinya adalah Tuhan yang jauh berada di langit suci yang tidak tersentuh, yang transcendental. Maka, yang yang Ilah tersebut harus diturunkan menjadi Tuhan yang memelihara, yang memberi rizki, yang mengatur kehidupan alam dan manusia dengan sifat kasih sayangnya. Yang rahman dan rahim. Dalam bahasanya, Hasan Hanafi disebut sebagai Tuhan yang hadir di bumi dan bukan yang berada jauh di langit yang suci.

Di dalam fungsi manusia sebagai hamba, maka ia sama dengan alam lainnya. Bukan manusia yang menguasai alam akan tetapi yang hidup bersama-sama dengan alam dan memanfaatkannya secara memadai dengan mempertimbangkan kelestariannya. Seluruh ciptaan Allah adalah hambanya. Manusia dan alam sekitarnya dan juga makhluk lain ciptaannya adalah hambanya yang selalu menyucikan namanya, yang memujinya. Dengan demikian, fungsi manusia dalam relasinya dengan Tuhan yang Rabb adalah sebagai hambanya atau abdun.

Manusia memang diciptakan Tuhan sebagai cetak biru sebaik-baik ciptaan. Sebagaimana firmannya: “sesungguhnya Aku ciptakan manusia sebagai sebaik-baik ciptaan” atau laqad khalaqna al insane fi ahsani taqwin”. Akan tetapi jika manusia tidak menjadi hamba atau abdun terbaik, maka derajat tersebut dapat diturunkan menjadi sejelek-jelek ciptaan. Atau secara konseptual disebutkan: “tsumma radadnahu asfala safilin”.

Kemudian, fungsi kedua adalah sebagai manusia yang memiliki relasi dengan sesamanya dan alam lingkungannya.  Di dalam hal ini, maka konsep yang paling baik adalah tentang shalat. Allah memerintahkan manusia untuk melakukan pengabdian dan salah satunya adalah melalui shalat. Shalat menggambarkan relasi kemanusiaan dan alam yang sangat baik. Shalat diawali dengan menyebut nama Tuhan yang maha agung dan kemudian diakhiri dengan salam atau menebar keselamatan. Tidak cukup hanya dengan ucapan tetapi juga dengan tindakan, menoleh ke kiri dan ke kanan. Maknanya adalah manusia harus menebarkan Islam yang rahmatan lil alamin. Tidak hanya mengabdi kepada Tuhan yang maha Kuasa tetapi juga mengabdi kepada keselamatan dan perdamaian. Dalam konsepsi yang akademis dan praksis disebut sebagai saleh ritual dan saleh social.

Islam merupakan ajaran yang sangat lengkap. Tidak hanya mengatur hubungan dengan Tuhan melalui sistem peribadahan, akan tetapi juga mengatur tentang hubungan antar sesama manusia dan alam lingkungannya. Di dalam konsepsi al-Qur’an disebut sebagai hablun minallah dan hablun minan nas. Manusia harus selalu menjaga hubungan baik dengan Tuhan sebagai Rabb dan Ilah akan tetapi juga menjaga hubungan baik dengan sesame manusia. Konsepsi Tuhan yang memelihara, memberikan kasih sayang, yang maha adil dan sebagainya harus menjadi bagian dasar dari sifat manusia dalam berhubungan dengan sesama manusia dan juga alam lingkungannya.

Maka, yang sebaiknya adalah tidak hanya hablun minallah dan hablun minan nas saja akan tetapi juga ditambah dengan konsep hablun minal alam. Yaitu menjaga hubungan baik dengan alam. Manusia harus bersahabat dengan alam. Agar alam memberikan kasih sayangnya maka manusia juga berlaku kasih saying kepada alam. Manusia tidak boleh semena-mena dalam mengekplorasi alam untuk kepentingannya. Manusia harus menjaga ekosistem alam agar lestari kehidupannya.

Dan jika itu bisa dilakukan, maka kehidupan di dunia akan selamat dan damai. Bukankah kerusakan alam adalah disebabkan oleh perilaku manusia. Jika ingin selamat, maka hendaknya manusia menjaga alam sebagaimana menjaga dirinya sendiri.

Wallahu a’lam bi al shawab.

Categories: Opini
Budi Ayani at 16:56 on 25 August 2017

Salam prof.
Menurut saya, konsep ekologi ini tidak begitu berkembang di dalam masyarakat Islam.
Baik secara keilmuan mau gerakan sosial.
Sekali lagi, menurut saya Islam tidak memiliki sistem yang kuat sehingga menjadi tradisi dalam masyarakatnya sendiri.

Nur Syam at 04:58 on 14 December 2018

islam memiliki seperangkat ajaran tentang lingkugan. banyak ayat dan hadit yng menjelaskannya. hanya memang hrs diakui banyak ajaran yang belum dijadikan sebagai gerakan. thans.